AADC


Maap-maap…AADC di sini bukan singkatan Ada Apa Dengan Cinta, tetapi Ada Apa Dengan Coro (kecoak, atau dalam bahasa Jepang disebut juga Gokiburi). Dan jawabnya: nyelonong di nasi bungkus. Begini ceritanya.

Kemarin setelah menghitung-hitung pengeluaran dalam sebulan, saya dan Ine menyadari bahwa kami harus lebih berhemat, agar bisa ada tabungan. Bukan buat beli Xenia, apalagi Inova, sih…tapi buat biaya sekolah Tika dan Alya, dan juga siap-siap kalau kelak punya gawe (soalnya anak-anak cewek semua).

Sisi manakah yang harus dihemat ? Ada tiga strategi : pertama mungkin frekuensi pulang ke Solo dikurangi, dari tiap minggu menjadi 3 kali sebulan. Kedua, kereta nggak usah pakai eksekutif, tapi cukup nglesot di kereta bisnis Senja Utama. Ketiga, kurangi makan di burger King, KFC, dsb. tapi banyak-banyak makan di warteg, atau merebus ubi. Murah dan bagus buat diet hipertensi.

Ee…baru saja strategi di atas mulai dijalankan, pagi ini saya langsung dapat musibah. Saya tadi beli nasi bungkus 7 ribu perak isi nasi, sayur pare, sayur kecambah, telur, tahu dan tempe. Waktu sudah dinikmati, ternyata ada jenazah kecoak yang cukup besar berada di tengah-tengah sayur. Grrr….Bener-bener coro durhaka !!!

Ternyata ada yang ketinggalan dari strategi di atas. Keempat : berdoalah, agar tidak mengalami kejadian-kejadian aneh di kantor (terjebak lift, fotonya dibajak polriyanto, ketemu jenazah coro di nasi bungkus, dll)

Mau liat foto coro yang udah di-close up ? klik ke sini deh.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di gado-gado. Tandai permalink.

6 Balasan ke AADC

  1. ardi berkata:

    mudah2an perutnya gpp :-).
    lain kalo musti agak hati2 agar kejadian ini tdk terulang.
    setuju dengan ide agar mulai mengurangi konsumsi nasi, mengganti dengan makan ubi. toh energinya juga sama. barnagkali makan ubinya ndak mesti direbur melulu biar lidahnya tidak bosen.

  2. dikshie berkata:

    saya pernah mengalami hal yang sama beberapa tahun lalu. waktu itu saya beli nasi bungkus padang. ketika asyik makan, tiba-tiba mata terfokus pada secuil kaki kocoa yang tersembunyi dibalik nasi.

  3. mas_fikrinp berkata:

    mas kalau mau lebih ngirit lagi pulang ke solo tiap minggu ikut rombongan. Semua kereta bisnis tiap minggu mesti ada rombongannya baik itu senja jogja maupun senja solo. Tapi ya itu kalau gak dapat tempat duduk yang harus nglesot. Tapi ngiritnya tarifnya murah sekitar Rp. 30 ribu dari Stasiun Senen atau Stasiun Jatinegara. Tapi kalau baliknya biasanya mereka beli tiket.

  4. singgihs berkata:

    salam kenal, Pak.

    Coro pun bisa menjadi fitnah, ya Pak. Untuk menempuh hidup hemat ternyata ada ujian. Semoga tetap istiqomah.

  5. aldohas berkata:

    mending uda jenazah,
    coba klo masih kliaran…
    hii…
    🙂

  6. Alim daya berkata:

    Assalamualaikum,

    Mas Anto Yth.
    Saya juga Alumnus Jepang. Dan senang sekali membaca serta bisa mengamati cerita-cerita anda selama di Jepang dan saat ini di Indonesia.

    Karena cerita tersebut sudah menjadi konsumsi publik, maka saya pun ibaratnya menonto film/sinetron memiliki beberapa pertanyaan dan saran mengenai jalan cerita kehidupan anda.

    1. Kenapa anda tidak membangun rumah/membeli rumah dan memboyong keluarga ke Jakarta?
    2. Selanjutnya pengeluaran anda menjadi bengkak karena anda harus menghidupi 2 atap plus ongkos transport yang mahal Jakarta-Solo. Kalau anda mau saving saya sarankan Istri dan keluarga di bawa ke Jakarta saja. Selagi tabungan anda mungkin masih ada, sebaiknya hal itu segera dilakukan.
    3. Kondisi anda kurang fit. Ditambah rutinitas anda yang tinggi dan anda harus mengurus diri sendiri dan harus melakukan perjalanan panjang tiap minggunya Jakarta-Solo. Di Indonesia tidak sama dengan di jepang yang transportasi sangat nyaman sehingga anda bisa komuter seperti itu. Sebelum kesehatan anda tambah memburuk, saya pikir anda harus membenahi hal tersebut diatas.
    4. Pilihan saving anda dengan beralih pola hidup seperti yang anda ceritakan sangat berbahaya untuk kesehatan dalam waktu pendek.

    Saran saya ini dikarenakan saya merasa dekat dengan tulisan anda dan merasa ikut perduli. Bila ada kata yang salam. Mohon maaf.

    Wassalam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s