Originality dan teamwork dalam penelitian

diupdate : 19.49 WIB 25 September 2008

Saat mengajar matakuliah Research Methodology, satu topik crucial yang saya sampaikan ke siswa adalah pentingnya originality dalam riset, sekalipun untuk riset level S1. Tidak cukup satu penelitian dilakukan tanpa mempertimbangkan kontribusi original terhadap sains dan iptek. Fase yang mutlak harus ditempuh adalah lewat membaca dan mengkritisi penelitian yang sudah dilakukan orang lain, lewat literature survey yang memadai. Seorang siswa saya mengeluh, karena paper tidaklah mudah dibaca dan ditelaah. Jangankan untuk mahasiswa S1, untuk mahasiswa  S2 dan S3 atau dosen sekalipun, membaca dan mengkritisi paper tidaklah mudah. Tapi mau tidak mau itu harus dilakukan agar penelitian yang dilakukan benar-benar original, bukan duplikasi dari penelitian lain orang. Bagaimana kalau sudah berusaha membaca paper tapi tidak kunjung faham dan tidak kunjung mendapat ide original ? Di situlah peranan kolega dalam sebuah laboratorium. Proses pencarian ide riset, selain harus dilakukan secara aktif oleh siswa perlu mendapat masukan dari kolega lain, terutama yang lebih senior. Saat di Jepang dulu, kami bergiliran secara rutin mempresentasikan hasil survey literatur yang dilakukan, dalam pertemuan mingguan di lab (kentokai). Siswa berusaha mengkritisi paper yang dibaca, dan kolega yang lain turut membantu upaya tsb.  Kolega yang senior biasanya lebih bisa melihat sisi mana yang lemah, dan sisi mana yang dapat diperbaiki.  Dengan rutin melakukan kegiatan seperti ini, proses pencarian tema original akan berjalan efektif. Di situlah manfaatnya team work.

Bagaimana kalau tidak punya team work, atau tidak tergabung dalam satu laboratorium ? Nah, inilah kesulitan khas di Indonesia. Sejauh ini, saya baru beberapa kali saja menemukan laboratorium yang dikelola dengan team work dan strategi riset yang bagus.  Mungkin ini yang menyebabkan di mailing list sering saya baca posting mahasiswa yang ingin dicarikan tema buat tugas akhir (kadang-kadang dengan pesan sponsor: “klo bisa jangan yang terlalu sulit soalnya deadline saya tinggal 2 bulan.” ). Hal ini terjadi karena tema penelitian di Indonesia cenderung sering dilepaskan, diserahkan kepada mahasiswa untuk mencari sendiri tanpa kontrol ketat dari dosen pembimbing, dan juga bukan bagian dari skenario besar penelitian seorang dosen peneliti. Senada dengan hal ini, di mailing list biotek, ada posting seorang anggota, yaitu Pak Khrisna P. Candra sbb.

Sistem penelitian di lembaga/pusat penelitian dan universitas negara maju sepertinya hampir sama, yaitu (1) dilakukan oleh grup peneliti yang dipimpin oleh professor dengan kewenangan dan tanggung jawab yang pimpinan yang jelas, (2) penelitiannya fokus, (3) dananya cukup, (4) jaringan peneliti di bidang yang sama kuat, (5) sumberdaya peneliti tangguh.
Keterangan:

  1. Prof di Negara maju adalah professor peneliti atau memanajemi penelitian, di kita professor adalah gelar dan berbau karir mengajar. Penelitian di Negara maju di lakukan oleh grup penelitian (Arbeitsgruppe, AG bhs jermannya), dikita masih individu, tidak ada system yang jelas dalam mengatur kewenangan, hak (gaji, tunjangan, dll) dan kewajiban seorang professor. DIKTI menetapkan beban mengajar yang terlalu berat (12 SKS per semester sama dengan 4 mata kuliah, yah karena mata kuliah di universitas kita terlalu banyak dan nggak fokus, banyak minor-minornya).
  2. Di Negara maju, penelitian dibidangnya sudah ditekuni sejak lama mula dari S1, S2, S3, sampai postdoc. Dikita tidak banyak peneliti yang menekuni bidang yang sama dalam pengalaman studinya. Adanya AG memfasilitasi sector swasta/industry lebih mudah menjalin hubungan riset.
  3. Supporting dana langsung ke AG melalui Prof., yang tentunya sudah mempunyai penelitian payung tunggal sampai masa pensiunnya. Di kita masih per individu peneliti, Prof. tidak diberdayakan atau tidak berdaya karena (lebih suka) dibenani urusan administratif.
  4. Para punggawa peneliti (Prof.) dalam satu bidang saling kenal dan terus menjalin hubungan sehingga AG-nya tidak melakukan penelitian duplikasi
  5. Penelitian S1, S2 atau S3 adalah bagian dari ide AG, bukan ide mahasiswa (baru memulai benang merah penelitian) yang tiba-tiba “nyelonong” minta dibimbing penelitiannya. Di kita syarat pembimbing penelitian bagi mahasiswa masih belum ketat. Sebuah AG mempunyai peneliti-peneliti tangguh (tentara) yang selalu fresh. Prof. dikita kesulitan untuk mendapatkan tentara-tentara itu, bagaimana mungkin kalau penelitian hanya dilakukan sendirian? Atau berempatan? Kalai berempatan adalah 1 Prof., 3 postdoc dengan masing-masing post doc mempunyai bimbingan 4, maka prof tersebut mempunyai 12 prajurit siap tempur.

