Tips mencari tema penelitian

Sering saya menerima pertanyaan untuk mencarikan tema riset untuk tugas akhir. Saya agak heran, mengapa pertanyaan tsb. diajukan kepada saya ? Di Jepang, untuk menentukan tema riset, kita harus banyak berdiskusi dengan dosen pembimbing. Semenarik apapun tema yang kita ajukan, kalau tidak disetujui beliau (misalnya karena di luar kepakarannya) tentunya tidak akan dapat kita kerjakan. Jadi seharusnya tema riset tsb. bukan ditanyakan ke saya, melainkan didiskusikan dengan dosen pembimbing ybs.

Bagaimana kita mencari tema riset yang baik ? Berikut adalah beberapa tips yang pernah saya terima dari dosen pembimbing, saat saya masih kuliah dulu.

  1. Penentuan minat
    Tentukan minat anda pada tema apa ? Anda akan lebih mudah bekerja, jika object yang dikerjakan adalah sesuatu yang disukai.
  2. Paper Survey
    Galilah sebanyak mungkin informasi apa saja yang telah dilakukan para peneliti di dunia mengenai tema tersebut. Saran sensei saya dulu, dalam sehari minimal bacalah 10 paper (journal maupun conference proceeding) secara cepat (sekedar tahu isinya secara global) dan cukup 1 buah saja secara serius (yang paling diminati). Dalam membaca itu perlu diiringi dengan sikap kritis, karena tiap paper selalu mengandung kelemahan. Katanya, anda mungkin boleh saja 70% percaya pada data yang disajikan (ini sih apa boleh buat), tetapi jangan lebih dari 50% mempercayai diskusi yang di bangun di dalamnya. Semakin piawai seseorang, semakin pandai dia mengemas diskusi itu sehingga sulit ditemukan kelemahannya. Kalau dalam tema yang anda tekuni, anda bisa memakai 40 an referensi (tentunya yang signifikan dan mencerminkan perkembangan terbaru), rasanya paper yang akan anda tulis akan sulit untuk direject, karena anda menguasai betul kondisi terkini mengenai riset tsb.
  3. Temukan satu masalah baru (originality) yang belum dikerjakan oleh lain orang, atau yang belum terselesaikan dengan memuaskan.

Di lab. tempat saya belajar dulu (Iwata Laboratory), proses tsb. sama, baik untuk level S1, S2 maupun S3. Yang membedakan umumnya pada porsi keterlibatan dosen pembimbing, atau dengan kata lain level kemandirian mahasiswa ybs. Untuk level S1 di Jepang, biasanya mereka membantu riset senior-nya (S2, S3 atau riset professor itu sendiri). Level S2 biasanya sudah disuruh mulai belajar mandiri. Tahun pertama biasanya dipakai untuk studi preliminari, dan mencari-cari tema, sedangkan tahun kedua program master sudah harus fokus ke arah satu tema. Kalau untuk S3, nggak ada ampun lagi, anda harus bekerja sendiri, dan semoga saja bisa berhasil. (^^;

Untuk menyelesaikan tugas akhir S1 di universitas Jepang, biasanya diperlukan waktu 1 tahun, yaitu di tingkat IV (semester 7 dan 8). Di beberapa perguruan tinggi, mereka men-siasati dengan mengalokasikan waktu yang lebih lama : 2 sampai 3 tahun. Mahasiswa tingkat II atau tingkat III sudah mulai bergabung dengan salah satu laboratorium professor yang bidangnya paling diminati. Pada tahun pertama di lab., mata kuliah yang diambil diarahkan agar bersesuaian dengan tema riset yang akan dikerjakan. Misalnya saja kalau tergabung dengan lab. yang bekerja di bidang image processing, mereka diarahkan untuk mengambil matakuliah image processing, pattern recognition, dsb. yang biasanya diajarkan sendiri oleh professor pemimpin lab. tersebut. Dengan menerapkan strategi ini, diharapkan mahasiswa itu cukup waktu untuk menyiapkan ilmu-ilmu dasar yang diperlukan untuk mengerjakan riset tugas akhir-nya.

Saat saya mengajar di Chukyo University, mahasiswa mulai bergabung di lab. sejak awal tingkat III. Saat itu saya membantu di laboratorium Prof.Hasegawa, yang memfokuskan risetnya di bidang image processing. Mahasiswa tingkat III di lab. beliau, dididik dengan cara rinkoh, membaca dan menelaah bersama buku image processing, benar-benar line to line. Buku yang kami “kunyah” adalah tulisan Prof.Toriwaki, salah seorang pioneer image processing dunia, yang sebenarnya adalah dosen pembimbing Prof. Hasegawa saat beliau masih menjadi mahasiswa. Tulisan prof. Toriwaki sangat apik, dan padat makna. Untuk memahami satu paragraf, kadang diperlukan waktu yang lama, karena kalimat yang dipakai sangat dalam dan padat. Kata beliau, saat menulis buku itu kadang perlu waktu berjam-jam untuk membuat satu kalimat…….Wow….memang beliau seorang perfeksionis ! Seminar lab. berlangsung sekitar 4 jam, dilanjutkan dengan latihan programming. Selain rinkoh yang dikerjakan anak-anak tingkat III, tiap hari Kamis malam, semua anggota lab. berkumpul untuk mendengarkan perkembangan kemajuan riset anak tingkat IV. Jadwal seminar berlangsung sejak pk.19.00 malam, dan kadang selesai esok harinya. Begitulah kehidupan laboratorium Prof.Hasegawa. Tentunya tidak semua laboratorium di Jepang berpola yang sama, tetapi yang jelas kegiatan diskusi mingguan adalah hal yang lazim terlihat di laboratorium Jepang. Dengan memanfaatkan team-work yang baik, mereka dengan cepat mencapai kemajuan dan menguasai perkembangan terbaru dalam satu bidang keilmuan.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di kuliah, research. Tandai permalink.

6 Balasan ke Tips mencari tema penelitian

  1. yudi berkata:

    satu yang penting:originality/novelty. satu yang mudah ditulis, tapi amat sulit dicari.

  2. novi berkata:

    pak anto, saya ingin riset ttg antobento. mohon bimbingan ibu ine … hehehe

  3. donydw berkata:

    Saya coba menambahkan, kontribusi juga perlu diperhatikan. Maksud saya, kontribusi apa yang diharapkan dari hasil riset tsb terhadap literatur keilmuan atau dunia praktis. Juga tingkat kesulitan riset yang dimaksud dan jangka waktu yang dibutuhkan untuk melakukan riset yang bersangkutan.

  4. % Yudi
    Setuju 100% mas. “Menyelesaikan masalah itu cukup satu orang, tetapi menemukan masalah yang baik itu butuh kolaborasi, lebih dari satu orang.”, begitu yang pernah saya baca.

    % Novi
    Sip deh, mbak. Kapan kami diundang ke Jepun ? he he

    % Dony
    Thanks atas tambahannya mas. Benar yang ditulis mas Donny. Kalau S3-nya studi di Jepang, sebaiknya setting masalahnya jangan yang terlalu sulit untuk diselesaikan dalam 3 tahun. Soalnya siswa tsb. dikejar target publikasi (tergantung konvensi di lab. ybs.). Baru kalau target sudah tercapai, bisa agak leluasa men-set masalah yang agak lama jangka waktu penyelesaiannya.

  5. ime berkata:

    keren.. saya juga lagi bingung,, pa lagi kalo cari teori ato jurnal di internet bingung milahn nya

  6. sapto berkata:

    saya saat ini sedang menyusun proposal tugas akhir. apa bapak punya referensi-2 tentang SVM. mohon bantuannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s