Mengajar Introduction to Artificial Intelligence

Semester genap akan mulai berjalan sejak pertengahan Maret 2008 yad. Semester ini saya rencana mengajarkan matakuliah “Introduction to Artificial Intelligence” di jurusan IT, semester IV. Langsung di benak saya terbayang buku “AIMA” nya Russel-Norvig ( AIMA: Artificial Intelligence A Modern Approach). Buku ini mungkin salah satu buku teks terbaik dan terlengkap mengenai AI yang diterbitkan relatif baru. Terdiri dari lebih 1000 halaman, edisi keduanya terbit tahun 2003, walau sebenarnya selisih 5 tahun (sekarang kan th.2008) itu cukup signifikan bagi perkembangan suatu ilmu. Materi mengajar, syllabus dsb. banyak terdapat di http://aima.cs.berkeley.edu/ karena buku ini sangat populer. Digunakan lebih dari 1000 perguruan tinggi di 91 negara. Yang saya agak ragu adalah basic mathematics anak-anak apakah sudah siap atau belum ? Kendala yang lain adalah harga buku yang lebih dari $100. Di amazon, harganya saya lihat saat ini $106. Cukup mahal kalau saya wajibkan ke siswa untuk membelinya. Mereka bisa menjerit πŸ˜€

Saat kuliah di Jepang pun, harga tiap buku tidak semahal ini. Seingat saya, harga rata-rata buku sekitar 3000-4000 yen. Kalau satu porsi makan “kenyang” di kantin mahasiswa saat saya masih kuliah S1 dulu sekitar 400 yen, maka harga buku saat itu sekitar 7 s/d 10 kali ongkos makan. Kalau rasio ini diterapkan di Jakarta, dengan asumsi harga makan di Jakarta (kantin kampus) sekitar Rp 15 ribu,- mungkin harga buku teks idealnya sekitar Rp 100 ribu s/d Rp 150 ribu.

Saat di Jepang dulu, saya bisa beli “AIMA” special international edition dg. harga JPY 5000 (sekitar Rp 430 ribu). Kalau nggak salah di Maruzen, deh. Mestinya anak-anak bisa beli edisi jenis ini, yang rasanya terjangkau untuk anak-anak SGU. Ilmu memang mahal, sih. Saya jadi ingat niat saya menulis buku “Pattern Recognition” yang belum kesampaian juga. Sudah lama saya niatkan hal tsb. dan buku itu tidak dijual, melainkan bisa didownload secara free (open contents), biar adik-adik mahasiswa tidak perlu keluar uang sepeserpun untuk membacanya. Kata teman-teman, menulis buku teks, apalagi advanced technologies tidaklah cocok kalau diniatkan untuk mencari keuntungan. Royalti-nya tidak seberapa. Tapi di Indonesia memang dibutuhkan orang-orang “seniman ilmu” yang mencintai profesi mengajar, menulis buku, menyebarkan ilmu, walau mungkin penghasilan & penghargaannya tidak seberapa. Tidak semua hal bisa dinilai dengan uang, apalagi di Indonesia yang intelektualitas belumlah mendapat penghargaan yang semestinya. Mereka mengerjakannya, karena mencintainya.

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di gado-gado, kuliah. Tandai permalink.

5 Balasan ke Mengajar Introduction to Artificial Intelligence

  1. Dini berkata:

    mencintai profesi mengajar, menulis buku, menyebarkan ilmu, walau mungkin penghasilan & penghargaannya tidak seberapa
    ___________________________________________
    setuju sekali dgn tulisan di atas…

    tadi pagi saya searching di google tentang pengajaran bahasa Jepang akhirnya sampai ke blog ini & menemukan banyak tulisan bagus & bermanfaat mengenai bahasa Jepang, budaya dan kehidupannya juga mengenai keluarga..
    TFS…

  2. Dini berkata:

    mencintai profesi mengajar, menulis buku, menyebarkan ilmu, walau mungkin penghasilan & penghargaannya tidak seberapa. Tidak semua hal bisa dinilai dengan uang, apalagi di Indonesia yang intelektualitas belumlah mendapat penghargaan yang semestinya. Mereka mengerjakannya, karena mencintainya.
    ________________________________________

    tulisan bagus..saya setuju sekali, TFS,pak…!

  3. Dini berkata:

    mencintai profesi mengajar, menulis buku, menyebarkan ilmu, walau mungkin penghasilan & penghargaannya tidak seberapa. Tidak semua hal bisa dinilai dengan uang
    _______________________________________
    setuju…TFS !tulisan tulisan di blog ini sangat informatif,saya jadi bisa belajar banyak mengenai budaya Jepang ditinjau dari berbagai sisi..
    γ‚γ‚ŠγŒγ¨γ†γ”γ–γ„γ‚γΎγ—γŸγ€‚

  4. Dini berkata:

    γ‚γ‚ŠγŒγ¨γ†γ”γ–γ„γΎγ—γŸγ€‚

  5. burhan berkata:

    keren banget cita-citanya, pak izin bertanya saya sedang menulis tugas akhir mengenai jaringan saraf tiruan yang akan digunakan untuk kompresi data. bapak punya bahan2nya g?kalau ada, saya berbahagia sekali kalau di kasih bahan2 tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s