Menjelaskan masalah Islam kepada orang Jepang

Pada bulan Juni 2005, saya diminta Prof.Mina Hattori (saat itu beliau menjadi associate professor di Kyouiku-hattatsu-kenkyuuka, Nagoya University) untuk menjadi nara sumber, menjelaskan konsep Islam terhadap orang-orang Jepang di kelasnya. Kelas bu Hattori adalah kelas budaya yang diselenggarakan di gedung NHK Nagoya. Beliau mencoba menjelaskan konsep Islam secara lebih “fair”, karena pemberitaan di TV Jepang saat itu kurang adil dalam menyajikan Islam. Bu Hattori pernah lama tinggal di Indonesia, dan penelitian S3 nya mengenai pendidikan wanita Islam di Indonesia. Kebetulan sekitar th.94 saya membantu beliau belajar baca tulis Al Quran, sebagai persiapan riset beliau ke madrasah Dinniyah Putri Padang Panjang.

Menjelaskan konsep Islam kepada orang Jepang tidak mudah. Kita harus memahami cara berfikir mereka, agar penjelasan kita bisa difahami.

Berikut catatan pertanyaan yang diajukan & jawaban saya saat itu:

  1. Bagaimana sikap anda terhadap orang yang non muslim ? Apakah orang Islam boleh bisnis dengan orang non-muslim ?
    Saya bilang boleh saja, kenapa tidak ? Rasulullah pun berdagang dengan orang non-Islam, dan tetap menjaga amanah. Bagaimana pun bencinya orang jahiliyah pada Rasul, tetap mereka berpendapat bahwa Nabi Muhammad tidak pernah berkata bohong. Jadi pendapat saya, orang Islam pun diajarkan agar tetap bergaul baik dengan orang non-muslim. Tak ada perbedaan.Diskusi berkembang ke arah situasi di Irak. Saya coba hati-hati untuk memakai kata-kata “Amerika”, “Jepang” dsb. Saya pisahkan antara sikap pemerintah Amerika dan sikap warga Amerika. Sama juga dengan sikap warga Jepang tidak selalu tercermin dari kebijakan pemerintah-nya. Seperti kita tahu, banyak orang Amerika maupun orang Jepang yang tidak setuju dengan kebijaksanaan pemerintahnya. Peserta saya ajak berfikir, sebenarnya siapa sih yang teroris ?  Sekarang ini yang diblowup di TV adalah serangan dari satu pihak Irak ke tentara Amerika dst. Tapi kenapa tidak pernah dibahas lagi, apakah agresi ke Irak itu dapat dibenarkan ? Bukankah alasannya awalnya karena “senjata nuklir”, tapi belakangan semua tahu bahwa senjata nuklir itu tidak pernah ada. Kalau asumsi awalnya sudah salah, berarti tindakan Amerika di Irak tidak dapat dibenarkan. Peserta menanggapi bahwa sebenarnya tindakan Amerika itu semata-mata untuk kepentingan minyak. Jadi orang Jepang pun sebenarnya juga tahu apa alasan agresi ke Iraq tersebut. Saya pernah ikut kenkyukai, dan di forum tersebut pembicara mengkritik cara berfikir politikus yang dikatakannya tidak disampaikan atas dasar logis. Tapi segala hal, kalau sudah nyangkut ke politik,  pertimbangannya jadi rumit ya.
  2. Apakah anda berfikir bahwa orang Jepang itu menganut faham mushinron (atheis, disini “shin” memakai huruf “kami” nya kamisama) ?
    Awalnya saya fikir demikian. Tapi kalau saya perhatikan, bukankah orang Jepang juga pergi ke jinja, dan di sana ada patung-patung yang disembah. Demikian juga bukankah banyak di antara anda yang percaya adanya “kami” di sungai, di laut, dsb. Jadi ini fakta pertama kalau tidak benar orang Jepang tidak ber-“tuhan”. Fakta kedua, pernah diadakan sensus jumlah penganut agama (saya lupa tahun-nya) di Jepang. Hasilya jumlah penganut agama di Jepang adalah dua kali dari jumlah penduduk. Mengapa ini terjadi ? Saat diteliti, ternyata banyak orang yang mengisi lebih dari 1 agama. Sering kita dengar, trend di Jepang : lahir sebagai shinto, menikah sbg kristen, meninggal sebagai budha. Jadi salah kalau saya berfikir bahwa orang Jepang tidak percaya pada “tuhan”. Tapi saya rasa kita berbeda persepsi ttg “tuhan”, karena dalam agama Islam, orang Islam beriman pada satu Tuhan, yang tidak tampak, dan tidak dapat dibicarakan zat-nya, karena kemampuan berfikir kita terbatas. Dalam Islam, kita diajarkan untuk memikirkan ciptaan Tuhan. Kita merasakan keberadaan Tuhan secara indirect, yaitu lewat ciptaan-Nya, bukan dengan membayangkan dan mendiskusikan zat Tuhan.  