Kesan saya mengikuti BME Days 2008

Selasa dini hari saya berangkat ke Surabaya, untuk mengikuti seminar internasional BME Days 2008. Saya naik kereta Bima, berangkat sekitar pk.02.30 am dari Solo Balapan. Seharian sebelumnya saya tidak sempat tidur, karena harus menyelesaikan beberapa slide. Begitu kereta tidur, saya langsung berangkat…ups, salah ! Begitu kereta berangkat, saya langsung tidur lelap. Tau-tau bangun sudah lewat pk.5 pagi saat mendapat tawaran nasi goreng dari pramugari kereta.

Kereta sampai di Gubeng station sekitar pk.7 pagi. Saya menunggu dijemput teman, Mas Budi Santosa, dosen FTI di ITS. Sembari menunggu dijemput, saya beli kopi panas dan menikmati suasana pagi di stasiun.  Ini pertama kali saya menikmati suasana pagi di Gubeng. Stasiun-nya cantik, mengingatkan saya dengan stasiun Bandung. Bedanya, kalau di stasiun Bandung tidak ada life band, tetapi di Gubeng ada life band dengan suara yang ciamik. Lagu-lagu yang dinyanyikan bervariasi, mulai dari Jogjakarta-nya Kla, sampai lagu-lagu tempo doeloe.  Di sela-sela pentas band, sang penyanyi kadang meneruskan tugas petugas stasiun, mengulangi pengumuman kalau kereta ini dan itu sudah siap berangkat. Wah, benar-benar serba bisa. Jadi penyanyi suaranya cakep, tapi juga sekaligus baik hati mengingatkan calon penumpang kalau keretanya sudah siap. Kalau masih jomblo, orang sebaek mas penyanyi ini pasti jadi incaran calon mertua. Sayangnya satu : setelah mas penyanyi melantukan suara emasnya, koq nggak ada pengunjung yang tepuk tangan ya ? Sepertinya malu-malu semua. Kasihan penyanyinya,  seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sudah keras-keras bilang I love you, tapi tidak kunjung ada balasan. 

Saya sangat setuju kalau misalnya di tiap stasiun besar ada pertunjukan life seperti ini. Selain Gubeng, stasiun Solo Balapan setiap malam juga rutin ada pentas life keroncong. Suaranya merdu beneer, dan demikian memikat, seolah-olah membuat pendengarnya pengin pakai baju surjan dan blangkon. Ini benar-benar tanah Jawa, mas !

Kembali ke Surabaya. Di perjalanan saya diajak mas Budi makan pagi di soto lamongan. Saya lupa nama tempatnya, tetapi warung itu pernah ditampilkan di acara kuliner pak Bondan. Sotonya uenak tenan. 

Saya sampai di ITS sekitar pk.9.15 pagi. Setelah registrasi saya masuk ke ruang seminar. Wah, senang rasanya ketemu teman-teman lama maupun mendapat teman baru di sana. Ada Pak Son Kuswadi, Prof.Hery Mauridhi, pak Alfred, mas Achmad Arifin, mas Sardjono, mas Adrian B. Suksmono, Gus Ipin (mas Agus Zainal Arifin) dll. Seminar ini bertemakan biomedical engineering, sehingga terminologi kedokteran dan engineering muncul di sana-sini. Sayangnya tadi saya tidak ketemu rekan yang dari latar belakang medis. Saat Prof.Verkerke menyampaikan keynote speechnya, saya menanyakan ke beliau bagaimana tips untuk menggalang komunikasi dengan kalangan medis.  Prof.Verkerke (Rijksuniversiteit Groningen, Netherlands) menjelaskan kalau memang tidak mudah bagi seorang engineer untuk menjalin hubungan penelitian yang manis dengan kalangan kedokteran (demikian juga di Jepang dan di Indonesia). Budaya kedua bidang itu berlainan. Dokter misalnya, saat menginginkan satu sistem dibuat, akan minta agar sistem itu jadi besok pagi. Padahal bagi seorang engineer, mendevelop sistem seperti itu memerlukan waktu yang panjang. Tidak bisa dalam sekejap diwujudkan. Jadi kata beliau, untuk menjalin hubungan yg harmonis, kita perlu memahami dan saling menghormati perbedaan pola pikir dan budaya penelitian antara 2 bidang tsb. (engineer & medis). Pertanyaan saya yang lain kepada beliau mengenai scoliosis. Mengapa dalam slide yang beliau bawakan contoh2 yang ditampilkan adalah wanita. Apakah scoliosis ini hanya terjadi pada wanita ? Mungkinkan scoliosis ini diprediksi agar bisa dilakukan upaya preventif ? Beliau menjawab kalau memang scoliosis lebih sering terjadi pada wanita daripada pria, dengan rasio 1:10. Belum diketahui jawabnya, mengapa demikian.

