Project X: “I want Sony”

Di antara berbagai film yg saya lihat di Jepang, ada salah satu film project X yang sangat berkesan bagi saya. Alkisah di negeri kaisar Hirohito, ada perusahaan besar SONY yang berusaha mengembangkan sayapnya ke daratan Eropa. Salah seorang staf diberikan tugas berat. Dia harus bisa memasarkan radio transistor produk Sony di Eropa. Sang staf pun dengan penuh semangat, berangkat ke Eropa, dan memilih Jerman sebagai tempat memulai tugasnya. Dia mulai memasarkan, menjual produk Sony. Sayangnya sang dewi fortuna masih enggan menghampiri dia. Sampai setahun, tak ada satu produk pun yang terjual. Untuk mengetes seberapa jauh nama “Sony” dikenal, dia mencoba masuk restoran, dan pesan dengan aksen Jepang yang kental: “I want Sony”. Tapi apa kata pelayan ? Pelayan bingung, karena kata “Sony” asing dan tidak dikenal sama sekali. “Apa itu Sony ? Di sini adanya wine, beer. Tuan pesan apa ?” Tapi dasar orang Jepang, nggak ada kata menyerah dalam kamus-nya. Dia punya keinginan kuat agar suatu saat nama Sony akan berkibar di Eropa, dan dikenal baik bahkan oleh pelayan restoran tadi. Di mana ada tekad, disitu ada jalan. Setelah setahun gagal melulu, dan tak berhasil menjual, hatta 1 buah radio pun, dia mendapat saran dari teman Jermannya. Sarannya, agar menaruh produk Sony itu di toko yang menjual barang mewah, karena pride orang Jerman sangat tinggi. Jangan sekali-kali menjual murah, atau pun di tempat-tempat yang tidak elit. Saran itu dituruti, dan dia minta bantuan mahasiswa sebagai tukang promosi. Mereka diminta menjadi “osakura”. Osakura dalam bahasa kita adalah “penggembira”, orang yang diminta pura-pura jadi pengunjung demi melancarkan penjualan radio transistor. Strategi ini ternyata berhasil sukses. Satu demi satu radio transistor Sony mulai terjual. Nama Sony mulai berkibar di Eropa dan meraih keuntungan besar. Sang staf pun akhirnya kembali ke restoran yang sama, dan dengan aksen Jepangnya yang kental, dia pesan ke pelayan “I want Sony” Ternyata kali ini pelayan menjawab “Wah, Sony itu kan nama radio transistor, tuan.  Di sini nggak jual radio transistor Sony. Adanya wine dan beer. Tuan pesan apa ?” Dan sang staf pun akhirnya tersenyum puas. Tugasnya mengibarkan bendera Sony di daratan Eropa berhasil. Dia bisa kembali ke Jepang dengan kepala tegak dan senyum menghias di bibir. “Yatta !” (I made it).

Catatan:

tulisan ini saya buat berdasarkan ingatan saya mengenai isi film itu. Karena tidak menyimpan rekamannya, ada kemungkinan catatan saya tidak sama persis dengan film. Kalau ada rekan  yg mengetahui ketidaksesuaiannya, tolong saya diberitahu. Thanks.

PS: ternyata ada yang sudah mengupload film tsb. di http://www.tudou.com/programs/view/Y0ZWErmITLA/?fr=rec1&FR=LIAN

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di living in Japan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s