Catatan partisipasi ICEEI 2011

Pada tgl.18 dan 19 July 2011, saya bersama murid-murid saya dan kolega di SGU mengikuti seminar internasional yang diselenggarakan di ITB, 3rd International Conference on Electrical Engineering & Informatics (URL: http://stei.itb.ac.id/iceei2011/ ). Dalam seminar ini kami presentasikan 4 paper:

  1. “Recursive Text Segmentation for Indonesian Automated Document Reader for People with Visual Impairment”, Teresa Vania Tjahja, Anto Satriyo Nugroho, James Purnama, Nur Aziza Azis, Rose Maulidiyatul Hikmah, Oskar Riandi, Bowo Prasetyo
  2. “Automatic Status Identification of Microscopic Images Obtained from Malaria Thin Blood Smears”, Dian Anggraini, Anto Satriyo Nugroho, Christian Pratama, Ismail Ekoprayitno, Aulia Arif Iskandar, Reggio Nurtanio Hartono
  3. “Traffic Condition Information Extraction & Visualization from Social Media Twitter for Android Mobile Application”, Sri Krisna Endarnoto, Sonny Pradipta, Anto Satriyo Nugroho, James Purnama
  4. “Profiling-Based Mobile Advertisement as a Marketing Strategy for GPS- Based Online Traffic Map”, Sonny Pradipta, Sri Krisna Endarnoto, James Purnama, Anto S. Nugroho

Pada hari pertama dipresentasikan 5 presentasi dari para keynote speaker, yang berasal dari Italy, Jepang, Malaysia dan dua professor dari ITB (Prof.Bambang Riyanto dan Prof.Iping Supriatna). Moderator dari acara tersebut adalah Prof.Suwarno. Sebelum acara dimulai, saya mendekati pak Suwarno dan menyapa. Beliau kelihatan gembira sekali, karena lama tidak bertemu. “Waaah, adikku datang” sambil memeluk saya. Pak Warno adalah teman lama (sempai) saat sekolah di Nagoya (92-95). Pak Suwarno saat itu menyelesaikan S3 di Nagoya University, sedangkan saya menyelesaikan S1 di Nagoya Inst. of Technology.

Dari lima keynote speech, ada tiga yang saya dapat mengikuti bahasannya. Saya catat pertanyaan dan jawaban beliau, walau sebagian tidak dapat teringat lagi.

  1. Presentasi Prof. Abdul Razak Hamdan:  Type Feature Subset Selection ada dua: filter dan wrapper. Yang pertama classifier independent, sedangkan yang kedua classifier dependent. Mohon dijelaskan, metode yang bapak kembangkan termasuk tipe yang mana. Kemudian kriteria apa yang dipakai untuk mengevaluasi kualitas selected subset feature ? Jawab beliau “filter type”, berarti classifier independent. Untuk evaluasi kualitas subset feature yg dipilih, saya tidak ingat dengan jawaban beliau. Kalau tidak salah beliau memakai kardinality (jumlah feature) terakhir. Saya sangat tertarik dengan FSS, karena ingin mengetahui seberapa sukses FSS dapat mengekstrak knowledge dari data. Yaitu, setelah FSS selesai, apakah memang benar subset feature yang terpilih mengandung relevant information ditinjau dari domain yang dianalisa, ataukah hanya sekedar feature yang statistically significant, tetapi tidak ada kandungan knowledge yang dapat diekstrak.
  2. Presentasi Prof.Bambang T.Riyanto: Recent Progress in Adaptive Nonlinear Active Noise Control. Presentasi beliau menarik, dan ada satu hal yang saya tanyakan. Dalam model beliau, FIR dan neural network dikombinasikan untuk non linear noise active control. Saya jadi teringat diskusi di lab. saat masih mahasiswa dulu. Saat itu ada tamu, professor dari Keio yang mengajukan pertanyaan kepada penelitian model auditory system, dimana beliau mengkritisi perpaduan antara linearisasi data dengan nonlinear transformation di model auditory tersebut. Saya masih ingat kritik beliau yang pedas, “tidak ada gunanya kalau anda melakukan non linear transformation setelah data ditransformasi dengan linear”. Hal serupa saya jumpai di banyak penelitian yang memanfaatkan Principal Component Analysis sebagai metode untuk mereduksi dimensi data secara linear, untuk kemudian dimasukkan ke neural network yang sebenarnya merupakan bentuk non linear transformation. Pemakaian PCA beresiko menghilangkan non linearity (discriminative information) data. Hal ini yang saya tanyakan kepada Prof.Bambang, apakah tidak ada resiko seperti hal itu, dan mendapat penjelasan bhw resiko tsb. memang ada.
  3. Presentasi Prof.Iping Supriatna yang membahas teknik river-lake untuk mengekstrak skeleton. Dari sisi metode, teknik yang dibahas menarik. Tetapi ada satu hal yang saya agak ragu, adalah apakah teknik yang disajikan itu ekstraksi thinning ataukah skeleton. Di judul presentasi, disebutkan skeleton, tetapi dalam penjelasannya, beliau memakai istilah thinning. Sebenarnya thinning dan skeletonisasi adalah dua proses yang berbeda. Thinning adalah proses morfologi citra untuk mengekstrak bentuk suatu object, dimana hasil thinning memiliki ketebalan 1 pixel, sedangkan skeletonisasi lebih ke arah mencari tulang-nya dan mampu dipakai untuk merekonstruksi object asli. Berbeda dengan skeleton, thining tidak dapat dipakai untuk merekonstruksi object. Saya tanyakan kepada beliau, mengenai kemungkinan pemakaian algoritma river-lake itu untuk multi-segment characters, seperti halnya huruf Cina dan Jepang.

