Menyiapkan materi tutorial di Tasikmalaya

Hari Selasa yad. saya dan teman-teman kantor akan berangkat ke Tasikmalaya, untuk workshop dan memberikan pelatihan FOSS ke UKM. Komandan kegiatan ini adl. mas Wenwen. Saya ditugaskan memberi pelatihan Inkscape, mas Made memberikan pengenalan OS (Ubuntu 7.10), mas Wenwen akan mengenalkan Open Office, dan ada juga yg memberi tutorial pemakaian Gnucash. Pelatihan spt ini sangat perlu, agar masyarakat memiliki alternatif perangkat lunak untuk melakukan pekerjaannya, tidak semata bergantung pada salah satu vendor saja. Alhamdulillah, semalam akhirnya selesai juga membuat materi tutorialnya. Tinggal perbaikan sedikit di sana-sini.

Minggu-minggu ini cukup sibuk, sehingga saya tidak pulang ke Solo. Selain persiapan ke Tasik, ada beberapa deadline yg harus saya penuhi. Membuat soal ujian akhir, mengisi SAP, menyiapkan materi diskusi bulanan datamining di bppt, menyiapkan materi e-kolokium komunitas softcomputing, melayani mahasiswa yg konsultasi tugas akhir dan menyelesaikan review paper satu jurnal internasional…ooh..tidak…deadline nya tinggal 2 hari lagi (^^;

Sebenarnya sih pengin saya kebut, kerja marathon agar selesai. Dulu saya biasa demikian. Tapi sekarang saya khawatir, kalau nanti kondisi badan saya drop krn kelelahan, dan buyar semuanya. Ah, kesehatan memang rahmat terbesar dari-Nya.

Selain itu ada undangan dari satu lembaga agar saya hadir pada acara hari Rabu yad., tapi terpaksa saya tolak, karena sudah terlanjur ada jadwal ke Tasik. Saat menjawab, saya sampaikan agar kalau bisa jadwal diberitahukan 1 bulan sebelumnya, agar saya bisa arrange schedule untuk bisa hadir pada acara tsb. Agak heran juga kenapa di Indonesia orang suka serba mendadak. Kegiatan yg mendadak berarti tidak terencana dengan baik ! Saya jadi ingat, waktu di Jepang dulu, jadwal rapat kyoujukai (pertemuan professor dalam satu jurusan) dalam satu tahun sudah ditetapkan setahun sebelumnya. Persiapan penyelenggaraan kegiatan world expo 2005 di Nagoya sudah dilakukan sejak bertahun-tahun sebelumnya. Itu menunjukkan bagaimana matangnya mereka merencanakan sesuatu. Tidak asal-asalan dan serba mendadak. Dan itu tercermin dari hasilnya ! Kenapa kita tidak bisa mengikutinya yah ?

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di gado-gado, Indonesiaku, talk & seminars. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Menyiapkan materi tutorial di Tasikmalaya

  1. dodi mahendra berkata:

    Pak Prof,

    Aku tertarik dengan mengapa di Indonesia gak bisa membuat planning/scheduling.

    Pertama, mungkin sudah menjadi budaya orang Indonesia kali yang harus di perbaiki, contohnya kalo di Jawa, orang bilang “wis antem kromo wae”, ini kan salah satu contoh mengajarkan kalo tidak perlu merencanakan/membuat planning sebelum kita melakukan sesuatu.

    Kedua, sistem pendidikan kita terutama yang di perguruan tinggi yang memakai sistem SKS “Sistem Kebut Semalam” yang pada prakteknya juga dilakukan para mahasiswa, termasuk saya….:)
    yang pada akhirnya nilainya jeblok…ngulang lagi.. đŸ™‚

    Ketiga, di pekerjaan. Kebetulan saya kerja di konstruksi dimana planning/schedulling sangat penting terutama progress milestone. Pada prakteknya yang benar planning/schedulling digunakan sebagai acuan progress milestone, tapi pada kenyataannya terjadi mark up progress dengan tujuan untuk memanipulasi progress report biar tidak kelihatan behind schedule atau late progress. Pada intinya disini planning/schedulling tidak digunakan dengan baik dan jujur, yang pada akhirnya menyebabkan kualitas pekerjaan berkurang, over budget dan over schedule. Jadi rugi deh proyeknya…:)

    Keempat, Hidup kita dari lahir sampai menghadap sing Kuasa. Kalo kita tidak punya planning/schedulling untuk mencapai tujuan hidup kita, akan membuat hidup tiada arti..:)

    Jadi pada kesimpulannya: Planning/schdulling sebaiknya diajarkan mulai dari tingkat paling dasar karena harus mengubah pola pikir dan/atau way of life-nya orang Indonesia..

    Nuwun Pak Prof..
    meniko pendapat kulo…lho.
    saking rencang inkang mbeling..:))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s