Tulislah journal jika anda ingin meraih sarjana di Indonesia

Judul corat-coret ini merangkumkan diskusi berkaitan dengan SK dari Ditjen Dikti yang beredar di awal Februari 2012, dan menjadi bahasan hangat di kalangan akademisi perguruan tinggi. SK tersebut dapat didownload dari situs Dikti. Dari SK tersebut dijelaskan bahwa untuk meraih gelar sarjana S1, mahasiswa harus menghasilkan makalah yang terbit di jurnal ilmiah. Sedangkan untuk magister, syarat yang sama juga diterapkan, tetapi ditambahkan keterangan bahwa “jurnal ilmiah nasional diutamakan yang terakreditasi Dikti”. Sedangkan untuk program S3 ketentuannya “telah diterima untuk terbit pada jurnal ilmiah internasional.”. Kalimat ini mengundang berbagai pertanyaan dan pemikiran yang saya rangkumkan sbb.

  1. Syarat untuk strata S1 tersebut tidak menyebutkan ketentuan akreditasi Dikti, berarti sebarang jurnal sekalipun tidak masalah. Bisa saja jurnal yang diterbitkan oleh kampus, atau fakultas. Apakah demikian tafsirannya ?
  2. Untuk S1 dan S2 syaratnya harus terbit, sedangkan untuk S3, syaratnya cukup diterima untuk diterbitkan. Ini jelas berbeda. Pada saat seseorang mengirimkan tulisan ke jurnal ilmiah, pertama-tama setelah diterima editor akan melalui proses review. Reviewer (mitra bestari) biasanya lebih dari 1 orang. Setelah selesai direview,  akan dikembalikan ke editor. Editor akan mengirim surat pemberitahuan kepada penulis dengan salah satu dari 3 status: a) diterima, b)diterima dengan persyaratan (harus ada revisi, bisa dari cara penulisan, bisa saja dari sisi konten yang harus diperbaiki, misalnya dengan mengulang eksperimen atau menambahkan eksperimen baru) atau c) ditolak. Apabila hasilnya b), maka penulis harus memenuhi syarat yang diminta untuk kemudian dikirim ulang ke editor, dan editor akan mengirim kembali kepada reviewer untuk mengevaluasi ulang. Kalau lolos, baru akan dipublikasikan. Keseluruhan proses ini lazimnya makan waktu 6 bulan, bahkan adakalanya lebih dari 1 atau 2 tahun, tergantung tingkat kesulitan paper dan ketelitian reviewer. Hal ini untuk menjamin bahwa tulisan yang akan dipublikasikan di jurnal tersebut berkualitas tinggi dan bisa dijadikan acuan ilmiah.
  3. Tidak ada ketentuan, apakah calon sarjana S1 tersebut harus duduk sebagai penulis utama, atau tidak.
  4. Kalau berkaca dari pengalaman pribadi saya selama di Jepang, syarat untuk meraih doktor umumnya dengan publikasi di jurnal, sebagai bukti bahwa mereka memiliki kontribusi yang layak untuk diberikan gelar Doktor.  Walau demikian, tidak semua perguruan tinggi mensyaratkan hal yang sama. Syarat kelulusan tergantung dari izin sensei, atau konvensi jurusan. Ulasan meraih doktor di Jepang silakan lihat “Hakase-gou toruka ? toranai ? tettei daikenshou” (ISBN: 978-4897066493). Beberapa saat yang lalu, saya bertemu dengan teman lama baru saja meraih doktor dari Austria. Dia  bercerita kalau di Austria justru dia tidak dituntut untuk berpacu dalam melodi publikasi. Selama pendidikan S3, dia diminta untuk menekuni satu topik secara mendalam. Setelah lulus, baru kemudian diarahkan untuk publikasi ke journal. Memang tidak seragam antara satu dan lain, tapi publikasi jurnal adalah tuntutan untuk pasca sarjana.   Journal paper adalah paparan komprehensif suatu studi yang dilakukan yang memenuhi syarat ketat, seperti novelty, misalnya. Karena itu, adakalanya dalam 1 tahun, seorang calon doktor hanya mampu menulis 1 jurnal. Itu sudah bagus. Ada yang bahkan untuk keluar satu jurnal perlu waktu lebih dari 3 tahun. Nah, di tanah air tercinta, jurnal justru jadi persyaratan kelulusan S1. Padahal masa mengerjakan tugas akhir dalam pendidikan S1 di Indonesia seringkali hanya dalam waktu yang pendek, hanya 4-6 bulan. Kebanyakan hanya satu tahun (2 semester). Dengan kemampuan yang terbata-bata, mereka dituntut untuk menulis jurnal. Ibaratnya bayi baru belajar berjalan, diajak lari sprint 100m bertanding dengan atlit profesional.
  5. Negara mana yang jadi model aturan ini ? Saya tidak tahu. Kalau tujuannya untuk memperbanyak publikasi, mestinya tanggung jawab itu dibebankan ke professor, atau calon doktor. Misalnya saja professor dan calon doktor diberikan beban untuk menjadi penulis utama jurnal ilmiah internasional dengan kuantitas tertentu.
  6. Saya khawatir, peraturan tersebut akan membuat tiap fakultas berlomba-lomba membuat jurnal sendiri, dengan proses review yang tidak seketat jurnal terakreditasi. Tujuannya agar kelulusan sarjana tidak terganjal oleh aturan keharusan publikasi tersebut. Kalau ini yang terjadi, saya khawatir hasilnya akan kontra produktif. Jurnal-jurnal itu tidak akan pernah dibaca/dijadikan referensi oleh peneliti yang lain karena kualitasnya tidak diakui dan merupakan hasil studi S1 yang tentu saja -umumnya- tidak mengandung novelty/sisi kebaruan yang signifikan. Waktu yang dimilik peneliti sangat terbatas, sehingga dia hanya fokus pada jurnal/prosiding yang utama.
  7. Pendapat saya, ketentuan itu sebaiknya jangan menjadi harga mati, syarat yang harus dipenuhi oleh calon sarjana. Lebih baik siswa diencourage dengan level yang lebih reasonable, misalnya disyaratkan untuk presentasi di seminar nasional.
  8. Last but not least, premis kebijakan tersebut terlalu naif, yaitu ketinggalan kuantitas publikasi dibandingkan dengan Malaysia. Seharusnya untuk membuat kebijakan yang sangat menentukan secara nasional seperti ini harus diadakan kajian yang serius dan mendalam, sehingga alasannya masuk akal dan smart, tidak dengan alasan karena kekalahan terhadap Malaysia sebagaimana tertulis pada surat tersebut.

