Catatan perjalanan ke Jogja naik Prameks

Minggu pagi kami sekeluarga ke Jogja, menengok ayah Ine yang baru pulang dari Haji. Berbekal dengan jadwal kereta di tangan, kami melangkahkan kaki dengan mantap ke stasiun Balapan. Apa daya ? Ternyata jadwal yang kami pegang salah dan out of date. Tertulis di jadwal lama 07.30, padahal sejak Juli 2008 kemarin jadwal berubah dan tidak ada kereta pada jam tersebut. Yang paling dekat adalah 08.45. Akhirnya kami putuskan menunggu di bale Manganti, daripada pulang lagi ke rumah.

Di Bale Manganti, seorang pelayan restoran menawarkan minuman dan menyodorkan menu. Teh hangat 4 ribu, beras kencur 7 ribu. Kami pesan dua minuman tsb. Waktu pesanan tiba, ternyata kami mendapat tambahan 2 potong rolade. Saya bilang, “Loh mas. Kami nggak pesan rolade, koq”. Kata mas-nya “Ini sudah jadi satu paket, pak”. Ya wis. Akhirnya kami habiskan juga rolade-nya. Yang nggak enak itu buntut-nya. Maksud saya, waktu bayar di kasir, saya dapat tagihan 14 ribu ? Mahal amat ? Saya periksa ulang harga di menu, dan protes “Mestinya kan 11 ribu mbak ?” Tapi oleh mbak yang di kasir dijelaskan, kalau harga itu sudah termasuk rolade. Saya bantah lagi, kan saya nggak pesan rolade ? Coba deh, periksa notes pemesanan-nya. Tapi mbak-nya ngeyel lagi “Iya pak. Sekarang jualnya per paket.” Waah, saya gag terima. Ini namanya menipu konsumen ya ! Kalau mau menjual per paket, ya harga di menu diubah dong. Atau setidaknya disampaikan secara lisan. Kalau kejadian seperti ini namanya mengelabui konsumen ! Disodorkan harga lama tetapi waktu bayar dikenakan tarif baru. Selisih 3 ribu sebenarnya nggak banyak Tapi ketidakjujuran itu yang membuat saya marah. Akhirnya saya bayar 11 ribu. Nggak mau lebih dari apa yang tertulis di menu. Kalau kurang 3 ribu, ya tolong deh…situ yang bayar sendiri kekurangannya. Heran saya.  Berbohong koq terang-terangan dan nggak malu-malu.

Moral of the story:
kalau pesan menu di Bale Manganti, anda perlu cek ulang dari awal: harga sebenarnya berapa. Hitung terlebih dulu tarif yang harus dibayarkan untuk menghindari kasus di atas terjadi.

Kami akhirnya sampai di Pengok. Papa (ayah Ine) masih lemas, tetapi sudah bisa jalan ke depan TV, sudah bisa cerita banyak kejadian selama di Mekkah. Kami pulang kembali ke Solo naik Prameks pk.14.30. Tempat duduk sebenarnya sudah penuh, tetapi ada seorang ibu yang kasihan melihat Ine menggendong Alya, sehingga menawarkan sedikit space di tempat duduknya. Ah, masih ada juga orang baik budi yang saya temukan di kereta. Terima kasih ya, bu. Saya dan Tika memilih menggelar koran dan duduk di bawah. Kebetulan juga Tika sedang ngantuk,  dan akhirnya tertidur di pangkuan saya. Alya yang baru bangun sepertinya iri melihat kakaknya tidur di pangkuan saya, dan akhirnya dia minta  saya pangku juga.  Ryoute ni hana. Hati saya bersenandung lagu Armstrong, “I see trees of green, red roses too, I see them bloom, for me and you, And I think to myself, what a wonderful world”. Satu jam kemudian sampai di stasiun Solobalapan, dan boncengan motor berempat pulang ke rumah. Sampai di rumah, kami berlari-larian, mengambil jemuran, karena hujan sudah mulai turun….. “Yes I think to myself, what a wonderful world….Oh yeah”.

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, trip report. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Catatan perjalanan ke Jogja naik Prameks

  1. ardi berkata:

    idem dengan mas Anto, untuk hanya membayar 11 rebu saja.
    kasir dan restorannya harus dikasih pelajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s