Setelah diskusi selesai, saya ngobrol lama dg bu Hattori ttg perbandingannya dg agama Budha. Kata bu Hattori, ada kenalannya seorang sensei yang riset-nya tentang Budha, menyatakan kira-kira bhw. sebenarnya dalam agama Budha kalau diteliti lebih jauh, ada ajaran tentang Tuhan yang tidak tampak, sebagai causa prima. Sang Budha sendiri diposisikan sebagai nabi, atau perantara, jadi menurut sensei tsb. ada kemiripan dg filsafat keTuhanan dalam Islam. Dalam Islam, hal ke-Tuhanan memang sulit untuk dibicarakan. Tuhan adalah Zat yang Maha Rahasia. Yang Rahasia tidak akan dapat kalau tidak dikasih tunjuk oleh Yang punya rahasia. Satu-satunya orang yang telah ditunjuki adalah Nabi Muhammad (dan tentunya Nabi yang sebelumnya). Jadi untuk mengenal Tuhan secara benar, kita tidak ada pilihan lain dengan melalui way to God, yang sama persis dengan Muhammad SAW. Upaya mengenal Tuhan ini antara lain diseriusi sebagian umat dengan menjalankan suluk (khalwat/iktikaf) berpuluh-puluh hari, yg sering dikategorikan dalam ilmu tarekat dalam tasawuf.  Mereka melakukan perjalanan rohani, dalam upaya mencari rido Tuhan. Dalam agama Islam banyak ajaran ttg hal-hal yg sifatnya gaib, seperti surga, neraka, dsb. Faham saya, sebaiknya dalam membahas hal-hal ini kita perlu berhati-hati agar tidak terlalu memaksakan membayangkannya dengan kondisi alam yg kita tempati. Kalau untuk pendidikan anak memang apaboleh buat, perlu contoh yg riil, jadi mungkin gambar-gambar surga dan neraka akan membantu pemahaman si anak. Tapi kalau berlebihan dan berkelanjutan,  khawatirnya nanti akan membuat image yg tidak benar ttg. surga. Demikian juga dengan Tuhan. Kalau terlalu dipaksakan memikirkan Tuhan dengan akal fikiran, akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang seolah “mendesak” Tuhan, mempertanyakan kebijakan Tuhan, dsb.  Hal ini yg saya khawatirkan, karena keterbatasan akal fikiran yg terbelenggu oleh dimensi waktu dan ruang ini, akan jatuh dan mempersonifikasikan Tuhan, dan kita akhirnya salah dalam mengenal  siapa sebenarnya Tuhan itu. Padahal sesuai konsep Tauhid, Maha Suci Tuhan daripada segala yg dibayangkan manusia. Dia tidak sama dengan ciptaan-Nya.
  3. Bagaimana pandangan masyarakat Islam di Indonesia maupun di dunia umumnya terhadap teori evolusi & Darwinism ?
    Sebenarnya ini bukan keahlian saya. Saya mendapat masukan dari beberapa rekan mengenai uraian  Harun Yahya. Setelah saya baca, saya tidak puas dengan argumentasi ilmiahnya. Masukan kedua dari Pak Gunawan Hadiko, yaitu artikel yg ditulis Dr.Thomas Jalaluddin (peneliti LAPAN, alumni Kyoto University. Kakak-nya Pak Gun). Nah, ini yang saya cari. Rasanya lebih masuk akal dan logika  penyampaiannya benar. Walaupun ada beberapa hal yang saya belum jelas dan informasinya agak out of date (misalnya ttg derajat kemripan genetik simpanse dan manusia, saat ini sudah bukan 1.5% lagi melainkan sekitar 5% dari paper terbaru di PNAS). Sayang saya belum temukan lagi artikel yg dulu diberikan Pak Gun.
  4. Bagaimana pandangan Islam mengenai kemungkinan adanya kehidupan di luar bumi ?
    Kalau dari sisi pandangan Islam, saya tidak bisa menjawab. Tetapi kalau saya pribadi ditanya, saya jawab simpel saja, kalau saya juga tidak tahu. Justru kalau anda punya informasinya, mohon saya juga dishare informasinya.  Tetapi sampai saat ini kenyataannya hanya manusia satu-satunya makhluk hidup di angkasa raya ini.

