Menonton “Laskar Pelangi”

Kemarin siang, saya ke gedung bioskop di Solo Grand Mal bareng dengan Andut-Rusma. Kami nobar (nonton bareng) film Laskar Pelangi yang diangkat dari karya Andrea Hirata. Awalnya saya ogah, karena belakangan agak muak dengan judul-judul sinetron/film Indonesia yang latah dg Ayat-Ayat Cinta, padahal setelah dilihat isinya gak bermutu dan kualitas ceritanya jelek. Tapi, setelah melihat trailernya di youtube, saya jadi tertarik. Ah, kayaknya menarik, dan saya harus liat film ini. Mumpung ada teman yang ngajak nonton bareng. Dan jadilah saya ke bioskop, setelah hampir 20 tahun nggak pernah ke gedung bioskop Indonesia (terakhir ke gedung bioskop di Indonesia adalah th.1989, waktu lihat film Cut Nya Dien). Antreannya panjang banget, kata Andut.  

Sebelumnya saya nggak pernah membaca versi novel film ini. Jangankan baca novel LP, nama Andrea Hirata sebagai penulis novel itu pun saya nggak pernah dengar. Mungkin karena saya tidak mengikuti perkembangan novel di Indonesia. Jadi saya melihat film ini dengan pengetahuan awal nol. Mungkin hal ini lebih baik, karena saya tidak akan membandingkan dengan versi novel-nya. 

Setelah melihat film itu, wah…macam-macam deh perasaan yang mengaduk hati saya. Ada rasa haru, tapi juga terbersit rasa semangat melihat anak-anak miskin itu demikian besarnya keinginan mereka menuntut ilmu. Saya percaya, banyak sekali anak-anak seperti mereka di berbagai belahan bumi nusantara. Kebetulan dulu waktu masih di Nagoya, saya turut mengurus program beasiswa untuk anak-anak yang kekurangan di Indonesia, dan memang ternyata banyak sekali anak-anak yang memerlukan bantuan yang bagi saya besarnya tidak seberapa, tapi bagi mereka ternyata sangat berarti buat meneruskan  studinya. Saya kagum juga dengan semangat bu Mus dan pak Harfan yang mencintai profesi mengajar walau gaji tak dapat diharapkan. Mereka guru-guru idealis yang penuh dedikasi, yang pasti terdapat di berbagai pelosok Nusantara, walaupun mungkin namanya tak pernah dikenal orang, tapi jasanya besar tanpa pamrih.  Film seperti ini memang karya seni indah yang saya rasa sangat langka, dan sudah sewajarnya jadi primadona di gedung bioskop di Indonesia. 

Links: 

  1. Blog film Laskar Pelangi
  2. Blog Laskar Pelangi 

Note:

  1. waktu adegan si Harun menggambar kambing (kalau nggak salah) di kertas ujiannya, saya jadi ingat pengalaman sendiri. Waktu masih mengajar di Chukyo Univ., ada seorang mahasiswa yang karena nggak bisa mengerjakan soal ujian matakuliah saya (struktur data), di kertasnya dia menggambar sepeda motor 😀
  2. Senin siang, saya beli juga akhirnya buku Laskar Pelangi di Gramedia. Saya baru baca sekilas tapi rasanya nggak mau berhenti. Benar-benar karya sastra yang bagus, deh. 

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Menonton “Laskar Pelangi”

  1. ardi berkata:

    sptnya bakal diagendakan juga nich buat nonton begitu nanti sampe di Bogor :-)….termasuk beli novelnya.

    sekalian ini,
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H
    Mohon Maaf lahir Bathin atas segala salah dan khilaf.

    salam,
    ~lagi siap2 untuk mudik

    Selamat mudik mas Ardy. Mohon maaf lahir batin, juga. Salam dari kami sekeluarga.

  2. teuku berkata:

    Ass. Wb. Wr.
    Salam kenal, Mas… Saya jadi ikutan senyum2 waktu baca “note no. 1”. Ternyata ada juga orang Jepang yang nggak bisa ngerjain soal trus gambar2… he…he. Apalagi yang ngasih soalnya Mas Anto (orang Indonesia).
    Wass. Wb. Wr.

  3. sari berkata:

    Wah….saya belum nonton tuh laskar pelangi!! kata temen-temen sih memang bagus. habis nggak ada temen and money wat nonton, he…he….

    Tapi kalau novelnya malah saya sudah hatam. filmnya sebagus novelnya tidak ya?! waktu saya nonton ayat-ayat cinta bagus n mengharukan ya walau ada bagian cerita dalam dinovelnya yang dipotong, mungkin krn terlalu fundamental bawa2 RAS. and usia pernikahan istri ke 2 dalam novel hanya beberapa menit krn sdh dijemput ajal, tapi di film sempat satu rumah ber3? ya biar tambah seru.

    Bener kata pak Anto, kalo sdh baca novelnya jadi membanding-bandingkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s