Catatan Kunjungan Kerja ke Unique Identification Authority of India (UIDAI)

Pada hari Senin 2 Mei 2011, kami sebagai anggota delegasi komisi II DPR melakukan kunjungan kerja ke Unique Identification Authority of India (UIDAI). Dalam kunjungan kerja tersebut, kami mendapat penjelasan mengenai konsep Unique Identity Number yang dalam bahasa India disebut dengan Aadhaar. Tulisan ini melaporkan hasil kunjungan kerja yang dilakukan sebagai bahan masukan bagi program e-KTP.

1. Project Unique Identity Number (UID) Pemerintah India

Dalam kunjungan yang dilakukan oleh delegasi Komisi II DPR ke Unique Identification Authority of India (UIDAI), mereka memperkenalkan project mereka untuk membuat unique identity number (UID) untuk setiap penduduk di India (di Indonesia: NIK). Program UID pemerintah  ini dalam bahasa India disebut dengan Aadhaar. Aadhar berfungsi sebagai pure ID scheme yang dioperasikan pemerintah India dan didesain sebagai primary ID. Unique ID Number ini terdiri dari 12 digit. Pemakaian UID akan menghindarkan terjadinya pemalsuan atau duplikasi identitas, dan juga mengurangi biaya pelayanan yang diberikan oleh institusi.

Membangun UID ini merupakan suatu kebutuhan bersama, karena penduduk mengakses berbagai service provider pada waktu yang, serta inefisiensi yang ditimbulkan saat seseorang harus membuat ID berulang-ulang karena lemahnya proses administratif seperti pencatatan kelahiran, alamat dsb. Dengan kata lain tidak ada pure ID dari yang bersangkutan. Dengan teknologi elektronik yang ada, UIDAI yakin akan mampu melakukan penghematan biaya.

Tujuan utama dari project ini adalah memberikan identitas tunggal kepada penduduk, dimana pendaftaran (enrollment) hanya dilakukan sekali. Sekali pendaftaran dilakukan, maka data tsb. dapat dipakai untuk berbagai keperluan. UIDAI akan menghasilkan database yang bisa dipakai untuk berbagai tujuan, misalnya pembuatan SIM, pasport, kartu pemilu, kartu pencari kerja.

2. Fitur-fitur UID

UID (Aadhaar) yang dikembangkan oleh UIDAI memiliki beberapa fitur sbb.

  1. Standards attributes (no profiling)
  2. All residents (including children)
  3. Flexibility to partners, walaupun tidak semua data akan dipakai oleh partner tsb.
  4. No sharing of transaction records
  5. No guarantees to rights, citizenship, entitlement
  6. Uniqueness: ensured through biometric attributes
  7. De-novo creation of database UIDAI tidak mengambil data dari yang telah dikumpulkan selama ini, melainkan membuat database dari awal untuk memastikan keunikan tiap data individu yang direkam pada database tsb. Dan juga menghindari adanya upaya pemalsuan data identitas.
  8. Secure authentication : anywhere, anytime
  9. Ensuring security and privacy of information

3. Bagaimana membangun Aadhaar ?

Untuk menjangkau 1.2 milyar penduduk, UIDAI hanya memiliki 384 pegawai dan mereka berpartner dg registrars/pencatat yang ada di kementrian atau negara bagian yang berinteraksi dg penduduk. Para registrars/pencatat ini akan mengumpulkan data demographic dan biometric dari penduduk lewat bantuan enrollment agency secara langsung. Model pencatatan ini memiliki berbagai keunggulan yaitu (1) sisi skalabilitas untuk memaksimalkan jangkauan kepada seluruh dan (2)  didukung oleh proses dan teknologi yang mampu melakukan standarisasi model sekaligus menjaga konsistensi dan tetap terkontrol. Lembaga yang dipekerjakan oleh UIDAI dapat juga dipakai oleh registrar.  Aadhaar akan diterbitkan oleh UIDAI untuk penduduk setelah proses deduplikasi data selesai.

