Imunisasi Japanese Encephalistis (Nihon nou-en)

Dian Fitri:

Assalamualaikum Pak Anto,
saya seorang ibu yang sedang mencari informasi ttg imunisasi Japanese B Encephalitis (JE) dan secara tidak sengaja mengunjungi blog bpk(imunisasi Tika).
Kami sekeluarga tinggal di Bangkok dan imunisasi JE termasuk imunisasi wajib. sebelumya ketika bayi kami berusia 5 bulan kami sempat tinggal di Osaka selama 6 bln dan Dr anak di Osaka blm membicaraka imunisasi JE ini. Saya sangat tertarik dengan info anda bahwa sejak Mei 2005 vaksin JE sudah tidak dianjurkan lagi di Jepang. jika bapak berkenan saya ingin penjelasan yang lebih lengkap supaya saya bisa mendiskusikannya dengan Dr anak kami di Bangkok.
terima kasih dan semoga Bpk berkenan menjawabnya.

Jawab:

Ibu Dian Fitri yth.

Wa alaikum salam Wr Wb.

Japanese Encephalistis (JE) dicirikan oleh timbulnya demam sehingga menyebabkan kejang (cramp) dan gangguan saraf. JE ditularkan oleh nyamuk yang menghisap darah babi yang terkontaminasi oleh virus. Statistik melaporkan bahwa kasus JE ditemukan pada rasio 1 di antara 100-1000 orang. Angka kematian diperkirakan berkisar 15%, dan separuh dari yang terkena JE mengalami gangguan saraf. Pada tahun 1960 dilaporkan ada lebih dari 1000 kasus JE di Jepang, sedangkan di th.1992 kasus JE sudah jauh menurun, menjadi kurang dari 10. Tetapi di luar Jepang, hingga th.2007 kasus JE ditemukan lebih dari 10 ribu per tahun, berpusat di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Mungkin itu yang menyebabkan vaksin JE masih diwajibkan di Bangkok. Distribusi penyebaran penyakit ini dapat dilihat di situs wikipedia.

Adapun di Jepang, Vaksin JE memang tidak lagi dianjurkan sejak 30 Mei 2005. Hal ini dikarenakan ditemukan beberapa kasus efek samping ADEM (Acute Disseminated Encephalomyelitis) pada beberapa anak (ADEM adalah inflamasi yang terjadi pada sentral saraf sekitar spinal cord). Berita terkait di situs yomiuri melaporkan, probabilitas munculnya ADEM usai imunisasi JE diperkirakan 1 dari 100. Sebelumnya, sejak tahun 2001, ditemukan 13 kasus ADEM pasca imunisasi JE. Tetapi karena keterkaitannya dengan imunisasi JE tidak jelas, dan juga sebagian besar sembuh setelah demam sesaat, maka kementrian kesehatan Jepang tidak menghentikan, melainkan justru menyarankan agar vaksin JE diberikan (sebelum 2005).

Kebijakan itu berubah setelah pada tahun 2004 terjadi kasus ADEM yang cukup berat pada seorang anak SMP di Jepang. Pada July 2004, anak tsb. mendapatkan vaksin JE. Sebelas hari kemudian dia merasakan sakit kepala, dan merasakan inflamasi pada sentral saraf sekitar spinal cord, bahkan sampai memerlukan bantuan alat pernafasan. Secara medis, memang keterkaitannya dengan vaksin JE belum dapat dipastikan. Tetapi mengingat kondisi ybs. cukup berat dibandingkan dengan kasus-kasus yang ditemukan sebelumnya, maka pemerintah mengumumkan agar menghentikan pemberian vaksin JE.

Vaksin JE yang lebih aman sedang dikembangkan. Saya belum temukan sumber resmi sejauh mana pengembangan vaksin tsb. Tetapi di wikipedia disebutkan: awalnya diperkirakan waktu 1 tahun cukup untuk pengembangan vaksin yang baru. Tetapi karena masih diperlukan berbagai tahap pengujian klinis untuk memastikan keamanannya, diperkirakan masih perlu menunggu 2 atau 3 tahun lagi setelah 2007.

Links:

  1. Situs Infectious Disease Surveillance Center mengenai JE
  2. Japan Times : Japanese encephalitis vaccination halt urged
  3. Yomiuri shimbun: Nihon Nouen Yoboushesshu chuushi
  4. Wikipedia bhs. Jepang

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di living in Japan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Imunisasi Japanese Encephalistis (Nihon nou-en)

  1. Dian Fitri berkata:

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Pak Anto yg budiman,

    Terima kasih atas kesediannya menjawab surat saya di sela kesibukan bpk.

    Informasi dari bpk sangat berharga bagi kami sekeluarga terutama putri kecil kami.

    Walau sangat terlambat kami sekeluarga mengucapkan “SELAMAT ATAS KELAHIRAN ALYA” semoga menjadi anak yang sholehah dan berguna bagi negara & agamanya.

    Salam hangat untuk Tika, Alya dan bundanya.

    Wassalamualaikum.Wr.wb.

    Dian Fitri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s