Selain pertanyaan2 di atas, saya juga menjelaskan kepada peserta mengenai konsep akherat dalam pandangan muslim. Masyarakat tradisional Jepang mempercayai terjadinya reinkarnasi. Dalam pandangan Islam, reinkarnasi tidak dikenal. Islam menjelaskan bahwa seseorang dalam hidup akan mengarungi 4 fase:  sebelum lahir, alam dunia, kubur, akhirat. Jadi agar jelas, saya tarik garis dan membaginya ke 4 step untuk masing-masing fase. Fase sebelum lahir adalah saat ruh diciptakan, kemudian pada usia sekitar 2 bulan kandungan ruh dimasukkan ke janin. Setelah lahir, sejak saat itulah seseorang memasuki fase hidup di dunia. Setelah meninggal, manusia akan memasuki alam ke-3 yaitu alam kubur. Setelah hari kiamat, dibangkitkan dan diadili oleh Allah SWT. Setelah itu sang manusia akan masuk ke surga atau neraka. Demikian dengan sederhana saya jelaskan kepada mereka, dengan menghindari pembahasan beberapa issue kompleks yang tidak mudah dijawab, seperti dimanakah letak surga itu, apakah surga itu telah ada saat ini, dsb.

Wallahu a’lam bissawab.

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research. Tandai permalink.

6 Balasan ke Menjelaskan masalah Islam kepada orang Jepang

  1. nana berkata:

    menurut saya pidato nya bagus

  2. mae berkata:

    wah, ini yg kita banggakan. “akar” tidak tercabut dari pohonnya. tractor jepang sekalipun. bahkan calon hakase kenalan saya “mensyukuri” di poligami.

  3. prima berkata:

    Yth pak Anto mengenai pertanyaan no 3 menerik tuh dan aku punya teori boleh ya di post disini.

    1. Secara genetik sampai berapa derajatpun kemiripan gen simpanse dan manusia tetap saja diakhirnya gen membentuk simpanse ya menjadi simpanse dan gen manusia ya menjadi manusia. sebab sudah terbukti evolusi manusia ribuan tahun tidak terjadi evolusi juga di gen dan itu lah kenyataan sampai sekarang. Dan jika terjadi atau ada perubahan secara genetik itulah yg kita kenal sebagai penyakit seperti cancer dll.

    2. Dari segi agama Al-Qur’an meriwayatkan bahwa benar ada sebagian manusia (Yahudi) di Zaman dahulu yang dukutuk berubah menjadi Kera karena kesombongan mereka (ini perlu dicermati karena mereka dari manusia benar2 berubah jadi Kera tidak cuma hatinya tetapi secara keseluruhan fisik tidak perduli mereka berubah dalam sekejab atau butuh proses waktu, yg pasti itu sudah pasti karena tertulis) apakah sampel tulang-belulang mereka yag diambil darwin untuk mendukung teorinya? aku rasa itu yg mungkin terjadi.

    Kesimpulan saya:
    1. Manusia tidak perna berasal dari kera tetapi dari Adam yg superior (cerdas,berusia panjang dan mempunyai badan yang sempurna)
    2. Tentang teori darwin bisa ada 2 kemungkinan.
    a. darwin meriset dari kumpulan tulang belulang orang yahudi yang sudah berubah jadi kera makanya dia bisa menyimpulkan teori evolusi (dalam arti lain dia tidak komprehensif dalam meriset dibagian dunia lain)
    b. Atau sebenarnya darwin (secara sengaja ataupun tidak sengaja) tidak meriset tulang belulang manusia tetapi hanya binatang primata dan dia asosiasikan sebagai manusia?

    ini murni pendapat saya kalau ada pendapat yg lebih oke akan saya pertimbangkan.

