Keijiban, email, HP, SMS, YM, facebook, twitter, dan apalagi berikutnya ?

Saat masih kuliah di Nagoya Inst. of Technology, saya dan teman-teman masa itu terbiasa untuk melihat papan pengumuman (掲示板 dibaca “keijiban”), kalau-kalau ada panggilan untuk kami, atau pengumuman diliburkannya mata kuliah tertentu (kyuukou), dan berbagai pengumuman akademik lainnya. Saat itu (awal 90an) email belumlah jadi alat komunikasi yang populer. Keijiban menjadi media analog penyambung komunikasi antara dosen/akademik dengan siswa.

Saat email sudah mulai populer dipakai, maka kontak antara dosen dan siswa lebih mudah dilakukan lewat email. Mailing list untuk media komunikasi dosen-siswa pun menjamur. Hanya saja kendalanya adalah adakalanya siswa jarang membaca email kampus, terutama siswa yang belum masuk kenkyuushitsu (laboratorium). Informasi yang dikirimkan ke mailing list, atau alamat email kampus seringkali tidak terbaca oleh siswa. Bagaikan rapalan mantra, dosen pun sering mengingatkan ke siswa, “lihatlah keijiban, lihatlah keijiban”. Untuk melancarkan komunikasi, adakalanya email yang didaftarkan di mailing list bukan hanya email kampus, melainkan juga email HP siswa.

Evolusi media komunikasipun semakin tak terhentikan. Munculnya berbagai layanan jejaring sosial seperti facebook, twitter, mendorong dosen untuk ikut-ikutan memanfaatkan layanan itu sebagai media komunikasi dengan siswa. Seringkali siswa lebih mudah “ditemui” di jejaring sosial. Pengumuman pun kadangkala lebih mudah disampaikan lewat facebook atau twitter. Pernah saya membaca posting teman saya kepada murid-muridnya “Wahai murid2ku, dimanakah kalian berada ? Kalau saat ini kalian membaca status saya ini, saya hampir tidak bisa percaya. Anda masih sempat main jejaring sosial, tetapi tidak sempat datang ke laboratorium” 😀

Tentunya tidak semua siswa mau menerima dosennya sebagai friend. Dosen pun seringkali menyembunyikan nomer HP dari atasannya. Adakalanya dosen muda (assisstant professor) menyembunyikan no. HPnya dari professor, agar tidak dikontak professor saat sudah di luar kampus (liburan atau weekend). Kalau dosenpun demikian, tentunya siswa juga boleh dong….untuk menolak request dari dosennya. Salah satu cara yang “cantik” dipakai oleh siswa adalah memisahkan: ID dengan nama panggung yang dipakai untuk berkomunikasi dengan temannya, dan ID nama sebenarnya yang dipakai untuk tampil serius. Saya pernah merequest sebagai friend siswa dengan nama panggung yang biasa dipakai ybs, tetapi tidak pernah diterima. Sebaliknya, siswa saya melakukan request dengan ID yang satu lagi. Siswaku ini benar-benar cerdas 🙂

Memakai facebook untuk berkomunikasi dengan siswa kadangkala kelewatan. Siswa lupa bahwa yang diajak bicara adalah dosennya. Seringkali murid saya “nyampah” di wall FB saya dengan temannya 🙂 (yang merasa sering nyampah tunjuk jari ya…. itu tuh, yang biasa minum di starbucks dengan “soulmate”-nya…wkwkwkwkwkwk ). Kadang saya jadi gatal ingin pasang papan pengumuman “yoi ko wa koko de asobanai” (artinya: anak yang baik tidak akan bermain di sini. Biasa tertulis pada papan pengumuman yang biasa ditancapkan di area yang anak-anak tidak boleh masuk, di Jepang).

Lewat facebook dan twitter, saya jadi tahu ternyata ada siswa saya presentasi dengan data seadanya, ada yang stress dengan ujian matakuliah saya, ada juga yang karena terlambat masuk kelas saya, kemudian twitter-an dengan teman-temannya yang sedang mendengarkan kuliah saya. (tweet-nya masih dalam pencarian, masuk list DPO … screenshot menyusul !)

Saya pun kadang sungkan juga kalau status-status saya yang aneh-aneh terbaca oleh siswa. Tapi biarlah. Agar siswa saya menerima saya apa adanya, sebagai dosen, sebagai pegawai kecil di lembaga pemerintahan, sebagai teman bermain bagi anak-anak perempuannya yang masih kecil-kecil. Ada juga murid saya yang iseng, waktu quiz, lembar jawabannya diberi gambar tukang kebun dan bunga-bunga. Mungkin karena terkesan dengan status FB saya di akhir pekan, yang berubah jadi tukang kebun menyiangi bunga-bunga mawar di rumah (^^;  Karena itu kalau ada murid yang meng-add saya sbg friend, saya pesan dulu… maaf ya, status saya adakalanya R2G (Rada-Rada Gila)

Evolusi media komunikasi telah berlangsung demikian pesat. Mulai dari keijiban yang sifatnya analog, hingga jejaring sosial yang digital dan ubiquitous ditunjang dengan gadget-gadget yang makin canggih. Intinya hanya satu: bagaimana agar dosen dan siswa dapat berkomunikasi dengan lebih baik dan wajar. Evolusi ini terus berlangsung. Entah media apa yang akan hadir pada tahun-tahun mendatang.

Namun demikian, saya ingin pesan kepada siswa saya: kadang-kadang tinggalkanlah media digital, lupakan buku Negroponte “Being Digital”, dan marilah kita kembali ke dunia analog. Makan bersama, minum bersama dan menyanyi bersama. “dosen kan jg manusia!! mrk jg pasti maunya berliburrrrrrrrrrrrrr………..” (saya copy-paste dari status facebook salah seorang siswa saya yang rajin dan baik hati)

“Ayo goyang duyu” dengan ICT2007 …hihihi…gara2 Refi 🙂

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di kuliah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s