4. End to End Process Flow

Sebagaimana pada gambar di atas, prosesnya adalah sbb.
Preparation Activities:
1.    Initiation (MoU, committee, joint working group, awareness workshop)
2.    Planning & Development (proc & tech alignment, Enrolment Plng EA/SI onboard, IEC, CSO, FI plans)
3.    Development
4.    KYR+fields (KYR: Know Your Residents)
5.    Pre-enrolment data
6.    Sensitisation W/S

Enrolment Actitivities
1.    Deployment – Setup Enrolment Process
2.    Demographic& biometric data capture
3.    Data transfer to CIDR after passed verification procedures (pengecekan keunikan)
4.    Apabila data itu benar-benar unique, maka akan diberikan Aadhaar kepada     penduduk tersebut yang diberitahukan lewat surat yang dikirimkan

Ongoing Activities: Grievance & Quality Handling
1.    Data updation. Data penduduk tsb. Bisa saja berubah, misalnya alamat. Sistem yang didesain memungkinkan proses update data penduduk
2.    Authentication

5.    Proses Enrollment

Informasi yang dikumpulkan dalam proses ini meliputi:
1.    KYR Fields : Name, Address, Gender, Tanggal Lahir yang disebut data demografi
2.    Selanjutnya dilakukan verifikasi foto dan  Verification dari dokumen yang dimiliki penduduk
3.    Pengambilan foto
4.    pengambilan data 10 sidik jari pada slap scanner
5.    scanning iris mata
6.    Apabila ada catatan tambahan, maka registrar/pencatat akan menanykan data-data tersebut kepada penduduk

Data sidik jari dan iris mata ini memungkinkan identifikasi keunikan seseorang, sehingga dengan demikian kepada ybs dapat diterbitkan sebuah Aadhaar yang unik, tidak sama dengan orang lain.

Dalam proses pengambilan data, para penduduk dapat melihat data apa saja yang dimasukkan ke sistem sehingga apabila ada kesalahan, dapat diperbaiki oleh ybs. Pengambilan data ini kira-kira makan waktu sekitar 10-12 menit.

Penduduk ini kemudian akan mendapatkan satu nomer pendaftaran yang unik, akan tetapi ini bukan Unique ID. Nomer pendaftaran yang unik ini dapat dimanfaatkan bagi penduduk untuk  menanyakan status Aadhaar. Dia dapat men-track status Aadhaar setelah enrolment dengan menyebutkan nomer pendaftaran  tersebut ke Contact Center (1800-180-1947). Nomer pendaftaran ini terdiri dari 14 digit dalam kombinasi 4-5-5. 4 digit pertama menyatakan EA Code, 5 digit berikutnya menyatqakan station ID, 5 digit terakhir adalah serial number dari enrolment yang dilakukan oleh station. Contact Center akan memberikan kabar status Aadhaar yang bersangkutan dan pengiriman surat.

Pendataan ini dilakukan untuk semua penduduk, mulai dari yang termuda yaitu berusia 10 hari, tetapi data biometrics tidak diambil hingga anak tsb. berusia 5 tahun, dan data yang diharapkan adalah ketika seseorang berusia 16 tahun (dewasa).

Komponen sistem enrollment terlihat pada gambar berikut:

  1. Laptop dengan enrollment client
  2. Monitor kedua yang memungkinkan penduduk melakukan verifikasi
  3. Kamera untuk pengambilan foto
  4. Iris Scanner
  5. Fingerprint slap scanner
  6. Kit enrollment
  7. Laser printer (tidak terlihat pada gambar


 Peralatan di atas ini dikemas dalam 2 kotak sebagaimana pada gambar di bawah, yang sangat ringan dan praktis.

Dengan demikian proses pengambilan data biometrik ini tidak dilakukan secara online karena data biometrik cukup besar ukurannya Tiap orang sekitar 5 MB.

Proses pengambilan data dilakukan 3
1.    Pendekatan dokumen: yang menginformasikan data penduduk tsb. Siapa dia, tanggal lahirnya berapa, dsb.
2.    Tanpa dokumen: dimana datanya tidak ada, tapi bisa diambil dari pihak lain seperti misalnya perbankan. Pihak ini lah yang mengenalkan identitas penduduk tsb.
3.    Sensus penduduk India yang dilakukan sekali dalam 10 tahun

Ketika surat dikirimkan kepada penduduk dan diterima oleh yang bersangkutan dengan alamat yang dituju, maka ini menjadi verifikasi pertama bahwa penduduk tersebut telah memberikan data dengan benar dan data itu telah dikirimkan kepada alamat yang benar. Dalam surat ini ada 5 kategori status surat yang tidak sampai kepada penduduk sebagaimana terlihat pada gambar di bawah

  1. item refused by addressee
  2. deceased
  3. insufficient address
  4. addressee can not be located
  5. unclaimed


Surat ini selanjutnya akan kembali ke UIDAI, dan UIDAI akan melakukan verifikasi berdasarkan status tsb, apakah data yang diambil dapat dipakai atau tidak. Untuk menjaga kualitas pengambilan data, UIDAI juga melakukan standarisasi dan sertifikasi terhadap alat yang dipakai maupun petugas yang melakukan pencatatan

6. Skala dan Status Project

Project ini diresmikan oleh PM dan UPA Chairperson pada 29 September 2010, mentargetkan pemberian UID kepada 600 juta residents pada 2014. Namun demikian, hingga “saat ini” (presentasi dilakukan pada 2 Mei 2011), Aadhaar yang diterbitkan baru 5.6 juta. Kecepatan pengambilan Aadhaar:  awalnya 50 Aadhaar/hari, dan saat ini berkisar 150 ribu Aadhaar/day. Diharapkan Oktober 2011 mencapai 1 juta Aadhaar/day.