    Salam

    Prima Sari Syam

  4. Stefan Hanafiah berkata:

    Maaf, saya tertarik ikut berdiskusi, boleh yah pak Anto :).

    @ Pak Prima
    Kalo seseorang punya teori tapi gak didukung sama bukti2 dan data2 ilmiah ya sama aja dengan khayalan belaka, justru itu yang membedakan science dengan cabang ilmu lainnya, karena science berusaha menjelaskan fenomena2 alam, mengumpulkan data2, lalu membuat teorinya berdasarkan bukti2 yang ada.

    Darwin sendiri awalnya adalah seorang yang taat beragama, dia sama sekali gak bermaksud menjatuhkan kepercayaan agama manapun. Dia sendiri sepanjang hidupnya selalu konflik dengan istri dia Emma yang adalah seorang yang sangat religius. Tapi apa boleh dikata, Darwin gak bisa membohongi hati dia sendiri yang trus bertanya2 setelah melihat keadaan kehidupan di pulau Galapagos.

    Bagaimana mungkin Iguana hidup dengan cara menyelam ke dasar laut untuk memakan lumut2 yang menempel di bebatuan? Kenapa kura2 Galapagos yang hidup di daerah yang cukup hijau mempunyai bentuk shell yang berbeda dengan kura2 Galapagos yang hidup di daerah lebih kering dan banyak tumbuhan kaktus? Kenapa burung2 finch di pulau Galapagos mempunyai bentuk paruh dan ukuran tubuh yang berbeda2, sesuai dengan lingkungan tempat hidup mereka? Dari pertanyaan2 ini, kemudian Darwin mulai bertanya2, dan akhirnya dia merumuskan inti dari teori Evolusi.

    Teori Evolusi sendiri sekarang udah jauh lebih berkembang dan teori yang sekarang adalah hasil dari modifikasi teori alsi Darwin, yaitu dengan menambahkan studi genetik ke dalam teori evolusi. Semua studi2 dari Geology, Archaelogy, Physics, Climatology, mendukung teori Evolusi, jadi menurut saya tidak ada alasan untuk tidak mempercayai teori Evolusi.

    @ Pak Anto
    Kalo menurut saya, jangan menjadikan Harun Yahya sebagai referensi.. Karena Harun Yahya itu bukan seorang scientist, dan yang dia lakukan hanyalah mencomot2 hasil karya scientist2 laen untuk digunakan demi kepentingan sendiri. Bahkan Harun Yahya tidak mampu membedakan ular dengan belut, kail mata pancing dengan serangga asli, dsb.. Kalo mau bapak baca2 bisa liat di artikel ini:
    http://richarddawkins.net/articles/2833

    Cuma sekedar meng-share unek2 saya saja :).

  5. @Stephan
    Good comments 🙂
    Memang saya tidak setuju dengan cara Harun Yahya membangun argumen-argumennya, dan dia memang bukan biologist. Tetapi
    satu argumen Stefan juga tidak saya setujui: “Semua studi2 dari Geology, Archaelogy, Physics, Climatology, mendukung teori Evolusi,” karena Stefan memakai kata “semua”. Secara matematis ini berat implikasinya, karena Stefan harus membuktikan tidak ada satu temuan apapun yang membuktikan bahwa teori tsb. salah.

    Teori Darwin sendiri bukanlah unalterable dogma, dan tetap bisa direject selama terbukti salah. Ini sifat semua teori dalam science. Beberapa yang terbukti salah dan direject a.l. teori transmutationism & transformationism (pls. read Ernst Mayr “What Evolution is”). Contoh lain yang saya ikuti dari diskusi di milis biotek adalah kasus pada fig wasps yang ternyata tidak mengalami evolusi selama 34 juta tahun.
    http://news.bbc.co.uk/2/hi/uk_news/england/hampshire/10321069.stm
    Debat seperti ini dalam sains adalah hal biasa saja. Satu teori bisa saja diterima satu saat, tapi bisa juga di belakang hari (bisa juga ratusan tahun kemudian) dimodifikasi atau digugurkan setelah ditemukan bukti baru. Metodologi pembelajaran dalam sains lain dengan metodologi kita memahami agama (baik Islam, Kristen, Katolik, Buda, dsb).

