Kesan saya 4 tahun jadi dosen di Jepang (3)

(suasana saat break di ruang yang saat itu saya pakai mengajar, y.i. ruang praktikum komputer) 

Mendekati musim panas, persiapan saya untuk mengajar selesai. Ada sekitar 300 slide yang saya buat untuk menjelaskan konsep aplikasi neural network dan metode softcomputing lainnya dalam pattern recognition. Selain slide, saya meminjam video di perpustakaan yang merupakan rekaman acara di NHK berkaitan dengan neuron dan otak.

Akhirnya saat itu tiba juga. Agak dag-dig-dug juga rasanya, dan agak canggung. Suasananya berbeda dengan kalau saya presentasi di lab. Selama ini di lab. saya berhadapan dengan kalangan yang menguasai materi yang saya bicarakan, sehingga presentasi bisa langsung to the point. Tetapi kali ini saya menghadapi anak-anak yang ingin belajar ilmu dari dasar. Jadi saya harus membahas dengan pelan dan dengan asumsi mereka tidak tahu sama sekali materi yang saya sampaikan. Jumlahnya tidak terlalu banyak. Kalau tidak salah sekitar 12 anak. Untuk mengusir kecanggungan saya mengajar dengan suara keras, mondar mandir dari sana ke sini kadang ngajak siswa saya ngobrol. Rupanya itu sangat membantu untuk meningkatkan rasa percaya diri dan penguasaan “medan”.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit saya lewati. Tak terasa 100 menit pun lewat. Memasuki sesi kedua, saya memutarkan video mengenai neuron dan proses informasi di otak. Isi video-nya menarik. Menjelaskan bagaimana reaksi biokimia di membran sel saraf dapat berperan sebagai alat untuk mengolah informasi yang diterima di otak. Anak-anak pun terlihat serius menyimak acara tersebut.

Sesi demi sesi berikutnya alhamdulillah berjalan dengan lancar. Ibarat mesin, kata demi kata mengalir dari mulut saya. Saya merasa confidence, dan menikmati suasana di kelas. Waktu yang tersedia pun kadang terasa tidak cukup untuk menjelaskan konsep yang saya ajarkan.

Satu tantangan yang berat adalah rasa kantuk dan kebosanan yang menyerang mahasiswa. Ini sering menyerang sekitar pk.2 siang, atau sesudah hirugohan (makan siang) di musim panas. Saat itu kadang saya ajak mereka berdiskusi mengenai hal-hal yang ringan, apakah tentang Indonesia, ataukah tentang pengalaman saya saat studi, dsb. Orang itu pasti memiliki rasa bosan, dan selingan itu perlu untuk mengembalikan semangat yang mengendor. Variasi teknik penyampaian sangat penting. Tiap dosen punya trik sendiri dalam hal ini. Ada yang bisa melucu, ada yang mengajak ngobrol ke luar ruangan, ada juga yang dengan main sulap (seperti Pak Eko Indrajit..hahahaha 😀 ). Kalau main sulap saya tidak bisa. Sayangnya saya juga tidak pandai melucu. Pernah sekali sih punya pengalaman pahit, waktu mengajar bahasa Indonesia. Niat hati mau melucu, tapi ternyata murid-murid saya diam saja, padahal saya sudah siap ketawa. Akhirnya saya jadi salah tingkah di depan mereka. Rupanya apa yang saya anggap lucu, belum tentu diterima sebagai hal yang lucu oleh orang lain, apalagi oleh bangsa berbeda, karena konsep kelucuan itu sangat erat kaitannya dengan latar belakang budaya.

Kalau ada anak yang mengantuk atau tertidur, saya biarkan saja, selama tidak mengganggu yang lain (mendengkur misalnya). Saya maklum, mungkin saja mereka kelelahan semalam baito (part time) untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Saya perhatikan, kalau saya mulai bicara tentang “bagaimana cara mendapatkan nilai yang baik”, wajah anak-anak langsung semangat menghadap ke saya dan siap mendengarkan apa yang akan saya sampaikan. Saya coba beberapa kali menyelipkan hal itu, mengulang pembicaraan itu dalam beberapa kesempatan, dan respon-nya selalu sama. Rupanya “nilai yang baik” itu merupakan informasi menarik bagi mereka. Yah, umumnya mahasiswa sama saja sih ya, lebih suka mendapat penjelasan bagaimana mendapat score yang baik daripada mengikuti penjelasan bagaimana mendapat ilmu yang baik…hi hi:D

Dalam materi yang saya sampaikan, agar tidak mengantuk, ada kalanya anak-anak saya minta memikirkan secara matematis masalah yang saya angkat. Misalnya tentang non linearity, XOR dsb. Sebenarnya akan sangat menarik kalau saya bisa menampilkan demo java applet, hanya saja saat itu belum sempat persiapan sampai ke arah itu. Apalagi kalau kuliahnya berkaitan dengan robotics. Ah, saya rasa lebih mudah untuk merangsang perhatian anak-anak ke materi yang diajarkan. Ugoku mono ga areba minna yorokonde kiite kureru no desu ne. Kalau ada sesuatu yang “bergerak”, pasti mereka akan memperhatikan dengan senang hati. Sayang saya tidak dapat menunjukkan sesuatu object menarik yang bergerak bagi anak-anak itu.

Dua setengah hari akhirnya selesai juga. Anak-anak rupanya cukup antusias dan merespon bagus apa yang saya sampaikan. Satu tantangan berat berhasil saya lewati. Pengalaman pertama mengajar ini menjadi modal berharga bagi tugas mengajar yang saya emban pada tahun-tahun berikutnya.

(bersambung)

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di living in Japan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kesan saya 4 tahun jadi dosen di Jepang (3)

  1. ade berkata:

    seberapa besar sih uang semester di jepang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s