Yorugata dalam kehidupan laboratorium

Yorugata artinya “tipe malam”. Istilah ini sering kami pakai untuk menyebut mereka yang lebih menyukai bekerja di malam hari daripada di siang hari. Saat masih student dulu saya, saya lebih sering bekerja sesuai dengan pola normal, yaitu siang hari, tetapi tidak jarang juga saya bekerja lewat tengah malam. Kerja malam hari seperti demikian, dalam bahasa Jepang disebut juga “tetsuya”.  Agar bisa tetsuya, saya perlu tidur agak awal, dan tengah malam kemudian bangun, bersepeda ke kampus, melewatkan malam sunyi di lab.  Kebetulan dari rumah ke kampus kalau naik sepeda cuma makan waktu 5 menit.  Suasana malam yang sepi sangat enak buat belajar dan berkonsentrasi. Untung istri saya dulu mengizinkan saya demikian. Oh ya, biasanya kalau datang tengah malam, ada beberapa teman yang menginap di lab. Hal seperti ini lazim ditemui di lab. perguruan tinggi di Jepang. Sensei pun banyak juga yang melewatkan malam di lab. Pernah juga saat melewatkan malam di kampus,  tiba-tiba sempai (senior) mengajak saya masuk ke ruang seminar, untuk diskusi berdua di tengah malam. Gila ! Tapi saya bisa memahami perasaannya sih. Dia demikian excited saat menemukan model matematika pergerakan mata yang dikaitkan nantinya dengan upaya pembangunan metode feature extraction untuk huruf. Walaupun agak ngantuk-ngantuk dan nggak begitu faham dengan apa yang dia ceritakan, tetapi saya berusaha konsentrasi juga dengan penjelasan si abang 😀

Belajar memang memerlukan pengkondisian. Suasana lingkungan harus diciptakan, diubah sedemikian rupa sehingga enak dipakai untuk konsentrasi. Itu sebabnya suasana lab. di Jepang banyak yang tidak mirip kantor, melainkan tempat tinggal. Ada bed, ada TV, komik, kompor, almari es, papan catur, raket…(eits..koq kebanyakan alat hiburan yah ?), disamping buku-buku, PC, dsb. Barangkali karena terlalu nyaman, teman-teman saya di lab. dulu sering masak mie, dsb. Sensei langsung mengirim email peringatan: “minasan, kenkyuushitsu wa kenkyuu wo suru tokoro desu. Ryouri wo tsukuru tameno tokoro dewa arimasen” (anak-anak, laboratorium adalah tempat melakukan penelitian, bukan tempat memasak makanan)…hahahaha 😀  Langsung deh, habis itu esoknya kami tidak pernah lagi membuat mie di lab.

Lain lab. lain pula culture-nya. Saat saya masih bekerja di Chukyo University, saya sering membantu prof.Hasegawa dalam seminar lab. Karena padatnya jadwal sensei, dan banyaknya mahasiswa yang dibimbing dalam laboratoriumnya, seminar baru mulai setelah pk.7 malam, dan biasanya baru selesai esok pagi-nya. Selama seminar, anak-anak dan sensei tetap semangat mengikuti diskusi yang dilakukan. Mungkin juga karena pandainya Hasegawa sensei dalam memancing diskusi, sehingga topik yang menurut saya kurang menarik, bisa didiskusikan dari berbagai sisi, kemana harus dikembangkan, apa yang harus dilakukan, sehingga saya bisa juga menemukan sisi-sisi mana yang menarik dari tema tsb. Pelajaran yang saya catat adalah sesederhana apa pun tema yang disajikan, kalau kita pandai mengemasnya, atau menemukan sudut pandang yang tepat dalam membahasnya, maka tema itu akan menjadi menarik. Tentu saja ini membutuhkan pengetahuan dan wawasan yang luas, serta insting yang terlatih oleh akumulasi pengalaman bertahun-tahun.

Sementara ini saya belum terfikir untuk mencari kesempatan melakukan penelitian (postdoct atau short term visit) di Jepang. Saya masih ingin menseriusi niat mengembangkan riset datamining di kantor. Tetapi kalau lah ada kesempatan untuk ke Jepang,  ada dua hal yang tidak ingin saya lewatkan: (1) menikmati cafe au lait di mister donat (2) melewatkan malam di lab. ditemani minuman kocha-kaden (milk tea)

NB:
Bu Is Helianti, peneliti BPPT yang menyelesaikan studi di Jepang pernah membuat tulisan menarik mengenai perbedaan pola kerja lab. antara peneliti di Jepang dan peneliti di Jerman. Silakan klik ke sini untuk membaca tulisan beliau.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di living in Japan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Yorugata dalam kehidupan laboratorium

  1. neta berkata:

    menarik sekali pak

  2. serpent berkata:

    Wuiiiiiii! gw salut deh, kuliah di jepang…
    Gimana caranya tuh bg? bhasa jepangnya kan ribet tuh?
    2 thumbs up!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s