7. Biaya

Menurut UIDAI, biaya penerbitan sebuah Aadhaar adalah Rs 100 (sekitar 2.2 USD, dengan kurs 1 USD = Rs 45). Rincian ini tidak dijelaskan lebih lanjut oleh UIDAI. Tetapi dari berita di Hindustan Times pada 3 Desember 2010, dijelaskan oleh Nandan Nilekani (authority chief) bahwa Rs 50 adalah biaya enrollment tiap personal, sedangkan Rs 50 yang lain adalah untuk back-end cost [1].  Total biaya sekitar 4 billion USD yang mencakup enrollment cost dan technology cost.

8. Penggunaan Sistem Aadhaar untuk verifikasi identitas seseorang

Dengan UID yang terdiri dari 12 digit angka ini, dan dikombinasikan dengan data iris maupun sidik jari, dapat dilakukan verifikasi apakah seseorang itu benar dia (pemilik identitas) atau bukan. Alat verifikasi ini berbentuk mobile phone yang dapat dipakai secara online untuk menentukan apakah si A benar-benar si A atau bukan. Hal ini didukung perkembangan teknologi mobile, yang memungkinkan sekitar 85%-90% dari India secara geografis dapat tercover. Alat verfikasi ini berharga kira-kira $200.


Contoh penggunaan teknologi ini untuk akses finansial, misalnya seseorang berbelanja ke sebuah toko. Disana ia melakukan authentication dengan aadhaar dan biometriknya, datanya akan dipakai untuk akses ke bank, dan bank akan memberikan informasi kepada penduduk tsb. untuk mengambil uangnya langsung tanpa proses yang lain. Ini adalah pelayanan langsung kepada masyarakat.

Referensi

  1. http://www.hindustantimes.com/Each-Unique-ID-number-costs-Rs-100-Nilekani/H1-Article1-633800.aspx  (Diakses terakhir 11 Mei 2011)

Catatan

  1. Gambar-gambar di atas diambil dari foto saya terhadap slide yang dipresentasikan oleh UIDAI
  2. Di media massa (misalnya di http://www.indopos.co.id/index.php/politika/45-politika/11335-menggelembung-biaya-e-ktp-akan-dikepras.html, http://www.radar-bogor.co.id/index.php?rbi=berita.detail&id=73861 dan media yang lain) diberitakan penjelasan bapak Akbar Faizal bahwa India memakai chip berkapasitas 2MB.  Penjelasan pemakaian chip 2MB ini tidak benar, karena selama di UIDAI tidak ada penjelasan mengenai chip. UIDAI tugasnya hanya menerbitkan nomer unik identitas, yang di Indonesia equivalent dengan NIK (Nomer Induk Kependudukan). Sedangkan “chip 2MB” ini adalah penjelasan oleh RealID, satu perusahaan penyedia kartu identitas, yang kami terima saat berkunjung ke perusahaan tsb. pada hari Jumat, 6 Mei 2011 di Mumbay. RealID menyampaikan proposal mereka untuk implementasi e-KTP di Indonesia dimana dalam presentasinya mereka menyatakan mampu menyediakan kartu dengan chip 2MB. Tetapi bukan berarti kartu dengan chip 2MB ini yang dipakai di India. Catatan yang sama dapat dilihat di blog bapak Basuki yang juga salah satu anggota rombongan komisi II di http://ahok.org/suara-senayan/laporan-kunker-ke-india-bagian-vii/

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di catatan kerja. Tandai permalink.

3 Balasan ke Catatan Kunjungan Kerja ke Unique Identification Authority of India (UIDAI)

  1. chilmar berkata:

    🙂 🙂 Salut tulisannya.

  2. Jum'atil Fajar berkata:

    Semoga hal ini bisa diterapkan di Indonesia, sehingga mempermudah pelayanan kepada masyarakat

  3. Ping balik: Membedah Teknologi e-KTP | Care to share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s