Ujian Mahasiswa (1)

Hari ini saya bertugas sebagai observer ujian lisan (OFSE: Oral Final Study Examination) sebuah subject/matakuliah di kampus SGU, sedangkan penguji utamanya adalah dosen yang sebelumnya mengajarkan mata kuliah tsb. Ujian OFSE ini merupakan satu tahapan yang harus dilewati mahasiswa di semester VII, sebelum melanjutkan ke semester berikutnya. Siswa dapat memilih matakuliah yang diujikan dapat dipilih dari beberapa subject yang SKS-nya lebih dari 2. Setelah saya dan dosen penguji masuk ke ruang, seorang staff meminta anak yang dapat giliran pertama untuk masuk ke ruangan. Di meja terletak beberapa amplop tertutup berisi soal yang diujikan. Siswa tsb. kemudian memilih sebuah amplop, dan keluar ruangan untuk mengerjakan soal itu di tempat terpisah. Lima belas menit kemudian, dia masuk kembali dan menjelaskan jawaban dari soal yang diujikan. Total jumlah soal kali ini sebanyak 6 buah untuk tiap siswa. Tanya jawab kemudian berlangsung selama total 30 menit, dan kami memberikan penilaian terhadap jawaban yang diberikan. Nilai akhir adalah rata-rata dari nilai yang diberikan oleh dosen penguji dan observer.

Ujian ini menarik, dan pertama kali bagi saya. Ujian semacam ini, sebatas yang saya tahu, belum pernah saya lihat diterapkan dalam perkuliahan di Jepang. Dalam ujian OFSE terlihat jelas beda antara anak yang menguasai materi tsb. dan yang tidak. Kadang ada juga siswa yang grogi, sehingga suaranya gemetar. Dalam bahasa Jepang dikatakan “masshiro”…putih semua isi kepala (blank). Kasihan juga. Tadi pengin sebenarnya menawarkan kepada ybs. agar minum aqua dulu, agar bisa mengembalikan ketenangannya.

Kelebihan ujian ini adalah mampu menilai kemampuan sesungguhnya dari si anak, dan tidak memungkinkan siswa untuk mencontek dari temannya, karena tiap anak disediakan soal yang berbeda. Yang kasihan kalau ada anak yang kurang persiapan kebetulan mendapat soal yang relatif paling sulit. Akhirnya waktu 30 menit tidak cukup buat menjelaskan semua jawaban, karena tanya jawab berputar-putar pada satu soal yang penjelasannya tidak memuaskan.

Dari sisi dosen, sebenarnya tugasnya tidak mudah, karena harus membuat soal berbeda-beda untuk tiap anak, dan dengan tingkat kesulitan yang relatif sama. Matakuliah ini kebetulan diikuti
oleh 15 siswa, sehingga tidak terlalu merepotkan. Yang payah adalah jika yang mengikuti ujian itu cukup banyak, misalnya 40 siswa.

Saya tidak tahu apakah perguruan tinggi lain di Indonesia ada ujian semacam ini. Tapi saya pernah dengar cerita, di UGM jaman dulu ada ujian lisan juga, kalau tak salah fakultas kedokteran.
Kebetulan dosennya terkenal killer. Siswa semua antri menunggu diluar, dan satu persatu diminta masuk untuk diuji. Tiba giliran seorang siswa, setelah masuk tak berapa lama langsung keluar. Teman-temannya heran, dan tanya apa yang terjadi. Kata siswa itu, “Wah..aku langsung dibilang nggak lulus. Tadi waktu masuk, aku nggak lihat bapak itu ada dimana. Tiba-tiba dari balik tumpukan buku ada tangan yang terjulur. Rupanya itu tangan bapak, yang ada dibalik tumpukan buku. Tanpa pikir panjang, tangan beliau kusambut dan aku jabat tangan erat-erat. Habis itu aku diusir, dan dibilang nggak lulus. Ternyata maksud tangan tadi, beliau minta aku menyerahkan kartu mahasiswa,
bukannya ngajak jabat tangan.”

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di kuliah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ujian Mahasiswa (1)

  1. Arief F Huda berkata:

    wah, menarik juga sistem ujian ini.
    dapat menghindari mahasiswa yang suka nyontek
    dan yang tidak memiliki persiapan dengan baik.
    Tapi kalo mahasiswa 40/ kelas
    dan satu dosen membina 2 kelas atau lebih
    susah juga, ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s