Cinta

Kali ini saya ingin menuliskan, pendapat saya tentang “cinta”. Saya sering nggak sreg melihat berita-berita di TV yang memberitakan perceraian suami istri karena tidak adanya kesesuaian pandangan, perilaku dan sebagainya, padahal sebelumnya mereka menggebu-gebu menyatakan “cinta” saat akan menikah. Itu sih, bukan “cinta”. Pendapat saya, “cinta” itu adalah perasaan yang baru tumbuh setelah bertahun-tahun sepasang suami istri mengarungi bahtera pernikahan. Sedangkan sebelum menikah, yang ada hanyalah rasa sayang sebagai bibit tumbuhnya cinta. Rasa cinta baru dapat diraih setelah biduk kehidupan sepasang suami istri bertahun-tahun diayun-ayun oleh gelombang, diterpa ombak samudera. Berpegangan erat, saat  dibawa ombak ke puncak kebahagiaan, dan saling menghibur kala terhempas oleh duka dan coba. Cinta suami-istri baru tumbuh setelah mereka berdua bertahun-tahun mengarungi suka-duka kehidupan. Mungkin saat itu dahi mereka sudah berkerut, karena beban hidup. Atau tangan yang dahulu halus lembut, sudah kasar…eh maksud saya tidak sehalus dulu lagi karena sehari-hari menangani pekerjaan rumah tangga. Tetapi bagi sang suami, istrinya adalah wanita tercantik di dunia. Demikian juga bagi sang istri, suaminya -walaupun sekarang aroma Aqua di Armani yang dulu sering tercium sudah terganti oleh bau keringat karena kerja seharian- adalah pria yang paling mempesona, tak ada duanya. Stroom-nya makin kuat terasa. Panggilan “dik”, “mas”, “sayang”, “chay”, “chayank”, “honey”, “akang”, “aa”, “abi”, “umi”, “umi-chan”, “pak-e”, “bu-ne”, whatever-lah serasa jadi senandung indah. Cinta adakalanya timbul di tengah keluarga yang tinggal di rumah gedongan nan mewah. Cinta bisa juga ditemukan di keluarga yang tinggal di rumah kontrakan sederhana yang kalau hujan turun kadang harus menaruh ember di bawah langit-langit yang bocor, dan bersusah payah menge-pel lantai yang basah (ah, jadi ingat bapak dan ibu-ku sendiri). Bahkan cinta pun bisa saja ditemukan di keluarga “manusia gerobak” yang sehari-hari mengukur jalanan dengan gerobak-nya memulung barang demi mempertahankan hidupnya. Tuhan itu Maha Adil. Rasa cinta dan kasih sayang itu universal, dan boleh dimiliki siapa saja. Semoga kita mendapatkan karunia keluarga sakinah, keluarga harmonis yang hari-harinya penuh dengan kehangatan.

Note: tulisan ini terinspirasi dari blog dr.Lilis, teman SMA saya dulu.

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di keluarga. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s