Scientific Misconduct

Beberapa hari yll. saya kirimkan corat-coret saya mengenai “Mengapa sebuah paper tidak menarik untuk dibaca” ke milis sc-ina. Di luar dugaan, topik itu direspon hangat oleh rekan-rekan di milis. Mereka saling sharing pendapat, dan saya banyak belajar dari tanggapan yg diberikan. Alhamdulillah. Satu point yang dikritisi adalah masalah “originality”. Tema ini memang sensitif, dan menarik untuk dibahas. Dari masalah originality diskusi kemudian bergeser ke penyimpangan dalam dunia penelitian, a.k.a. Scientific Misconduct. Berikut posting saya pagi ini :

From: Anto Satriyo Nugroho
To: sc-ina@yahoogroups.com
Subject: Scientific Misconduct (was: Mengapa sebuah paper tidak menarik untuk dibaca ?)

yudiagustabali wrote:
Tentang paper yang sudah dipublikasikan baik di proceedings maupun jurnal, terkadang kita harus hati-hati. Beberapa peneliti mungkin menyembunyikan hasil penelitian mereka yang ‘tidak bagus’
… deleted ….
Ini hanya cerita lokal saya, yang mungkin bisa jadi referensi, bahwa tidak semua hasil yang dilaporkan di dalam paper yang dipublikasikan oleh peneliti ‘ternama’ sekalipun, adalah hal/hasil yang sebenarnya.

Terima kasih mas Yudi. Saya jadi ingat nasehat sensei (professor) saya dulu: “Jika kamu membaca paper, jangan terlalu percaya pada isi paper itu.”, demikian kata beliau. Ada juga professor lain yang menasehatkan, bahwa terhadap data yang disajikan di paper, mungkin kita bisa percaya 70% mengenai kebenarannya, tetapi untuk diskusinya jangan sampai lebih dari 50%. Pelajaran yg saya tarik dari nasehat tsb., semakin piawai seorang penulis, semakin lihai dia mengemas tulisannya. Ide & hasil yang sederhana menjadi demikian memikat, sehingga kadang kita sebagai pembaca tidak sadar kalau metode yang dibahas mengandung kelemahan di sana-sini. Prof. saya dulu juga mengajari kami, agar saat membaca sebuah paper selain memahami saripatinya, juga mencari sisi-sisi untuk dikritisi, dan belajar mengemukakan pendapat sendiri terhadap paper tsb., misalnya ide bagaimana menyempurnakan riset yang dipaparkan. Kalau hal itu dilakukan setidaknya pada 40 puluh paper (yg paling signifikan dan baru dalam tema itu) saja, dan kita mampu mengemukakan ide kita sendiri, maka kemungkinan besar ide yang akan kita tuangkan ke dalam tulisan itu sulit untuk dijatuhkan reviewer. Demikian resep menemukan ide orisinil dari beliau. Ini pernah saya coba dalam perkuliahan : mahasiswa saya minta untuk memilih satu jurnal, kemudian saya minta agar membuat laporan yg terdiri dari : (i) rangkuman isinya (ii)membahas sisi originality paper tsb. (iii) mengkritisi isi paper itu, e.g. mengemukakan ide untuk memperbaiki/menyempurnakannya. Tujuan saya adl. mengenalkan fase “research survey” dalam penelitian kepada mereka.

Scientific Misconduct & The Baltimore Case
Mengenai fabrikasi hasil, sebenarnya hal itu tidak diperkenankan dalam budaya riset. Bahkan pada jurnal tertentu sering ada bagian “communication”, yaitu kritikan dari seorang peneliti terhadap paper yang sudah dipublish di jurnal tsb. Kalau tidak salah “Pattern Recognition”, “Pattern Recognition Letters” nya Elsevier kadang saya temukan tulisan spt. itu. Penulis paper yang dikritisi kemudian diberikan hak untuk membela riset-nya pada kolom “communication”. Bukan tidak mungkin kalau satu teori terbukti salah, author akan menarik kembali papernya dari jurnal tsb.

Beberapa saat yll. pernah ada kasus besar, yaitu tuduhan fabrikasi yang dilayangkan kepada Prof.Hwang dari Korea yang reputasinya sudah mendunia dalam bid. cloning, sehingga akhirnya beliau mengundurkan diri dari jabatan professor. Padahal papernya dimuat di jurnal bergengsi “Science”, yang sistem review-nya sangat ketat. Seorang professor di Tokyo University beberapa saat yll. juga terlibat kasus serupa, sehingga beberapa paper yang pernah dipublikasikannya ditarik kembali.

Kontroversi yg lebih besar pernah terjadi di era 80 an, karena salah satu authornya adalah pemenang Nobel, yaitu Dr.David Baltimore dari MIT. Beliau merupakan coauthor dari penelitian Dr.Imanishi Kari, assistant prof. MIT di bidang biologi, yang paper mereka diterbitkan di jurnal Cell (jurnal bergengsi di bid. biologi). Belakangan seorang posdoctoral fellow di lab. Dr.Imanishi (yaitu Dr. Margot O’Toole) tidak mampu mereproduksi hasil eksperimen yg tertera di paper, dan menemukan adanya fabrikasi hasil riset. Dr.Baltimore menolak adanya fabrikasi tsb., dan pertikaian antar mereka, berakhir dengan mundurnya Dr.Margot dari dunia penelitian. Tetapi kasus yang sempat mencuat itu akhirnya membuat tim jurnal Cell dan pemerintah AS melakukan investigasi khusus. Kecurigaan Dr.Margot ternyata benar. Fabrikasi hasil memang terbukti terjadi pada riset Dr.Imanishi. Akhirnya 4 tahun setelah laporan Dr.Margot, Dr.Baltimore menarik papernya dari Cell. Hanya saja kontroversi masih berlanjut. Setelah beliau diturunkan dari jabatan president Rockefeller Univ. (yg baru dijabat 1.5 th), Dr.Baltimore kemudian mengajukan pembatalan atas penarikan paper-nya. Kasus ini masih jadi berita hangat hingga pertengahan tahun 90-an, lebih dari 10 tahun setelah paper itu dipublikasikan. Silakan rekan-rekan searching dg kata kunci “Baltimore case”, kalau berminat mengikuti detail-nya.

Kesimpulan yg. dapat diambil: walaupun jurnal merupakan bentuk komunikasi formal penelitian yang sudah melewati proses review oleh para ahli sejawat (peer), tapi kemungkinan kesalahan tetap ada. Bahkan riset yg dipublikasikan di jurnal terkemuka sekalipun, hal itu bisa terjadi. Kesalahan sebenarnya umum terjadi dalam dunia penelitian, satu sifat yg alamiah. Tetapi “kesengajaan” berbuat salah dalam penelitian (fabrikasi hasil) adalah tabu & tidak diperkenankan dlm. penelitian.

Anto S. Nugroho, Dr.Eng
Email: asnugroho AT gmail.com
https://asnugroho.wordpress.com

Catatan

  1. Fabrikasi hasil riset, dalam bahasa Jepang disebut 捏造 (netsu-zou)
  2. Ulasan menarik mengenai netsu-zou, dan bagaimana seharusnya attitude seorang peneliti dapat dibaca di buku The Scientific Attitude, 2nd Ed. karangan Frederick Grinnell, Guilford Press, New York, NY. 1992
Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Scientific Misconduct

  1. Bakharuddin berkata:

    Salam kenal … Pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s