Demam, flu, banjir

Selasa pagi saya tiba di Jakarta kembali. Kemarin saya tidak masuk kantor, karena menunggu dulu perkembangan kesehatan Tika. Sejak Jumat yll. Tika flu pilek, demam, dan suhu sempat melewati 40 C. Oleh tante Rusma, diberikan obat penurun panas, pelega pernafasan, dll. Alhamdulillah hari Minggu sudah baikan, tapi saya reserve satu hari lagi di rumah, jaga-jaga melihat perkembangan di hari Senin. Hari Senin Tika sudah baikan, bahkan sudah punya “rencana” : “Bu,…Tika mulai besok mau menabung !” “Kenapa koq menabung, Ka ?” “Tika, mau menabung untuk pergi ke Nagoya”…hahahaha. 😀 Giliran mau berangkat ke Jakarta, Alya yang mulai memperlihatkan gejala flu. Beberapa kali batuk-batuk. Ine pun katanya merasa seperti akan kena flu, tenggorokan sakit. Wah, sepertinya sedang panen flu nih. Agak waswas juga, tapi saya akhirnya berangkat ke Jakarta. Uang di dompet sekitar Rp 190 ribu,- Rencananya mau ngambil di ATM BCA. Saya mampir ke ATM, dan mau ngambil barang Rp 300 ribu an. Waaaks….ternyata saldo tinggal Rp 4 ribu,- Berabe nih. He he he. 😀

Semalam saya naik kereta bisnis Senja Utama. Satu deretan dengan saya ada 3 orang, kesemuanya mahasiswa pasca sarjana sosiologi UI. Senang juga ngobrol-ngobrol dengan mereka. Tempat duduk saya nggak enak sama sekali. Busa nya kayaknya sudah harus diganti, karena bergelombang sana sini. Akhirnya sesuai rencana saya tidur di bawah, menggelar tikar dari kertas koran, dan berbantal guling-nya Tika (kupinjam tanpa sepengetahuan Tika..hi hi hi). Sampai esok harinya perjalanan lancar. Saya bangun sekitar pk.4 pagi. Badan rasanya segar, karena bisa tidur selonjor (meluruskan kaki). Sekali lagi saya membuktikan : kereta bisnis lebih nyaman daripada kereta eksekutif…asaaal..nggak pergi ke toilet (toilet kereta bisnis kadang-kadang gelap & air sering macet). Saat sampai di Jatinegara ada pengumuman, kalau jalur ke Pasar Senen terhambat oleh banjir, sehingga kereta tidak akan melanjutkan ke Ps.Senen, tapi langsung ke St. Kota lewat Manggarai & Gambir. Waduuuh….pucuk dicinta Gambir tiba. Saya bisa turun di stasiun yang lebih dekat ke kantor. Sampai di Gambir sekitar pk.5 pagi, dan alhamdulillah bisa sholat Subuh di musholla stasiun. Saya jadi ingat saat di Jepang, kalau perjalanan ke Tokyo pakai kereta donko, untuk sholat Subuh di stasiun Tokyo cukup sulit. Perlu perjuangan berwudlu di WC (perlu trik tersendiri), dan kemudian cari tempat untuk menggelar sajadah. Alhamdulillah, walaupun negeriku serba kalang kabut, dan orang harus berakrobat agar bertahan hidup, tetapi sholat Subuh di Gambir tidaklah sesulit sholat Subuh di Tokyo station.

Dari St.Gambir saya menunggu bis No.44 jurusan Ciledug yang lewat kantor. Lamaa tak kunjung tiba, akhirnya menawar ojek. Angka yang disebutkan cukup fantastis: Rp 15 ribu,- ! Busyeet…waah..nggak usah deh bang kalau segitu. Mending saya nunggu bis yang cuma Rp 2 ribu,- Akhirnya dia turunkan ke Rp 7 ribu, dan sepakat di angka 5 ribu.

BPPT, habis mandi pagi, sudah segar dan wangi. Dapat SMS dari Ine, katanya kondisi sudah agak mendingan walau masih pusing. Sedangkan Alya suaranya jadi agak serak. Tapi dia justru takjub: “guuuu….” (mungkin maksudnya, waah…gilaa..suara gua jadi serak kayak penyanyi nih ! 😀 ). Alya saat ini genap 4 bulan usianya. Dia mulai asyik memperhatikan pola-pola kecil-kecil di baju, selendang. Kata Ine, di buku Dr.Sears dijelaskan kalau hal tsb. memang satu tahapan dalam proses perkembangan anak. Tika pun dulu demikian. Takjub dengan pola-pola kecil yang terlihat di baju emaknya.

Have a nice day…”guuuu”

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di keluarga. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Demam, flu, banjir

  1. Audi berkata:

    Dari St.Gambir saya menunggu bis No.44 jurusan Ciledug yang lewat kantor. Lamaa tak kunjung tiba, akhirnya menawar ojek. Angka yang disebutkan cukup fantastis: Rp 15 ribu,- ! Busyeet…waah..nggak usah deh bang kalau segitu. Mending saya nunggu bis yang cuma Rp 2 ribu,- Akhirnya dia turunkan ke Rp 7 ribu, dan sepakat di angka 5 ribu.

    Wah bapak jago nawar juga yah (walaupun sebenernya gak bermaksud nawar hehehe…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s