Ramadlan di Indonesia

Tahun ini Insya Allah saya pertama kali melewatkan Ramadlan full 1 bulan di Indonesia. Terakhir puasa 1 bulan penuh di Indonesia tahun 96, setelah itu saya tinggal di Jepang. Kemarin sore menjelang buka puasa, saya jalan-jalan “ngabuburit” di Jalan Sabang. Di hari biasa, jalan Sabang ini pusat wisata kuliner, dengan tenda-tenda warung yang bertebaran di sana-sini. Ada gudeg, soto, sate, roti canay, sampai kue puthu. Kalau biasanya warung-warung itu buka mendekati jam 7 malam, kemarin sore-sore sudah ramai. Mungkin berlomba-lomba menyediakan santapan buka puasa ya. Yang menarik dan menyolok, dimana-mana orang jualan kolak dan es buah πŸ˜€ Sulit banget dapat giliran, karena nggak ada sistim antrian di sini…he he πŸ˜€

Saya dan teman-teman buka puasa di kantor rame-rame. Di hari pertama buka puasa, kami beli ayam goreng. Sedangkan untuk sahur-nya, kami ramai-ramai masak ayam nugget. Yaa…cari praktisnya saja. Rasanya seperti kembali ke masa-masa kuliah, deh. Bareng-bareng beramai-ramai belanja ke Hero di lantai bawah sarinah (cowok semua lho), dan diolah ramai-ramai di dapur.

Satu pemandangan yang khas di Indonesia, tapi aneh bagi saya, adalah banyak restoran-restoran yang menutup jendela kaca-nya dengan kain, sehingga orang luar tidak bisa melihat ke dalam. Barangkali maksudnya untuk menghormati mereka yang puasa. Pendapat saya, rasanya tidak mengapa kalau kain itu dibuka saja. Masak sih orang puasa tersinggung, kalau melihat orang lain yang tidak puasa (non muslim atau muslim yang sedang berhalangan puasa) makan dan minum. Rasanya nggak apa-apa deh.

Jumat sore saya pulang ke Solo naik kereta Bima. Berangkat dari Gambir pk. 17.00. Begitu tiba di dalam, ternyata ada kejutan lagi : pramugara dan pramugari semua memakai peci dan jilbab. Acara TV di kereta juga menyiarkan lagu-lagu muslim. Yang geli ada juga lagu rock, tapi lyricnya “Aku takut neraka…aku takut nerakaa…”. Aduuh…telinga serasa dikilik-kilik. Wah….nggak match nih. Mestinya kalau mau muter lagu yang nuansa Islami mendekati buka puasa gini, yang lembut-lembut ala lagu-lagu Bimbo lah. Jangan yang model rock kayak gini. (^^;

Mendekati bedug Maghrib, para pramugara dan pramugari berpeci dan berjilbab menawarkan hidangan kolak. “Silakan pak, silakan bu”, sapanya ramah. Tapi tentu saja nggak gratis. Harganya Rp 5 ribu,-. Lumayan enak rasanya. Setelah kolak, kami diberikan hidangan malam : nasi, gudeg, telur, kerupuk, pisang, aqua daaan…. goreng ikan (nggak match nih menunya). Kalau hidangan nasi ini servis, jadi tidak perlu membayar lagi karena sudah termasuk di harga tiket (Rp 200 ribu, dari Jakarta ke Solo). Secara keseluruhan, saya puas menikmati perjalanan kereta di bulan Ramadlan ini, kecuali satu hal: AC nya terlalu dingiiiin !!!!

Hmm…Ramadlan memang menyulap suasana Indonesia menjadi serba Islami. Seandainya saja perubahan busana dan suasana ini juga diikuti oleh perubahan akhlak, alangkah baiknya. Dan seandainya perubahan ini bukan hanya di bulan Ramadlan, melainkan sepanjang tahun, barangkali korupsi dan kriminal bisa jauh berkurang. Apa baiknya tiap bulan dibuat kayak Romadlon ya ? Tapi entar tiap sore ketemu kolak terus dong πŸ˜€

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Ramadlan di Indonesia

  1. Audi berkata:

    FYI, di Padang lebih parah lagi. Restoran2 harus tutup kalo siang hari. Kalo bandel, bisa dirazia.

    Apa fungsinya puasa kalo nggak ada godaannya. Kan yang bagus itu kita tetep bisa menahan diri untuk tidak makan ketika didepan kita ada banyak makanan enak. ya toh.

    Orang miskin nggak makan itu biasa, yang luar biasa adalah orang yang punya uang tapi bisa nahan nafsu.

  2. Sang Ksatria berkata:

    mas ati2 makannya lho … inget kadar korestelor-nya lho πŸ™‚ … met ibadah di bulan Romadlon,salam dari solo dan smansa

  3. %Audi :
    Aduuh…koq sampai segitunya, ya. Padahal adakalanya restoran itu diperlukan juga, misalnya buat orang muslim yang sedang dalam perjalanan dsb. Mestinya tidak perlu sampai segitu.
    %Satrio(cyberknight):
    Matur nuwun mas Satrio. Saya emang harus hati-hati nih dalam hal makan memakan. Jangan sampai makan meja, kursi, dsb. ha ha ha πŸ˜€ Salam untuk adik-adik di SMANSA. Saya kadang sholat Jumat di sana. Minggu ini mungkin juga sholat jumat di SMANSA.

  4. Ping balik: Hormatilah Yang SedangTidak Berpuasa « Sains-Inreligion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s