Mengatur rumah

Renovasi rumah saya di Solo sudah hampir selesai. Atap yang semula bengkok sudah diperbaiki. Kayu ujung atap yang semula mengkhawatirkan, sudah diganti dengan yang baru. Setelah diturunkan baru ketahuan kalau rapuhnya sudah sedemikian parah. Maklumlah, rumah kami ini rumah tua yg masih asli seperti saat dibangun tahun 79. Di sana-sini kayunya sudah banyak yang rapuh, tergerus air talang yang bocor dan usia. Selain atap yg jadi prioritas utama, kamar mandi juga saya bongkar. Bak mandi dihilangkan, dan sebagai gantinya dipasang shower. Shower masih pakai air dingin, belum berani pakai water heater. Khawatir kalau di rumah terlalu banyak tabung gas. Kalau listrik, selain makan watt, juga resikonya lebih tinggi daripada gas. Kamar mandi yang sempit berukuran 2×2 dibagi dua dengan penyekat kaca. Satu untuk closet, satu untuk mandi. Jadi closet tetap kering, tidak terkena cipratan air. Agar hemat tempat, pintu diubah menjadi pintu geser. Alhamdulillah teman yang menangani renovasi ini mampu mewujudkan keinginan kami, sehingga tempat yang sangat sempit ini bisa dioptimalkan.

Semalam tukang korden datang dan memasangkan korden yang kami pesan. Warna korden ruang tamu mengikuti kesukaan saya biru benhur. Untung Ine  setuju. Untuk ruang dalam, sebenarnya mau mencari warna hijau tua yang setara dengan biru benhur, tetapi yang ada cuma hijau muda. Jadi terpaksa warna itu yang kami pasang. Sebenarnya nggak match sih. Almari kami warnanya biru benhur, sofa warna hijau. Milih warna memang membingungkan.

Untuk tembok, sebenarnya Ine pengin memasang wall paper yang ada gambar lucu-lucu (Pooh, dsb). Di Indonesia wall paper mahalnya minta ampun, padahal di Jepang dulu ada dijual di toko 100 yen. hiks….masak harus ke Jepang lagi buat beli wall paper di 100 yen (^^;

Sejak kembali ke tanah air Maret 2007 yll. baru kali ini saya punya kesempatan banyak untuk mengatur ulang barang-barang pindahan. Mengatur ulang barang-barang pindahan itu memang sangat melelahkan. Sering saya berhenti lama, untuk memikirkan kemana harus menempatkan barang ini dan itu, karena tempat kosongnya terbatas. Yang paling sulit adalah penempatan buku. Seorang teman menyarankan agar buku-buku saya ditaruh di kamar tamu, jadi sekaligus sebagai asesori. Saran ini kami ikuti. Hanya saja masalah berikutnya adalah mencari rak buku yang sesuai. Buku saya cukup banyak. Kalau ditotal dengan pindah kedua (th.2003) dan pindah pertama (th.95) rasanya lebih dari 500 jilid. Rak yang ingin saya buat, kira-kira setinggi 2 meter, lebar 2 meter. Dulu pernah tanya ke toko Jempol, kira-kira biayanya Rp 1.5 juta. Tetapi semalam Ine usul ide lain, bagaimana kalau membuat rak yang mirip di perpustakaan Aichi, atau di meidai toshokan. Rak buku yang dimaksud, sama seperti rak buku umumnya, hanya saja ada tambahan rak “gantung” di depan ukuran separuh, yang bisa digeser ke kanan-kiri. Jadi tempat bisa dihemat, dan kapasitas bisa ditingkatkan. Wah, bagus juga. Saya sih setuju saja. Cuma siapa kiranya yang bisa membuat rak seperti itu di sini ? Kalau di Jakarta mungkin ada, tapi Solo kan kota kecil. Saya belum pernah lihat rak seperti itu di perpustakaan di Indonesia. Di Jepang-pun nggak banyak. Rak buku lab. saya di Chukyo cenderung sederhana dan konvensional. Kata Ine, kalau nggak kita bikin, orang nggak akan kepikiran punya barang seperti itu mas. Ya udah. Ikut saja deh. Semalam Ine corat-coret menggambar, entah sepertinya sedang mendesain almari impian tsb. 😀 Entar saya konsultasikan ke teman yang menangani renovasi ini. Sepertinya teman saya tsb. kreatif dan banyak akal untuk mewujudkan ide-ide aneh. Atau barangkali Ine punya potensi desain hal-hal yang aneh tapi praktis ? Entahlah. Tapi saya kira kalau diseriusi, entar bisa seperti mbak Dina -teman kami di Jakarta- yang sekarang sukses jadi pengusaha baju muslim. Awalnya dari hobby corat-coret seperti itu. Semoga saja ya.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di keluarga. Tandai permalink.

4 Balasan ke Mengatur rumah

  1. saniroy berkata:

    Lho Mas Anto, katanya produk Daiso (100 Yen) sudah masuk di Indonesia? Oya, slamat siap2 Lebaran Mas. Maaf lahir batin. Mdtk, MSR

  2. novi berkata:

    pak anto, daiso ada di jakarta tapi harganya 17rb (atau 17,500? lupa :D). ada di mal artha gading dan di blok m (tau supermarket papaya? daiso ada di lt atasnya). yg di blok m ini tempatnya kecil, tidak sebesar yang di mal artha gading.

    btw, selamat lebaran. mohon maaf lahir dan batin.
    sun sayang buat tika dan salam untuk ibu ine. saya masih menunggu bimbingan riset antobentonya .. hehehe.

  3. rera berkata:

    terimakasih informasinya..

  4. wah asik dg rmh barunya ampe lupa dg blognya hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s