Kenangan dengan almarhum Bapak

164365_10150089684229477_4939347_n
Tepat hari ini, dua tahun yang lalu bapak tercinta berpulang kembali ke Al Khaliq. Bapakku sangat sayang pada keluarga.

Saat masih kecil, pernah diajak Bapak berdua ke Surabaya, menjemput eyang Suryo putri. Malam-nya kami bermalam di rumah saudara. Karena gelisah, saya mengajak bapak pulang saat itu juga ke Solo. Bapak menghibur dengan mendongeng tentang burung yang ingin minum air dari botol, dan satu cerita lagi entah apa aku lupa. Tapi akhirnya aku pun tertidur pulas.

Sekitar tahun 76, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah kami (saat itu bertempat di Badran Gang Kantil, nomer 269 (?) ). Ibu tergopoh-gopoh keluar rumah dan menanyakan. Ada apa ? Kaget, nggak biasanya ada mobil masuk ke pekarangan kami. Ternyata petugasnya kemudian mengeluarkan sebuah TV hitam putih. Bapak memberi kejutan kepada kami, dengan diam-diam membelikan TV hitam putih yang saat itu masih termasuk barang mewah bagi kami sekeluarga.

Tahun 95 an saat saya sudah bekerja di BPPT Thamrin. Bapak kalau sedang dinas ke Jakarta, kadang saya diajak bermalam di hotel langganan beliau di Senen. Saat mau pulang, saya sering diselipi uang saku tambahan, padahal saya sudah bekerja.

Kalau ada anggota keluarga yg berulang tahun, pagi-pagi habis Subuh bapak dan ibu menelpon, mengucapkan selamat pagi. Mungkin ini meneruskan kebiasaan Eyang Karto. Dulu kalau saya dan adik-adik ulang tahun, Eyang berdua naik becak dari Gondowijayan ke Badran, memberi hadiah, kadang anggrek yang beliau petik dari kebun sendiri. Kebiasaan kami di rumah, kalau ada yg ulang tahun, ibu selalu membuatkan air teh hangat dan roti tawar. Setelah doa bersama, kami makan bersama roti tawar dan teh hangat itu.
Kebiasaan bapak dan ibu kalau mengantar putra-putri atau cucunya keluar rumah (sekolah, kembali ke rumah masing-masing, dsb) adalah mengantar sampai keluar pagar dan melambaikan tangan sampai anak-cucunya tidak kelihatan lagi. Ini juga meneruskan ajaran/kebiasaan eyang Karto.

Kalau sore hujan lebat, saya telpon ke rumah bapak-ibu. Apakah ada rumah yang bocor, karena seingat saya, rumah Bapak-Ibu beberapa tempat sudah tua dan bocor. Bapak menjawab tenang……ada tapi jangan khawatir, Lik….airnya sudah ditampung dengan ember.

Bapak dan Ibu bagi kami, adalah orang tua yang kaya raya, karena meninggalkan warisan yang luar biasa besar. Bukan berupa harta benda, tapi kasih sayang dan kenangan manis, yang tak terlupakan sampai akhir hayat.

Robbighfirly wali walidayya warhamhuma, kamaa robbayanii soghiiro. Ya Allah, ampunilah dosa kedua orang tuaku. Dan kasihilah mereka, sebagaimana mereka mengasihi waktu kecil.

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di keluarga. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s