Di sela-sela kesibukan seminar, saya menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Prof. Benhard Sihotang yang bersama-sama membimbing mas Gede Indrawan dalam program S3 di ITB. Prof.Benhard sebagai pembimbing pertama, sedangkan saya sebagai pembimbing kedua. Setelah silaturahmi dengan Prof.Benhard, saya mencari teman seangkatan di Informatika ITB ’89. Dua orang teman seangkatan saya saat ini menjadi staf pengajar, yaitu Yani Widyani dan Tricya Widagdo. Alhamdulillah masih bisa bertemu mereka, dan akhirnya dikenali sebagai teman seangkatan waktu awal-awal di IF-ITB. Dulu saya cuma sebulan saja berada di ITB sebelum mengundurkan diri karena mendapat beasiswa Pak Habibie STMDP-2, meneruskan studi ke Jepang.

Pada hari pertama, dua mahasiswa saya: Sony dan Bimo (Sri Krisna) melakukan presentasi yang kebetulan mereka memang bekerjasama dalam mengembangkan aplikasi untuk Android yang disebut “Agni”. Sony mengembangkan aplikasi yang mampu memberikan advertisement berdasarkan lokasi dan preference user, sedangkan Bimo memakai Natural Language Processing untuk mengekstrak informasi spatio-temporal kemacetan lalu lintas dari twitter TMC Polda Metro dan memvisualisasikannya memakai googlemap. Beberapa pendengar antusias mengajukan pertanyaan dan belakangan kami baru tahu kalau beliau dari salah satu Univ. di UK.

Left: Sonny Pradipta Right: Sri Krisna Endarnoto

Pada hari kedua, saya ditugaskan sebagai co-chair berpasangan dengan Prof.Tati L. Mengko di sesi Biomedik. Saya sudah lama mengetahui nama Bu Tati, tapi baru hari ini berkenalan. Yang unik, dalam sesi dimana kami bertugas, empat presenter adalah murid bu Tati dan mas Andriyan (Prof.Andriyan B. Suksmono), sedangkan satu presenter adalah murid saya (Dian). Bahkan kata Dian, presenter pertama ternyata temannya di SMA. Pengalaman kadang tak diduga dan tak disangka 🙂  Tugas kami sebagai moderator lancar. Hanya sayangnya saya tidak sempat menemani Vania yang presentasi pengembangan Indonesian Automated Document Reader, karena bentrok dengan sesi Dian. Yang saya dengar, Nia cukup banyak mendapat masukan dari partisipan lain yang sepertinya ekspert di bidang Image Processing. Salah satu masukan adalah benchmarking untuk text segmentation berbasis bahasa Indonesia. Setahu kami, tidak ada database yang bisa dipakai sebagai bench mark untuk mencoba text segmentation pada bahasa Indonesia. Segmentasi teks sebenarnya language independent, sehingga bisa saja diuji pada text berbahasa Inggris.

