Ame ame…hujan hujan…

Ame adalah kata Jepang untuk hujan. Selain “ame” ada pula istilah “doshaburi”, yaitu hujan lebat, sebagaimana yang mengguyur Jakarta belakangan ini. Demikian juga di Solo, hujan turun sangat lebat. Alhamdulillah. Hujan ini membuat udara yang sebelumnya panas buanget menjadi sejuk (di rumah Solo, suhu ruangan kadang hampir 34 C).

Siang tadi saat keluar kantor, ternyata masih sedikit gerimis. Segera saya kembangkan payung. Saat mengembangkan payung, saya jadi teringat obrolan dengan teman-teman dulu, saat kami masih belajar bahasa Jepang di Japan Foundation (Summit Mas Jakarta). Katanya, bagi cowok mendingan basah-basah berhujan-hujan daripada bawa payung ! ha ha ha 😀 Rupanya bawa payung itu menurunkan gengsi cowok. Saat itu kami masih berusia sekitar 20. Entah bagaimana anak-anak muda sekarang. Masihkah mereka berpaham demikian ? Semoga saja tidak. Hanya saja, tadi saat di jalan memang jarang saya lihat orang yang membawa payung, baik pria maupun wanita. Sudah sakti semua rupanya.

Sampai di depan Ratu Plaza, saya lihat banyak anak-anak, ibu-ibu dan ada juga kaum lelaki yang membawa payung sambil menawarkan kalau-kalau ada orang yang mau dipayungi. Ojek payung : itu profesi yang muncul saat hujan lebat seperti ini. Berapa tarif-nya ya ? Sayang saya tadi lupa menanyakannya, karena saya bawa payung sendiri, jadi nggak pakai jasa mereka. Di antaranya, terlihat ada beberapa anak perempuan mungkin masih usia SD, berlari-lari berbasah-basah mencari orang yang mau memakai payung mereka. Muramkah mereka ? Oh ternyata tidak. Wajahnya ceria berseri-seri. Sepertinya berhujan-hujan seperti ini sangat menyenangkan bagi mereka. Kalau hujan, saya selalu terbayang, alangkah nikmatnya kalau saat ini berada di rumah, berkumpul bersama keluarga. Usai hujan biasanya terdengar “kung-kong kung-kong” suara katak. Suara katak itu mengisi keheningan suasana, menggantikan derunya kendaraan yang berlalu lalang tiap hari. Sayang sekarang sepertinya populasi katak terdesak oleh berkembangnya perumahan, sehingga suara katak mungkin tidak terdengar lagi di rumah kami. Saat masih kecil dulu, kalau hujan telah reda, kami berlari-lari mengejar laron, menangkapi-nya dan mengumpulkannya. Tapi entah kenapa ya, koq sekarang saya jarang melihat laron lagi. Padahal saya pengin mengajak Tika lari-lari menangkap laron, agar tidak terlalu asyik melihat ultraman di TV.

Tapi hujan bisa juga membawa kesan melankolik, misalnya bagi mereka yang patah hati, seperti yang diungkapkan dalam lagu Minang ini :

Hujan, jikala hujan hati den ibo.
Takana maso kisah nan lamo, maso sapayuang kito baduo
Hujan, mimpi den paneh manganduang hujan
Kironya mimpi manjadi nyato, kasiah tajalin, putuih jadinyo

Ternyata hujan bisa membawa berbagai makna dan suasana, yah

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s