Pada saat break ada yang unik dari seminar kali ini. Baru pertama kali saya menghadiri seminar dimana makanan yang disajikan didominasi makanan tradisional. Ada gethuk, ubi, dan…wah macam-macam makanan tradisional yang saya sendiri tidak tahu namanya. Makanan itu disajikan dengan apik, cantik dan  menarik. Mengingatkan saya pada kepiawaian orang Jepang dalam mengemas kue-kue tradisionalnya sehingga menimbulkan kesan bahwa kue-kue tradisional itu tidak kalah dengan burger, pizza, maupun kue-kue berkelas internasional yg lain.

Sesi berikutnya adalah seminar.  Cukup banyak presentasi menarik yang saya ikuti, menandakan bahwa riset biomedical engineering sudah mulai berkembang di Indonesia. Presentasi semua dilakukan dengan bahasa Inggris. Beberapa peserta dari LN juga turut hadir dan menyajikan materinya. Antara lain dari Malaysia, Iran, dsb. Secara keseluruhan penyelenggaraan seminar ini cukup rapi. Hanya ada satu masukan yang ingin saya usulkan ke panitia tapi tidak sempat menyampaikannnya. Pada panduan seminar, tabel yang berisi jadwal presentasi peserta hanya dicantumkan kode saja, sedangkan judul paper justgru dicantumkan di halaman lain. Dari segi penulisan sepintas terlihat praktis. Tetapi bagi peserta yang ingin mendengarkan presentasi orang lain justru agak merepotkan. Saya harus membolak-balik halaman, mencocokkan satu kode dengan tema presentasi yang tertulis di halaman lain, untuk menentukan presentasi apa yang menarik untuk didengar, dan dilakukan di ruang mana. Akan lebih mudah kalau di jadwal presentasi yang dibuat, antara jadwal presentasi, lokasi, kode paper, judul paper dan penulisnya ditulis pada satu tabel. Dengan demikian, orang yang ingin mengikuti satu presentasi akan lebih mudah bergerak, pindah dari satu ruang ke ruang yang lain menyesuaikan dengan tema yang ingin didengarkan.

Masukan kedua, mengenai timing. Waktu yang dialokasikan untuk presentasi adalah 3 menit untuk persiapan dan pergantian dari satu penyaji ke penyaji berikutnya, 8 menit presentasi dan 4 menit tanya jawab.  Sebaiknya dalam presentasi, selain moderator ada juga staf yang bertugas sebagai “time keeper”. Tugasnya memberi tanda saat presentasi sudah sampai menit ke 5 (misalnya), dan saat waktu habis (genap 8 menit).  Tanda itu bisa diberikan dengan membunyikan bel, atau kalau tidak ada, bisa dengan memukulkan sendok ke gelas kosong ….”ting” pada saat 5 menit dan “ting ting” pada saat waktu habis.  Hal ini akan memudahkan peserta dalam mengatur timing saat presentasi, daripada sang moderator harus mengingatkan secara lisan “waktu tinggal 1 menit”. Hal ini dilakukan di seminar2 yang saya ikuti di Jepang, dan cukup membantu baik bagi moderator maupun bagi penyaji makalah.

 Secara keseluruhan, seminar hari ini berlangsung lancar dan mampu menjembatani komunikasi antar peer, baik yang sebidang maupun dengan peneliti yang berlainan bidang. Semoga saja di tahun depan, kegiatan seminar ini bisa dipertahankan dan semakin banyak diikuti oleh peneliti di Indonesia.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di trip report. Tandai permalink.

2 Balasan ke Kesan saya mengikuti BME Days 2008

  1. Taufani Rizal N berkata:

    Halo mas..
    Datang k BME Days 08 kemarin y..
    Saya mewakili segenap panitia BME Days 08 mengucapkan terima kasih atas reviewnya..
    Semoga mas senang datang ke Surabaya dan ITS..

  2. Son Kuswadi berkata:

    Dear Pak Anto,
    Alhamdulillah, senang sekali saya berjumpa dg Pak Anto tempo hari di BMEDays 2008. Saya juga mendapat kesan yg sama, teman2 panitia cukup baik menjalankan amanah dalam penyelenggaraan BME Days kemarin. Padahal saya tahu sendiri, begitu banyak kendala yg mereka hadapi, tetapi dg semangat “Suroboyo”annya yg “bonek”, akhirnya seminar tersebut berlangsung sukses.. 🙂

    Yg saya heran.., kita itu ketemunya kalau pas seminar, baik di dalam mau pun luar negeri, tapi belum pernah ketemu di kantor kita padahal jaraknya cuma bbrp meter saja….

    Memang benar teorinya Mbak Einstein.. “relativitas”… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s