Kalau kita ingin memajukan penelitian di perguruan tinggi, sistem lab. semacam ini mau tidak mau harus diadopsi, walau tentunya dengan penyesuaian di sana sini agar cocok dengan sikon di Indonesia. Seorang dosen/pembimbing penelitian haruslah memiliki long term goal penelitian yang mencerminkan ketajaman visi dan pandangannya terhadap masalah keilmuan yang digelutinya, dan mahasiswa-mahasiswa itu dikelola dalam satu team work yang baik untuk menyelesaikan short objective yang merupakan hasil break-down dari long term objective tadi. Dengan demikian penelitian yang dilakukan siswa bukan sekedar memenuhi syarat kelulusan saja, tetapi merupakan bagian dari  tema besar sang dosen dalam memberikan kontribusi riil terhadap sains dan iptek.

Diskusi

  1. Adi Indrayanto:
  2. Kalau di dunia engineering, ada 2 pendekatan (terkait dgn TA S1 dan mungkin S2), yaitu pendekatan engineering dgn tujuan menghasilkan produk, dan pendekatan science dgn tujuan menghasilkan originalitas. Yg sepertinya tertulis di bawah ini hanya melihat dari aspek “penelitian”. Padahal, lulusan S1 tidak selalu akan menjadi peneliti, tapi bisa juga sebagai ‘engineer’.

    Ada perbedaan mendasar, antara approach sebagai engineer dan sebagai peneliti. Walaupun mungkin sama2 baca paper, tapi pendekatan akan berbeda. Pendekatan engineering, lebih kepada bagaimana membuat kontribusi pada ‘produk’ yg lebih ke pragmatis. Misal, bisa dari penurunan cost production melalui pencarian disain baru dgn bill of material yg lebih murah, bisa penambahan features, bisa penggunaan teknologi baru, dsbnya.

    Pendekatan ini menuntut paradigma yg berbeda dgn pendekatan penelitian seperti yg sering diajarkan di sekolah2 science. Untuk Indonesia, dgn ekosistem penelitian yg relatif lebih “tidak mapan”, mungkin tetap dibuka kesempatan untuk melakukan pendekatan TA yg lebih pragmatis. Tidak melulu science, tapi juga engineering (bukan applied science lho).

    Seperti contohnya seorang lulusan kedokteran, umumnya adalah practical doctor … yg sangat berguna untuk kondisi di negara berkembang. Mustinya, sebagai engineer pun, kita tidak hanya terpaku pada research science …

    Sekedar masukan …

    salam,

    -ai-

  3. Anto:
    1. Menanggapi pendapat pak Adi, saya sepakat bahwa pendekatan penelitian memang berbeda, tergantung pada bidangnya. Cara riset di bidang IS, IT tentu saja berbeda dengan yang di social science, biology dsb. Senada dengan hal tsb. media komunikasi formal hasil riset kepada thought collective di computer science misalnya, bukan terbatas pada jurnal. Conference proceeding sekalipun sudah dianggap publikasi formal (“Online or Invisible , Steve Lawrence, Nature, Volume 411, Number 6837, p. 521, 2001”, http://citeseer.ist.psu.edu/online-nature01).

    2. Hanya saja “originality” dalam riset S1, S2 apalagi S3 tetap mutlak diperlukan. Khusus S1, sekalipun sifatnya mengerjakan project, tuntutan sesuatu yang novel itu, pendapat saya, tetap diperlukan.
    Tugas akhir S1 sebenarnya media edukasi kepada seorang calon engineer, bagaimana dia melihat satu masalah dari berbagai posisi, bagaimana dia mengkritisi solusi yang ada, dan bagaimana dia melatih kreatifitasnya dalam mencari solusi tsb. Jadi pendidikan S1 tujuannya membentuk pola pikir, bagaimana metoda ilmiah ituu bisa diterapkan, baik untuk riset aplikatif maupun teoretik. Tidak cukup kalau sekedar menyelesaikan suatu project tanpa melewati proses penelitian (identifikasi
    masalah, literature survey, hypotesa, dst).

