Kenichi & Budaya instan

Saat masih tinggal di Jepang dulu, saya punya seorang kawan. Dia orang Jepang asli, studi di salah satu perguruan tinggi besar di Jepang. Kami menyelesaikan studi doktoral pada saat yang sama, tetapi berlainan bidang. Saya pada bidang komputasi, sedangkan kawan saya tsb. pada bidang material.  Untuk mudahnya sebut saja namanya Kenichi. Setelah lulus saya bekerja di Chukyo Univ. sebagai dosen, sedangkan Kenichi diterima di perusahaan besar JR, PJKA-nya Jepang. Fikir saya dia akan bekerja di R&D, karena kemampuan intelektualnya yang tinggi.

Beberapa bulan berselang, Kenichi main ke rumah saya di Nagoya. Kami saling bercerita kesibukan kerja masing-masing. Ternyata perjalanan karir Kenichi diluar dugaan saya. Dia tidak langsung bekerja sebagai peneliti di JR. Tetapi diharuskan untuk mengikuti berbagai pelatihan berkaitan dengan perkeretaapian. “Aku harus mengikuti kursus mengemudikan shinkansen (bullet train), To. Kami diwajibkan memiliki unten-menkyo (SIM) shinkansen”. Jadi sehari-hari dia berlatih dan ikut praktek mengemudikan kereta shinkansen, yang kalau melaju dengan cepat bisa mencapai 200-300 km/jam. Setelah berbulan-bulan akhirnya bisa juga dia memperoleh menkyo. Setelah itu dia diputar ke bagian lain, yaitu kebersihan. Dia harus mengikuti pelatihan dan turut bekerja menyapu, mengelap,  dan berbagai tugas kebersihan lain dalam kereta. Usai bekerja di bagian itu, Kenichi diharuskan mempelajari ketrampilan sebagai montir, memperbaiki berbagai kerusakan yang mungkin terjadi pada sebuah kereta. Jadi bisa bayangkan kalau dia mungkin akan berbaju yang serba kotor, pakai helm pengaman, dan mungkin wajahnya tercoreng-moreng hitam sana-sini, serta basah oleh keringat. (Jadi kalau anda sedang naik shinkansen di Jepang, bisa jadi supirnya atau petugas kebersihan yang anda lihat itu mungkin PhD holder).  Saya penasaran dan tanya. Terus kapan kamu mulai bekerja sebagai peneliti ? “Mungkin baru lima tahun lagi, To”, begitu jawabnya.

Saya angkat topi untuk Kenichi dan pola kerja di perusahaan Jepang tsb. yang tidak membedakan mana doktor, mana master, dsb. Dengan bekal pengalaman yang demikian kaya, saya percaya kelak Kenichi akan menjadi peneliti yang handal. Dia kelak bisa memformulasikan masalah dan mendesain solusi yang tepat dengan kondisi lapangan.  Misalnya jalannya kereta terasa janggal, orang seperti dia tentu bisa memperkirakan, bagian mana yang kurang beres, ataukah kurang minyak, bautnya kurang kencang, dsb. Seorang peneliti yang sebelumnya telah ditempa bertahun-tahun dengan pengalaman di lapangan atau laboratorium, akan memiliki wawasan yang luas dan insting yang tajam.  Tema penelitian yang dibangun tentu akan menarik, bermanfaat dan tepat guna, karena tidak dikerjakan secara instan.

Kalau kita ingin menjadi peneliti, konsultan yang berhasil, sudah sewajarnya kalau kita memiliki pengalaman matang dan track record terlebih dahulu di bidang tsb. Tanpa memiliki pengalaman matang, saya khawatir kalau pendapat, solusi atau masukan yang kita berikan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Bisa jadi akan overestimate atau mungkin malah underestimate terhadap satu problem. Untuk mendapatkan pengalaman yang kaya dan track record yang cukup, memang memerlukan waktu yang lebih lama. Tetapi itu yang harus ditempuh, agar tidak jatuh pada budaya instan. Kelihatannya indah, tetapi tidak kena sasaran karena fondasinya tidak kuat.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kenichi & Budaya instan

  1. Risa Suryana berkata:

    Menarik sekali apa yang disampaikan oleh mas Anto.
    Saya kebetulan masih satu genus dgn bidang yg dipelajari oleh Kenichi yaitu material tapi dgn kemampuan intelektual yang berbeda karena Kenichi sejak kecil makan nasi Jepang tapi saya makan nasi dari beras PNS (he..he..he..ini mah kankenai).
    Dulu sebelum datang ke Jepang yang ada dibenak saya adalah saya akan melakukan penelitian dgn alat-alat yang canggih. Tinggal pencet tombol ini dan itu untuk mengontrol gas yg masuk tetapi perkiraan saya salah besar. Saya diberi alat yg furui (butut). Gas line belum tersambung, sample holder belum ada, high voltage power belum ada, dan mulailah di tahun pertama saya diajari bagaimana cara mendesain alat. Dimulai dari gambar kasar, terus digambar pake adobe illustrator, dan ke bengkel untuk membuat alat sebenarnya. Diajari juga bagaimana memilih material alat berdasarkan titik leleh bahan. Sejak itu, kerjaan sehari-hari saya tak lepas dari PBB (potong, bor dan bubut). Berkotor-kotor ria karena akrab dgn minyak dan oli. Setahun lebih saya habiskan waktu hanya untuk persiapan.
    Itu semua terjadi lima tahun yang lalu, dan sekarang saya sudah bekerja sebagai peneliti. Saya bisa menggunakan alat2 yg canggih dgn tetap tidak meninggalkan alat2 yg furui. Pengalaman lima tahun lalu sangat-sangat membantu terhadap pekerjaan saya sekarang.

  2. dikshie berkata:

    menurut cerita teman ada alumni Keio juga (master holder dan PhD holder) jadi masinis Shinkansen kok 🙂

  3. sari berkata:

    wah seru ya…. hebat!! memang begitulah seharusnya orang bekerja, jika ingin profesional haruslah mengerti lapangan, kondisi, permasalahan, and mengerti basicnya, jadi bisa mengatasi permasalahan dengan berbagai cara, seperti tadi yang dibicarakan oleh pak anto, tidak hanya diperkenalkan dengan peralatan yang serba canggih and otomatis, tapi juga dengan peralatan kuno or jadul, jadi ketika permasalahan timbul dapat diselasaikan oleh peralatan yang ada, maybe darurat!!who no?! kapan ya indonesia can be like that? mungkin tahun 2500 X ye??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s