Entahlah, di Indonesia begitu banyak kebijakan yang saya tidak mudah memahaminya. Benar kata Ebiet G. Ade, mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Update:

Hari ini di twitter, ada penjelasan informal dari Dikti, bahwa

  1. ada 3 jenis Jurnal yg tertulis dalam SE Dirjen Dikti no.152/E/T/2012, yakni Jurnal Ilmiah, Jurnal Ilmiah Nasional dan Jurnal Internasional
  2. Jurnal Ilmiah Nasional;kriterianya: Memiliki ISSN, bertujuan menampung hasil2 penelitian ilmiah dan/konsep ilmiah dlm disiplin ilmu trtnt
  3. kriteria(lanjutan):ditujukan kpd masyrkt ilmiah/peneliti yg memlki disiplin keilmuan yg relevan,substansi satu mslh dalam satu bidang ilmu
  4. memiliki kaidah penulisan ilmiah yg utuh (rumusan masalah,pemecahan masalah,dukugan teori,kesimpulan dan daftar isi)
  5.  diterbitkan oleh badan ilmiah/organisasi/perguruan tinggi dg unit-unitnya
  6. memakai Bahasa Indonesia dan atau Bahasa Inggris dg abstrak dalam bahasa Indonesia
  7. memiliki Dewan Redaksi yg terdiri dari para ahli dalam bidangnya dan diedarkan secara nasional
  8. Jurnal Ilmiah:Portal Jurnal yg hanya memenuhi bbrp kriteria Jurnal Ilmiah Nas.Mislnya portal jurnal kmps yg tdk diedarkan scr nasional
  9. sementara Jurnal Ilmiah Nasional Terakreditasi harus mengacu kepada: Permendiknas No22 thn 2011 ttg Terbitan Berkala Ilmiah
  10. dan Peraturan Dirjen Dikti Nomor 49/DIKTI/Kep/2011 tentang Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala bit.ly/z1Nqi8
  11. Surat Edaran Direktur Diktendik No. 1313/E5.4/LL/2011 tentang Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah Tahun 2011 12) dan Surat Edaran Direktur Diktendik Tanggal 10 January 2012 tentang Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah Tahun 2012 …dst

