Teknologi Biometrics dalam e-KTP

*Abstrak pidato untuk disampaikan dalam acara Wisuda STMIK JIBES Kelapa Gading, 25 Juni 2012 *

Sejak tahun 2011, pemerintah Indonesia melalui Kementrian Dalam Negeri telah mulai menjalankan Program Penerapan Kartu Tanda Penduduk berbasis Nomer Induk Kependudukan (NIK) secara nasional bagi 172 juta penduduk wajib KTP pada tahun 2011.  Pada tahun 2011 ditargetkan 197 Kabupaten/Kota dan pada tahun 2012 ditargetkan 300 Kabupaten/Kota di Indonesia telah dilakukan pendataan dan penerbitan e-KTP.  Dengan e-KTP diharapkan dapat diwujudkan dokumen identitas penduduk yang tunggal dan absah melalui proses identifikasi ketunggalan sidik jari secara terpusat (nasional). Identitas ketunggalan ini sangat penting, karena banyak sekali kasus kriminalitas yang memanfaatkan KTP palsu. Misalnya serangan teroris terhadap hotel JW Marriott pada tanggal 17 Juli 2009, dan penjebolan rekening bank 25 Juli 2009 yang memakai kartu identitas palsu.  Diberitakan juga bahwa sepanjang tahun 2008, di DKI Jakarta telah disita  88.000 KTP palsu. Selama ini pembuatan KTP palsu sangat mudah, karena tidak ada sarana untuk memastikan keunikan pemohon.  Dengan e-KTP, hal ini tidak mungkin terjadi lagi karena setiap penerbitan e-KTP akan melalui proses identifikasi ketunggalan dengan dukungan teknologi biometrics.  Hanya penduduk yang lolos uji identifikasi ketunggalan saja yang akan menerima e-KTP.

Teknologi biometrics didefinisikan sebagai metode otomatis untuk melakukan verifikasi ataupun mengenali identitas seseorang yang masih hidup berdasarkan karakteristik fisiologi ataupun perilaku ybs.  Dalam penerbitan e-KTP, 3 informasi biometrics direkam dari tiap penduduk, yaitu sidik jari, iris dan wajah.   Sidik jari memiliki 3 level informasi, dimana informasi keunikan tiap individul direpresentasikan pada level kedua, yaitu sebagai titik-titik minutiae.  Titik minutiae adalah titik dimana ridge terputus. FBI menetapkan model koordinat minutiae berdasarkan termination dan bifurcations, yaitu tiap minutia dinotasikasikan berdasarkan class, koordinat x dan y, dan sudut yang dibentuk oleh garis ridge dan sumbu horizontal pada titik minutia tersebut. Dalam proses matching, untuk menyatakan bahwa dua buah sidik jari berasal dari jari yang sama harus dipenuhi beberapa syarat, antara lain kesesuaian konfigurasi pola global antara kedua buah sidik jari, kesesuaian kualitatif (qualitative concordance), yaitu minutiae yang bersesuaian harus identik, faktor kuantitatif, yaitu banyaknya minutiae bersesuaian yang ditemukan harus memenuhi syarat minimal (guideline forensik di AS mensyaratkan minimal 12 minutiae),  detail minutiae yang bersesuaian harus identik.

Selain sidik jari, iris dimanfaatkan sebagai modality biometrics e-KTP.  Tekstur iris manusia berasal dari proses chaotic morphogenetic selama perkembangan embrio, dan memiliki ciri yang mampu dipakai untuk identifikasi seseorang.  Untuk mengekstrak karakteristik iris, dilakukan serangkaian proses yang meliputi lokalisasi dan segmentasi iris untuk memisahkan informasi pupil dan sclera, iris unwrapping, ekstraksi fitur dan matching.  Salah satu teknik yang sangat populer dipakai dikembangkan oleh Daugman. Iris yang berbentuk donat ini kemudian dibuka dan diubah bentuknya menjadi segi empat memakai teknik rubber-sheet model yang dikembangkan oleh Daugman, dan dilakukan 2D Gabor filtering untuk menghasilkan iris code yang merupakan hasil demodulasi citra yang dihasilkan. Teknologi pengenalan iris ini masih relatif baru dibandingkan teknologi pengenalan sidik jari. Akan tetapi potensinya sangat besar, dan memiliki berbagai kelebihan di bandingkan sidik jari. Antara lain keutuhan informasi pada iris lebih baik dibandingkan sidik jari, karena pola ridge sidik jari dapat rusak karena terkikis dalam melakukan pekerjaan sehari-hari.  Menurut Daugman, dalam area 1 mm2 dapat diekstrak informasi setidaknya 3.2 bit, yang dapat diinterpretasikan sebagai 266 spot unik dari sebuah iris. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan biometrics yang lain, yang berkisar 15-30 spot. Fakta ini mengindikasikan bahwa iris sangat bagus dipakai untuk identifikasi keunikan dan ketunggalan seorang individu dibandingkan dengan biometrics yang lain. Biometrics yang direkam dalam e-KTP relatif lengkap, dan saling melengkapi satu dengan yang lain untuk mengidentifikasikan ketunggalan penduduk. Dari sisi skala populasinya, maka proyek biometrics ini merupakan terbesar kedua di dunia setelah India.

Setelah e-KTP berhasil diwujudkan, database yang terintegrasi ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai  layanan bermanfaat bagi masyarakat. Misalnya untuk pemilu, layanan perbankan, layanan kesehatan, lamaran kerja, penerbangan, penginapan karena tiap individu dapat dipastikan identitasnya.  Namun demikian, pemanfaatan dan pengelolaan data-data e-KTP ini memerlukan dukungan jangka panjang dari seluruh komponen pelaku teknologi di Indonesia. Akademisi dapat berpartisipasi dalam riset terkait teknologi e-KTP, misalnya biometrics, chip, dan sisi sekuriti. Kalangan industri pun akan dapat ikut meraih manfaatnya, dengan pengembangan berbagai teknologi yang mendukung dan memanfaatkan e-KTP seperti misalnya Card Reader.  Diharapkan program ini dapat menjadi landasan kegiatan R&D jangka panjang, baik di perguruan tinggi maupun industri untuk mengoptimalkan manfaat yang dapat diperoleh dari e-KTP.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research. Tandai permalink.

4 Balasan ke Teknologi Biometrics dalam e-KTP

  1. Sigit Sugiharto berkata:

    saya sedang mencari jurnal-jurnal tentang biometrics.. barangkali Bapak bisa membantu saya…

  2. dzakir singo berkata:

    tapi kenyataannya yg sekarang dipercepat proses pembuatannya dan udah jdi sbelum pelgub DKi, bentuknya sama sperti KTP nasional yg lama, cman beda ada hologram aja, tdak ada chip ataupun magnet unt akses data….. spertinya kita dibohongin lagi sama penyelenggara pemerintahan….

  3. Mas Dzakir. Chip itu ada ditanam di dalam KTP, sehingga tidak tampak dari luar.

  4. Ping balik: Membedah Teknologi e-KTP | Care to share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s