Alhamdulillah, satu target tercapai, yaitu memperkenalkan atmosfer akademik International Conference kepada mahasiswa saya. Dengan presentasi di conference, mereka akan mengetahui apa dan sejauh mana kegiatan penelitian yang dilakukan di institusi lain, sekaligus memperluas network dengan berkenalan dengan para peneliti yang lain. Sayang saya tidak dapat mengikuti seminar sampai selesai sore. Karena setelah selesai bertugas, pk.12.30 saya berangkat ke bandara untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya, memenuhi undangan sebagai penyanggah sidang doktoral mas Surya Sumpeno, di Elektro ITS.


Left: Reggio N. Hartono, Dian Anggraini, Sri Krisna Endarnoto (Bimo/Omib), Teresa Vania Tjahja. Sayang, saya dan Sonny tidak dapat ikut foto bersama.
Right: Saya & Reggio (dosen IT-SGU)

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di catatan kerja, research. Tandai permalink.

4 Balasan ke Catatan partisipasi ICEEI 2011

  1. reggionh berkata:

    Ijin copy-paste daftar publikasi murid SGU untuk press-release SGU ya pak 😀

  2. pebbie berkata:

    topiknya memang agak rancu (thinning-skeletonization). tujuan akhirnya adalah mendapatkan representasi ketebalan 1 (skeleton). sayangnya, istilah thinning terlalu terasosiasi dengan proses yang iteratif dan belum tentu selesai dalam sekali jalan (menipiskan, tapi tidak menjanjikan akan langsung ke ketebalan 1).

    Di lain pihak, definisi skeleton direlaksasi dari definisi yang Pak Anto tuliskan. (catatan pinggir: tulang manusia juga tidak mesti representatif terhadap lekuk tubuh manusia kan? :D) jadi tidak mesti bisa digunakan untuk merekonstruksi (bukan representasi mampat dari objek semula) tetapi cukup representasi yang ketebalan 1. memang ada yang menambahkan batasan/fitur bahwa representasi tipis ini bisa dianggap sebagai pemampatan sehingga bisa merekonstruksi objek asal (kalau tidak salah Bpk. A. Rosenfeld, CMIIW).

    Hal ini karena kelemahan dari definisi yang berbasis titik tengah lingkaran singgung dalam atau medial axis sensitif terhadap noise di permukaan, sementara persepsi manusia akan mengabaikan detil yang tidak relevan dengan pekerjaan mengenali bentuk sebagai makna tertentu (dalam hal ini karakter).

    tulang ini memang dispesialisasi untuk classifier sintaktik untuk pengenalan karakter yang dikembangkan Prof.Iping juga (tadinya mau dipublikasi di ICEEI juga tapi ternyata tidak sempat karena data pendukungnya masih kurang).

    Mohon maaf Pak Anto, saya tidak sempat menonton presentasi murid2nya Pak Anto (padahal ingin karena papernya bagus2) karena jadwalnya berbarengan (di hari kedua) dan di hari pertama saya ada pekerjaan lain.

  3. Terima kasih Peb. Sekedar klarifikasi, definisi skeleton itu saya ambil dari buku teks tulisan Gonzales, dimana dijelaskan juga formula rekonstruksinya sebagai hasil successive dilation (Sec.9.5.7 di 3rd Eds.). Juga di buku teks yang dipakai di Jepang dibahas juga perbedaan thinning vs skeleton, seperti yg saya tulis di atas. Saya ingin punya bukunya Rosenfeld. Walau buku lama, tapi penjelasannya mantab. Sayang kemarin saya singkat banget di Bandung, padahal pengin main ke GaIB. Tapi alhamdulillah, masih bisa ketemu Peb, Prof.Iping, Prof.Benhard, dan juga teman-teman seangkatan di IF (Cia + Yani). Kapan-kapan saya main ya ke GaiB, ya Peb

  4. James Purnama berkata:

    Pak, minta ijin menyadur untuk bikin artikel news/berita ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s