    3. Originality tetap mutlak diperlukan (dan hal itu yang membedakan tuntutan pendidikan S1 dengan D3). Tetapi tentunya ada perbedaan tuntutan bagi bobot originality penelitian S1, S2 dan S3.  Juga lain bidang, mungkin tidak sama pula originality itu didefinisikan. Kalau di bidang saya (pattern recognition), misalnya (i) mengembangkan metode baru untuk satu masalah (applied ataupun theoretical) yang sudah ada (ii) memakai metode yang sudah ada untuk memecahkan satu masalah (applied ataupun theoretical) yang baru, atau (iii) mengembangkan metode baru untuk satu masalah (applied ataupun theoretical) yang baru.  Agar penelitian S1 memenuhi aspek originality itulah, dalam posting sebelumnya saya tulis ttg. perlunya penelitian di Indonesia dikerjakan secara terencana, dalam kerangka besar strategi riset sang profesor (atau dosen pembimbing).  Untuk S1, misalnya mungkin bisa diarahkan ke evaluasi dari metode baru yang dikembangkan oleh seniornya di lab.   Dengan demikian, penelitian itu tidak berjalan secara sporadis (yang setelah siswa lulus, tidak ada bekasnya atau tidak ada kontribusinya bagi komunitas iptek), melainkan saling mendukung satu sama lain, dan terkomunikasikan rapi ke komunitas lewat seminar-seminar, atau milis seperti RSITI ini.

    Demikian pendapat saya. Silakan rekan-rekan lain mengkritisinya.

    Anto S. Nugroho

  4. Adi Indrayanto
  5. Terima kasih atas balasannya. Mungkin kita menuntut terlalu tinggi untuk lulusan S1. Originalitas jelas mutlak untuk S3. Tapi, untuk S1 … sebenarnya tidak harus. It is good to have … but not necessary.
    Nanti juga setelah lulus S1, didunia kerja yg dihadapi juga berbeda … mungkin lebih banyak troubleshooting nya daripada looking for new solution 😉 Lagipula, apa semua lulusan S1 kita mau diarahkan menjadi peneliti? 😉

    Tentu, pendapat saya ini berangkat dari kondisi lapangan di Indonesia. Dgn melihat kondisi negara berkembang, yg masalah engineering sehari-hari saja belum beres … . Saya cenderung, tetap dibuka 2
    pendekatan yg berbeda. Yg satu ke theori (seperti yg anda sebutkan), yg satu ke arah pragmatis … . Karena kondisi kerja di lapangan sering membutuhkan orang2 yg skillfull .. yg tahu how to solve problem by following a certain standard (yg sudah mapan tentu saja). D3? Tidak akan cukup kemampuannya.

    Idealnya, malah dosen2 tidak melulu berkutat di dalam kampus dan lab saja, tapi juga perlu melakukan sabatical kerja real di dunia nyata. Biar kebayang situasinya bagaimana.

    Hanya sekedar opini saya saja ….

    salam,

    -ai-

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di persiapan pulang, scheduler. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Originality dan teamwork dalam penelitian

  1. ardi berkata:

    turun urun rembug :-).

    tentang orisinalitas, tetap sangat diperlukan untuk setiap tingkat pendidikan. yang membedakan antara ketiga tingkat pendidikan adalah cakupan risetnya (CMIW).

    semaki tinggi tingkat pendidikan, semakin dalam juga substansi risetnya. dalam pengerjaan risetnya, tentu saja dua aspek saling terkait, pendekatan teori dengan tidak menyampingkan aspek praktis di lapangan. teori untuk melatih kemampuan berpikir, sampai sejauh mana kemampuan mhs untuk memecahkan masalah yang mhs temukan dalam risetnya. fenomena2 tak terduga hasil riset yang membuat mahasiswa mengekplorasi teori2 yang ada…dan kadang mengaitkan dengan fenomena2 praktis kondisi di lapangan.

    saya masih ingat betul bagaimana dosen pembimbing saya untuk mewanti2 agar ada sesuatu hal baru yang dapat kamu usulkan kepada perusahaan (waktu saya membuat proposal atau laporan akhir praktek/magang). karena jika tidak ada yang baru, perusahaan calon tempat saya magang akan menolak permohonan kerja praktek saya. (kebetulan tempat yang akan saya tuju waktu itu adalah salah satu perusahaan besar luar yang sudah sangat mapan di tanah air). pada saat akhir kerja praktek, saya ditugaskan oleh pembimbing di perusahaan untuk solve problem/masukan salah satu progam penjaminan mutu pangan. demikian halnya untuk S1.

    kalo tak salah, salah satu untuk melihat orisinalitas dapat dilihat dari literatute review yang dilakukan oleh mahasiswa. dengan semakin banyak membaca dan mereview hasil2 penelitian, sptnya akan semakin bisa menemukan orisinalitas riset yang dilakukan.

    salam

    Terima kasih mas Ardy. Saya setuju dengan pendapat mas Ardy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s