Pemahaman saya : berarti untuk syarat kelulusan S1, harus terbit di jurnal ilmiah yang tidak harus memenuhi seluruh kriteria jurnal nasional ( lihat point 8).  Dengan demikian, saya rasa bisa saja “jurnal” itu diterbitkan sendiri oleh kampus, dan tidak memiliki ISSN. Boleh juga tanpa proses review dari pakar eksternal. Kalau demikian, saya rasa tidak terlalu berat. Tujuannya agar budaya menulis dibiasakan di lingkungan kampus. Akar masalah selama ini sepertinya karena terminologi “jurnal ilmiah” yang dipakai oleh Dikti, lain dengan “jurnal ilmiah” dalam persepsi akademisi. Di kompas ada artikel terkait dengan kebijakan tersebut:

  1. http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/03/09280630/Syarat.Lulus.S-1.S-2.S-3.Harus.Publikasi.Makalah
  2. http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/03/11064313/IPB.Kaji.Surat.Edaran.Ditjen.Dikti
Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, kuliah, research. Tandai permalink.

9 Balasan ke Tulislah journal jika anda ingin meraih sarjana di Indonesia

  1. Aulia berkata:

    semoga rumput dan ilalang pun tidak lagi bergoyang untuk mencoba menulis jurnal 🙂

  2. Widya Walesa berkata:

    ulasannya menarik pak, ijin membagi

  3. fathia kesuman berkata:

    ulasan yg menarik. Calon sarjana yg harus tampilkan di jurnal sya kira belum bisa sepenuhnya dapat diandalkan, sy setuju untuk tampil saja diseminar yg diadakan dikampus, minimal mahasiswa dapat persehntasi dikalanagan civitas akademika. Kalau yang pasca sarjana bila lulusnya harus menunggu jurnalnnya masuk ke jurnal internasional … wah bisa gak rampung S3 nya, dan benar yg dikatakan sdr Huda , mmemasukkan jurnal ke internasional butuh waktu lama … satu dua tahun..

  4. henijusufheni berkata:

    saya setuju dengan ulasan no. 5. kalau satu prodi meluluskan 200 mhs persemester, sedangkan satu tahun jurnal prodi yang dibuat asal-asalan saja untuk memenuhi prasyarat kelulusan atau prasyarat akdreditasi prodi, maka bisa dibayangkan berapa tebalnya jurnal tersebut. dan buat apa? untuk membacanya saja sudah tidak minat.. karena tidak ada wktu untuk mereview makalah2 mhs tsb

  5. Ping balik: ATURAN BARU DITJEN DIKTI « fauzan fadillah

  6. dwipyant berkata:

    Reblogged this on Welcome to The Jungle ^_^ and commented:
    Hmm, “mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang” 🙂

  7. AKHMAD SUDRAJAT berkata:

    Semoga ke depannya sarjana – sarjana kita akan lebih bermutu.

  8. RANI GUNARTI berkata:

    Beginilah si pembuat kebijakan yang naif, tidak pernah membumi. Di luar negeri, yang dituntut untuk melakukan riset dan publikasi jurnal internasional adalah Professornya, dan dia diperkenankan untuk mengambil salah seorang atau beberapa mahasiswa untuk menjadi asisten peneliti. Di kita kebanyakan Professornya sibuk dengan rutinitas, rapat, menguji sidang, maki-maki mahasiswa, dan mengkritik kampusnya sendiri

  9. Ping balik: Budaya Kampus ala “Fast Food” | Life is all about ……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s