Sekai no shaso kara (2)

Semalam saya pulang ke Solo dari Ps.Senen naik kereta Senja Utama. Entah karena terbatuk-batuk atau sakit apa, akhirnya kereta berangkat terlambat 20 menit dari jadwal semestinya. Nggak apa. Dua puluh menit di Indonesia masih bisa ditolerir. *hiks* Saya dapat kursi 4A di gerbong 4. Sambil duduk, saya membaca-baca koran, dan terpana pada angka 140 juta rupiah, yaitu pendapatan perbulan yang diperoleh seorang direksi satu perusahaan. Wah, luar biasa. Gimana ya menghabiskan uang sebesar itu ? Sama dengan proyek di kantor yang bisa membiayai 10 peneliti selama 1 tahun.

Tak berapa lama, di Jatinegara para penumpang masuk berdesak-desakan. Ada bapak-ibu dan seorang anak usia sekitar 8 tahun yang disuruh duduk dulu di sebelah saya. Bapak itu tanya, “Mas, saya mestinya duduk di situ.” Saya jadi kaget, dan kemudian membandingkan tiket saya dan tiket beliau. Ternyata benar ! Baik gerbong maupun tempat duduknya sama dengan saya, gerbong 4 kursi 4A. Saya lirik tanggalnya, ternyata bapak itu salah tanggal. Malam itu tgl.18 April, tapi tiket beliau sekeluarga 19 April. Bapak itu beserta anak dan istrinya kemudian pindah sambil mengeluh, menyesali kekurangtelitiannya. Kasihan mereka, tapi bagaimana lagi.

Tengah malam saya mau ke toilet. Saya lihat para penumpang sudah bergelimpangan. Pemandangan yang biasa di kereta bisnis sih. Saya pun menggelimpang di bawah, beralas koran dan berbantal guling hadiah misdo. he he 🙂 Lebih nyaman tidur di bawah, karena kaki bisa selonjor lurus ke depan. Sampai di depan WC, saya terpana lagi. Kalau terpana yang pertama tadi dengan angka gaji yg fantastis, kali ini terpana dengan anak kecil tadi yang tidur sambil duduk di depan WC. Bapak dan ibunya juga tidur seadanya. Padahal toilet di kereta bisnis baunya cukup tajam. Jadi terfikirkan, alangkah drastisnya perbedaan mereka: yang kaya demikian kaya, sedangkan keluarga yg satu ini, sampai anaknya yang masih kecil terpaksa menahan bau pesing untuk bertahan tidur sambil duduk di depan WC kereta. Semoga saja mereka yang hidup berlebih dibukakan pintu hatinya agar dapat mengulurkan tangan buat mereka yang hidup kekurangan.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sekai no shaso kara (2)

  1. satrio berkata:

    wah,menurut saya sih sepertinya memang lebih nyaman numpang di kereta bisnis daripada di kereta eksekutif yang begitu dingin di malam hari :).
    Dan menanggapi tentang kesenjangan sosial ekonomi, semoga juga ada pihak (bahkan sistem) yang mampu menjembatani lebih lancar sebagian harta dari pihak yang berkecukupan kepada pihak yang serba kekurangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s