Ngukur tensi setelah keliling Monas 2 kali

Sabtu pagi saya bangun, dan ngecek tensi. Wuah, systolic-nya 160 atau 170 an. Di satu sisi ngeri, dan di sisi lain kurang begitu percaya. Bisa jadi akurasi alat tensi ini sudah berkurang, karena sudah uzur (kira-kira 2 tahun). Memang sih, kepala tidak terlalu fresh walau badan kondisinya lumayan. Pagi ini saya sudah niat untuk jalan-jalan ke Monas, jogging memutari monumen itu.

Sekitar pk.6 pagi saya dan beberapa teman berangkat ke Monas. Suasana sudah lumayan ramai, tapi masih enak buat lari pagi. Beberapa minggu yll. saya berhasil keliling 1x putaran (kira-kira 1 km) tanpa stop, dan hari ini saya targetkan 2x putaran. Nggak berani maksa sih, karena khawatir berdampak buruk buat hipertensi saya. Ichi ni san shi, ichi ni san shi, …hap hip hup..akhirnya selesai juga 2 putaran Monas. Lumayan, target saya tercapai.

Habis itu nelpon ke rumah. Tika dan Alya sudah bangun, dan sedang bermain-main. Ine cerita ttg. kenalan kami yg butuh uang, karena saat berobat dia terpaksa pinjam ke rentenir. Total sekitar Rp 5 juta. Padahal penghasilannya hanya beberapa ratus ribu, dengan tanggungan 2 anak. Aduh, kasihan benar. Ine juga cerita tentang kondisi sekitar tempat tinggal kami. Kami bertempat tinggal di lingkungan dosen, dengan kata lain, tingkat edukasinya tinggi. Tetapi hanya beberapa meter dari perumahan, bertempat tinggal masyarakat desa, yang masih banyak buta huruf. Ah, betapa curam perbedaan antar kedua masyarakat tsb. padahal hanya terpisah beberapa meter. Alhamdulillah, hubungan kami terjalin dg baik. Setelah cerita itu, akhirnya proposal saya untuk masuk club fitness/renang di hotel Pacific ditolak Ine. “Terlalu mahal, mas”. Iya sih, … buat 3 bulan total sekitar Rp 1.3 juta. Katanya, “Si mbak harus bekerja keras menyetrika, nyapu, nge-pel, cuci piring untuk mendapatkan 50 ribu per minggu. Tapi koq ya ada, orang yang memakai uang sebesar itu untuk berenang sekali saja” … (^^;

Setelah nafas tidak terlalu terburu, kami pun kembali. Di dekat gerbang keluar monas, ada bakti sosial mahasiswi kedokteran USAKTI. Ada dua mahasiswi yang jaga. Saya kemudian minta diukur tensi sekali lagi, karena mereka memakai tensimeter air raksa yg lebih akurat. Mbak-nya kaget, “Wah, bapak hipertensi ya. Koq tinggi nih 140/110”. Hi hi hi…..kaget dia. Saya kaget juga sebenarnya, karena diastolicnya terlalu tinggi. Apa karena yang ngukur mbak-nya ya ? he he he…Nggak ah. Bisa jadi karena habis olah raga, jadi sisa tekanan di jantung setelah memompa masih tinggi. Kebetulan SMS dari Bobo datang (doi sobat saya saat SMA yg sekarang jadi dokter spesialis internis di Solo). Dijelaskannya bahwa efek vasodilator (wikipedia: A vasodilator is a drug or chemical that relaxes the smooth muscle in blood vessels, which causes them to dilate. Dilation of arterial blood vessels (mainly arterioles) leads to a decrease in blood pressure) untuk menurunkan darah dari captopril itu yang mungkin menyebabkan saya pusing setelah mengkonsumsi captopril. Saya disarankan tetap mengkonsumsi captopril, tetapi dengan dosis yg lebih kecil. Waduh, padahal selama ini sekalipun pusing setelah minum captopril, tekanan darah saya tidak turun. Kadang cenderung naik, shg. sempat saya stop. Tapi ya sudah. Saya turuti saja nasehatnya.

Selama ini padahal saya sudah cukup hati-hati menjaga makanan. Dunia perkambingan jelas stop. Kadang-kadang saja “nakal”, beli KFC atau King burger…. 😀 Tapi hari Jumat kemarin sebenarnya sudah cukup baik. Pagi makan pisang dan roti tawar. Malam pun begitu juga. Siang nya aja makan ayam kuluyuk.. 😀

Sabtu siang saya beli captopril lagi dan diminum sebelum makan siang. Setelah selesai makan dan belanja, saya kembali dan mengukur tensi sekali lagi. Eh, alhamdulillah koq membaik yah ? Sekitar pk. 1 siang, hasil ukur menunjukkan 136/87. Sudah dibawah batas maksimal 140/90 yg disarankan Bobo. Kepala pun nggak pusing. Ehm..kenapa ya ? Mungkinkah captopril yang selama ini saya konsumsi kualitasnya nggak bagus, entah kedaluarsa atau bagaimana, sedangkan yg siang ini saya beli masih bagus ? Entahlah. Udahlah, mau ketak ketik, sembari mengenang misdo di Nagoya… 😀

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di gado-gado. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s