Yokei na o sewa

“yokei na o sewa” adalah kata-kata pedas Jepang yang berarti lebih kurang “ngapain sih ribut2 ngurusin saya ?”. Misalnya saat seseorang merasa terganggu privasi-nya oleh pertanyaan/pernyataan yang berlebihan. Kalau di Jepang, orang sangat menghormati privasi orang lain, di Indonesia budayanya agak lain. Orang lebih terbuka sehingga terkesan lebih akrab, walau kalau berlebihan adakalanya membuat orang terganggu.

Saat saya naik kereta minggu yll. saya berbekal hoka-hoka bento buat berbuka puasa. Orang yang duduk di sebelah saya saat melihat saya membawa kotak hokaben tsb. kemudian bertanya “Mas, puasa ya ?” “Iya“, jawab saya. “Mas, hoka-hoka bento itu belum dapat sertifikat halal lho“. Kaget saya. Bukan karena hoka-hoka bento itu belum dapat sertifikat halal, melainkan karena koq beraninya org. tsb. nyeletuk seperti itu. Emangnya gue pikirin, gitu kata saya di dalam hati. Tapi saya jawab saja, “Oh iya ya. Tapi saya nggak strik koq. Saya sih tetap makan saja“. Begitu saya jawab, dan selesailah percakapan kami.

Ada tiga hal yang tidak tepat dari sikap ybs. Pertama, nggak pakai basa-basi langsung berkomentar terhadap bawaan seseorang yg belum dikenal. Lain halnya kalau yang berkomentar itu orang yang sudah kenal baik dengan saya. Kedua, ngapain juga ngurusin bawaan orang lain. Rasanya nggak nyaman kalau ada orang yang meneliti (melihat dg teliti) barang bawaan saya, tanpa seizin saya. Seperti orang melongok-longok ke dalam rumah saya dari jendela. Gak sopan bener. Ketiga, kalau toh belum dapat sertifikat halal MUI, apakah haknya mengingatkan saya ? Toh makanan itu belum tentu juga haram ? Beda kalau saya membawa daging babi, atau bir, sake dsb. yang jelas haram dari segi syariat. Boleh deh berkomentar. Terlebih lagi, batas halal-haram yang dipegang tiap orang berbeda. Saya berprinsip selama tidak jelas barang itu haram, nggak ada salahnya saya makan. Saya tidak perlu meneliti satu persatu asal usul makanan itu secara berlebihan, karena akan menyulitkan diri sendiri. Sebenarnya sih lain waktu saya perlu menjawab lebih tangkas, dengan langsung membuka kotak bento itu kepada ybs. dan tanya langsung : “Mas, tolong tunjukkan mana dari lauk ini yang haram, dan kenapa bisa begitu ?

Setelah waktu berlalu, saya lirik ke kiri, ternyata dia sedang asyik membaca komik. Entah komik m****i ataukah yang lain, saya nggak tahu dan nggak pengin tahu. Sebenarnya saya gatal pengin ngomong ke dia : “Mas, komik itu belum dapat sertifikat halal lho

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

7 Balasan ke Yokei na o sewa

  1. novi berkata:

    wah tumben nih kok pak anto sewot πŸ™‚
    berpikir positif aja pak, mungkin maksud orang itu baik ingin mengingatkan saudaranya sesama muslim bahwa makanan dari hoka-hoka bento itu diragukan kehalalannya.
    selamat lebaran ya pak, mohon maaf lahir dan batin πŸ™‚

  2. donydw berkata:

    He..he..itu namanya “Gyaku Culture Shock”. Ini karena Mas Anto pernah lama tinggal di Jepang. Tapi kalau enggak pernah tinggal di Jepang, sepertinya akan bereaksi biasa-biasa saja. Pengalaman teman Jepang saya lebih parah lagi. Ketika naik bis, orang sebelahnya tanya, “Kerjanya dimana, gajinya berapa”. Dalam hati dia bilang “Nanda Koitsu”.
    Ok, selamat hari raya idul fitr, mohon maaf lahir bathin.

  3. Mbak Novi
    Maaf ya..bikin kaget. He he he. Lebih baik diungkapkan daripada dipendam. πŸ™‚

    Mas Doni,
    Benar juga mas. Barangkali ini culture shock juga. Saya sering juga dapat pertanyaan yang sifatnya pribadi dari orang yang baru saja kenalan, termasuk juga gaji (^^;

    Buat kel. mbak Novi & kel. mas Doni,
    Mohon maaf lahir batin. Taqobalallahu minna wa minkum, dari kami sekeluarga.

  4. gunawan berkata:

    mas anto,
    gajinya berapa di BPPT πŸ™‚

    (membiasakan diri, supaya ngga ikutan kena kultur sok saat pulang πŸ™‚

    selamet lebaran utk. mas anto, mbak ine, tika dan keluarga semua. mudah-mudahan diterima puasa kita.

  5. Sang Ksatria berkata:

    hee..kalo ditanya gaji mah .. nda usah lama2 di Jepang.Orang Solo asli aza risih gitu.kalau menurut saya,orang itu belum mengenal Pak Anto,jd blum tau kalo Pak Anto tuh lebih strik,coba..masa apa ada yang rutin mo wudlu sampe naikkan kaki ke westafel πŸ™‚ https://asnugroho.wordpress.com/2007/04/19/adaptasi-dengan-kehidupan-di-indonesia/

  6. ALx berkata:

    πŸ™‚ Saya juga pernah Pak Anto.Sewaktu saya naek KLM dari changi, di samping saya ada seorang wanita Indonesia (cantiq), kmudian ngomong ke saya, “Pak, matiin dong HP nya…” Dalam hati saya ngomong, ko’ nie cewe ga sopan bener ya nyuruh matiin HP saya..Sebenarnya saya jengkel, karena nie cewe so’ tau.Padahal saya punya smart phone sudah punya fasilitas flight mode (fungsi HP OFF, sedangkan fungis multimedia masih ON).

  7. yoyok berkata:

    Halal haram itu apa hanya khusus makanan impor yach..? kita kok gak pernah mikiran atau mempermasalahkan makanan di warteg itu halal or haram meski gak ada sertifikat MUI. Meskipun banyak ditemui daging babi dicampur daging sapi di pasar tradisional, bahkan daging kucing or tikus untuk bikin mie ayam.
    Saya tahu hokben subhat dari teman gue, tapi teman gue yang kasih tahu itu sekarang udah makan hokben meskipun gue belum lihat sertifikat halal mui. Tau ach gelap…wakaranai………
    baito houga iidesyou….takusan sara o aratte takusan okane o morau…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s