  6. Stefan Hanafiah berkata:

    @ Pak Anto

    Hehehe, sebenernya saya juga sudah tidak enak dari awal mau menggunakan kata “semua” karena pengetahuan saya juga masih terbatas, bagaimana mungkin saya bisa tau semua ilmu pengetahuan yang sudah dicapai oleh para scientist :). Tapi apa kata, udah terlanjut ke send, gak bisa di-edit lagi, hahahaha..

    Mengenai makhluk hidup yang tidak berevolusi setelah berjuta2 tahun menurut saya itu wajar2 saja.. Toh teori evolusi tidak mengharuskan suatu makhluk hidup untuk berevolusi menjadi makhluk lainnya. Setau saya, selama makhluk hidup itu bisa dibilang “sukses” dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya, maka makhluk hidup itu tidak perlu berevolusi. Maksud saya tidak perlu berevolusi itu adalah kalopun ada variasi baru karena mutasi genetik pada suatu individu, variasi yang lama tidak akan punah dan tergantikan oleh variasi baru, toh variasi yang lama masih sukses di tempat lingkungan ia hidup. Variasi baru dari suatu species karena mutasi genetik bisa menjadi spesies yang baru apabila terjadi spesiasi, dimana spesies tsb karena faktor alam, ato faktor apapun, terpisah dari populasi spesies dengan variasi yang lama, sehingga gene pool dari variasi baru tidak akan terpengaruh oleh gene pool dari variasi yang lama.

    Oleh karena itu kita banyak melihat makhluk2 hidup dengan ciri khas yang sama tapi terpisah oleh lautan yang luas, seperti misalnya makhluk hidup di Papua dan di Australia. Mereka awalnya (setau saya) mempunyai nenek moyang yang sama, tapi setelah mereka terpisah karena pergerakan lempeng Bumi, mereka bereovolusi menjadi spesies yang berbeda2, sesuai dengan lingkungan tempat mereka hidup.

    Ikan Coelancath sendiri bisa dibilang sebagai ikan purba yang tidak mengalami proses evolusi selama berjuta2 tahun. Kalo menurut saya, ketika terjadi perubahan lingkungan (yang mana selalu terjadi), ada 2 hal yang mungkin terjadi. Yang pertama populasi spesies itu punah karena tidak bisa beradaptasi (alias tidak sempet berevolusi, kalo saja perubahan lingkungannya terjadi dengan sangat cepat), ato spesies tsb berevolusi menjadi spesies baru (kalo saja perubahan lingkungannya terjadi secara perlahan2). Diduga Neanderthal juga tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang sangat cepat (Ice Age) sehingga akhirnya “saudara” tua kita itu punah. Dan kalo suatu spesies bisa bertahan dengan baik, beradaptasi dengan baik, dengan perubahan lingkungan, ya spesies tsb tidak perlu berevolusi (variasi baru kecil kemungkinannya untuk bisa mengungguli variasi lama, terlebih gene pool-nya masih didominasi oleh variasi lama), kecuali kalo suatu saat terjadi spesiasi.

    Saya juga setuju kalo science itu selalu berubah2, tapi menurut saya ada teori yang memang sudah menjadi sebuah fakta, seperti misalnya teori bahwa bumi berevolusi mengelilingi matahari. Apakah suatu saat teori ini akan tergantikan dengan teori sains yang lain? Menurut saya sih tidak, begitu juga dengan teori evolusi. Menurut saya (lagi), teori evolusi itu udah menjadi fakta, yang blom menjadi fakta adalah apa yang mendorong terjadinya proses evolusi? Apakah hanya natural selection? Ato ada faktor lain?

    Sekian dari saya, maaf kalo terkesan mengajari ato “sok pinter”.. Saya senang bisa berdiskusi dengan orang pintar seperti bapak :).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s