Bocornya atap gerbong kami

“Each country has some surprises, but in Indonesia we have to prepare for some extra surprises”, demikian tutur Pak X, tamu kami di BPPT dari satu negara Eropa kemarin. Yah, kalau teringat pengalaman malam sebelumnya, mau nggak mau saya harus setuju dengan pendapat beliau. Banyak hal “ajaib” yang tak terduga bisa terjadi di Republik kita tercinta ini.

Minggu malam saya berangkat ke Jakarta dari Stasiun Solo Balapan naik kereta Senja Utama. Sebelah saya seorang bapak yang usianya sekitar 55 an dan beliau ramah. Karena keramahan itulah saya kemudian berani menawar “Pak, saya boleh nggak tidur di lantai bawah ?”  Saya memang lebih suka tidur di lantai gerbong daripada tidur dengan duduk. Posisi tidur berbaring tentu saja jauh lebih sempurna daripada tidur sambil duduk, sehingga esoknya saat tiba di Jakarta saya sudah fresh lagi. Alhamdulillah si bapak tidak keberatan saya tidur di bawah. Mendekati pk.9 malam, akhirnya saya menggelar tikar yang sudah dibawa dari rumah, dan mulai berbaring. Saya sudah “pamitan” di facebook ” اَلْحَمْدُلِلّهِ. Akhirnya bisa juga berbaring di bawah. Harus tidur nyenyak malam ini, agar sampai jakarta badan & otak fresh. Oyasumi” (08.46 pm).

Baru saja saya mulai memejamkan mata, tiba-tiba kaki terasa basah. Rupanya di luar hujan lebat, dan sialnya atap gerbong bocor di dekat kaki saya. Kaki dan tikar saya geser. Tapi ternyata bocoran itu semakin deras, sehingga akhirnya saya pun bangun dan kembali duduk. Bocoran itu makin lama makin deras dan akhirnya benar-benar mengucur dari atap.Yang kasihan bapak sebelah saya. Beliau yang awalnya tertidur akhirnya bangun karena celananya basah kuyup. Bajunya pun basah. Bukan main,… ck ck ck. ….kali ini bocorannya benar-benar nggak sedang bercanda. Kami pun dibuat sibuk. Bantal yang saya sewa akhirnya jadi penampung jatuhnya bocoran air agar tidak memercik di lantai. Si bapak terpaksa duduk sambil angkat kaki, karena bocoran air tepat jatuh di kaki beliau. Satu jam berlalu, ternyata bocoran tidak puas kalau mengguyur kaki si bapak. Sekarang air justru mengucur dari bocoran tepat di atas kepala beliau…. Oalah paak….kasihan bener.  Bocor-bocoran itu berlangsung cukup lama, sekitar 2-3 jam. Kalau ditampung sebanyak apa ya airnya ?

Oh ya….kejadian ini tidak mengurangi kecintaan saya terhadap perjalanan naik kereta. Tidur di kereta sudah menjadi bagian hidup saya,   …..seperti lagu Perry Como “And I love you so, The people ask me how, How I’ve lived ’til now, I tell them I don’t know… ” (T_T)

Corat-coret lain tentang kereta
Diantar dengan lambaian Tika
Depok lama, Depok baru
Puntung rokok di piring

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Bocornya atap gerbong kami

  1. Cahya berkata:

    Saya pernah satu dua kali naik kereta, itu pun sudah diperingatkan oleh rekan-rekan untuk memakai kelas eksekutif saja. Walhasil saya tetap merasa “kapok” naik kereta api…

  2. fiki berkata:

    wah gawat banget ya pak bisa bocor begitu..

    apa selain bawa tiker naik kereta juga perlu jas hujan ya pak?????

    ck ck ck…surprise taunya anda masuk acara jahill hahahaha…

    btw moga2 lekas diperbaiki ya kerusakan2nya

  3. Mas Fikri,
    Saya pernah mengembangkan payung dalam kereta. Yaitu waktu naik KRL dari Depok (waktu itu selesai acara di UI), menuju Gondangdia. Di luar hujan lebat disertai angin. KRL ekonomi kita kan pintunya terbuka, jendelanya pun terbuka, otomatis air hujan masuk ke dalam gerbong. Terpaksa deh… berpayung di dalam gerbong 🙂

  4. batiknovita.com berkata:

    Pernah juga mengalami kejadian yang mengkhawatirkan saat naik kereta api. Waktu kereta api melaju dengan kecepatan tinggi, tiba2 terdengar suara ledakan yang keras di bawah kursi penumpang. Sepertinya itu kayu atau benda keras lain yang melintang di rel, sehingga saat kereta melintas, benda tersebut terbentur dengan keras. Namun alhamdulillah tidak membahayakan penumpang.
    Teringat tayangan di tv saat ada kejadian tongkat besi melintang di rel, kemudian saat kereta melintas dengan kecepatan tinggi, tongkat tersebut terpelanting kedalam kereta sehingga hampir saja mengenai penumpang.

    Semoga sistem keamanan transportasi di negeri ini, khususnya KAI semakin diperhatikan agar penumpang merasakan aman dan nyaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s