Kesan saya 4 tahun jadi dosen di Jepang (2)

Setelah sampai di Nagoya, saya segera hunting apartemen dan menempati laboratorium saya di Chukyo University. Tempat tinggal saya pilih apartemen yang terletak di Gokiso di kota Nagoya, dengan pertimbangan kemudahan akses ke RS, akses ke pasar, convenient store dan transportasi. Sempat terfikir untuk bertempat tinggal di Toyota, mendekati tempat kerja. Tetapi kalau bertempat tinggal di Toyota, yang kasihan istri saya, karena jauh dari RS langganan kami, jauh dengan tempat tinggal teman-temannya, dan jauh dari keramaian. Dari rumah ke kantor saya tempuh dengan kereta selama 35 menit, turun di stasiun Jousi dan disambung dengan bis sekolah 10 menit.

Kampus Chukyo terletak di tempat yang sepi, jauh dari keramaian dan dikelilingi oleh sawah. Convenient store 24 jam terletak cukup jauh, perlu jalan kaki 15 menit untuk sampai ke toko tsb. sehingga nggak cocok lagi kalau dikatakan sbg. toko yang “convenient”. Satu-satunya alat transportasi ke Chukyo dari stasiun Josui adalah bis sekolah. Masalahnya, bis sekolah hanya jalan sampai sekitar pk.9 malam. Padahal rapat kadang-kadang berlangsung lebih dari pk.9 malam. Saya juga tidak mungkin untuk meneruskan kebiasaan lembur malam di kantor. Dulu waktu masih student, saya sering datang ke lab. tengah malam dan bekerja hingga esok harinya, karena kebetulan rumah saya dekat dengan kampus NIT/Nagoya Inst. of Technology (naik sepeda hanya 10 menit). Tetapi setelah bekerja di Chukyo, mau tidak mau saya harus pulang lebih awal. Atau kalau mau lembur, terpaksa saya harus bermalam di lab.

Di tahun pertama, saya bergabung dengan jurusan Media fakultas Informatika (School of Computer & Cognitive Science). Begitu tiba di lab., saya mendapat banyak sekali dokumen administratif yang harus saya baca, atau isi. Selain mengisi data pribadi, saya juga diminta menyusun hanko (stempel tanda tangan) ke sekretariat fakultas (gakubu-jimushitsu). Ternyata semua sensei (dosen) memang punya hanko yang dititipkan di jimushitsu. Sewaktu-waktu ada dokumen yang harus saya stempel dengan hanko (sebagai ganti tanda tangan), bisa digantikan oleh staf di jimushitsu. Ini sangat membantu kelancaran proses administrasi, karena proses tanda tangan bisa diwakilkan. Tugas berat berikutnya adalah saya harus secepatnya menyusun yosan (rencana pemakaian dana) yang dialokasikan untuk tiap sensei untuk tahun ajaran Heisei 15 nendo (tahun akademik 2003/2004). Dana tsb. berasal dari SPP (gakuhi) siswa, dan dipakai oleh sensei untuk kelancaran proses edukasi. Diantara item-itemnya adalah kikibihin (alat), toshoshiryouhi (buku), shoumouhi (barang habis pakai, seperti CD, kertas, gunting, lem, dsb), dsb. Cukup membingungkan bagi saya, karena belum terbayang bagaimana nanti memanfaatkan dana tsb. Tapi yang jelas, dana itu ditujukan untuk kelancaran proses edukasi. Tidak ada dana yang bisa dipakai sebagai gaji, sebagaimana di Indonesia. Lain padang lain belalang, lain negara lain pula aturannya. Selain gakubu kenkyuhi, ada juga dana kojinkenkyuhi (untuk riset pribadi), uang zemi dsb. Tiap sumber dana memiliki peraturan yang berbeda. Sama-sama membeli buku, misalnya, kalau memakai gakubukenkyuhi, maka buku itu tidak perlu dikembalikan ke kampus setelah dosen keluar atau berhenti bekerja dari Chukyo. Tetapi bila buku itu dibeli dengan dana dari kojinkenkyuhi, maka buku itu harus distempel terlebih dahulu oleh jimushitsu, dan harus dikembalikan ke perpustakaan kampus, saat dosen itu berhenti bekerja.

Hari-hari pertama menempati suatu posisi baru memang menyenangkan. Ruang baru, kesibukan baru, tugas baru, posisi baru. Kegiatan saya selain riset bertambah dengan menghadiri rapat jurusan (kyoujukai), ikut berdikusi dalam meeting rutin laboratorium professor Hasegawa, disamping itu juga melanjutkan riset yang saya lakukan di kampus NIT bersama kohai-kohai saya (kohai=junior) di laboratorium Prof.Iwata.

Di Chukyo, karena rasio sensei sangat sedikit dibandingkan dengan mahasiswa (hal ini sering terjadi di univ. swasta), maka tiap sensei pada level koushi (lecturer) ke atas sudah memimpin laboratorium sendiri. Berbeda dengan perguruan tinggi negeri, yang umumnya memiliki formasi 1 professor, 1 associate professor, 1 atau beberapa lecturer & research associate. Dengan demikian, mau tak mau saya harus belajar bagaimana mengatur keuangan dan administrasi lab., bagaimana menulis email formal berbahasa Jepang dalam komunikasi perkantoran, setting jaringan lab., dsb.

Satu tugas yang semakin dekat : mempersiapkan kuliah di musim panas. Ini adalah pertama kali saya mengajar matakuliah yang saya susun sendiri syllabusnya dalam bahasa Jepang. Agak waswas juga, karena selama ini saya paling lama hanya sekitar 1 jam berbicara dalam bahasa Jepang, yaitu saat defense disertasi doktoral. Lagi pula presentasi riset hanya membicarakan topik secara to the point. Kuliah sangat berbeda. Dalam kuliah, saya bukan melakukan presentasi, harus “bercerita” lebih panjang, memancing siswa untuk aktif berinteraksi dikelas agar terjalin komunikasi 2 arah. Ibaratnya saya harus berperan sebagai tukang cerita, sebagai teman, adakalanya marah-marah dan kadang sebagai pelawak di depan kelas untuk menyegarkan suasana. Semua itu harus dilakukan dalam bahasa Jepang dan tulisan Kanji. Waktunya pun tidak hanya 1 jam, melainkan dua setengah hari terus-menerus dari pk.9 pagi sampai pk.6 sore. Mengapa demikian ? Karena shuuchuu kougi itu adalah kuliah selama semester yang biasanya berlangsung 12 atau 13 kali, dilakukan secara bersambung, sehingga selesai dalam dua setengah hari. Ah..tugas yang berat. Tetapi Yamamoto sensei -kenalan saya- memberi semangat: daijoubu …kitto dekimasu yo ! Pasti kamu bisa ! Yossh…gambarimasho !

(bersambung)

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di living in Japan. Tandai permalink.

4 Balasan ke Kesan saya 4 tahun jadi dosen di Jepang (2)

  1. DenDS berkata:

    ass.wr.wb

    Menarik sekali pak anto….. teruskan ceritanya sampai tuntas ya. Saya selalu liat blog ini tiap hari….. πŸ™‚ jadi mohon diupdate terus ya cerita2nya.

    Wass.wr.wb
    Deden

  2. bahtiar berkata:

    gile bener …. 😦

  3. satya sembiring berkata:

    wah pak DenDS juga mau ke jepang ya hehehe
    atau nge fans dengan blog pak Anto ini. oh ya kayaknya kok seram banget di jepang ya.

  4. norie berkata:

    Inspiratif Pak.
    Tengkyu πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s