Menikah atau sekolah

Suatu saat murid saya datang ingin konsultasi. “Pak, ….saya ingin tanya-tanya, tapi bapak jangan ribut-ribut dulu ya…” (astaga…berarti selama ini penampilan saya mirip dosen yang ribut ya ?…wkwkwkwkk ). Dia adalah murid saya, yang terkenal sangat cerdas dan jadi andalan di kampus. Sejak meraih prestasi nasional, dia saya sudah incar, agar kelak setelah selesai kuliah, bergabung dengan tim penelitian saya. Murid saya tersebut sedang ragu, apakah dia meneruskan sekolah pasca dulu atau menundanya, karena akan segera menikah dalam waktu dekat. Nasehat saya ke dia, dua-duanya adalah pilihan yang mulia. Pernikahan yang jelas tidak boleh diundur. Tinggal sekolah pascanya sekarang atau belakangan. Pilihan apapun selalu ada resikonya, tapi tidak boleh ragu. Harus berani mengambil keputusan, setelah melewati pertimbangan masak-masak. Melanjutkan sekolah pasca sarjana, sesudah menikah juga sangat bagus. Tidak mengapa diundur dulu sekolahnya. Memilih jadi ibu rumah tangga terlebih dulu pun adalah pilihan yang mulia. Kelak kalian berdua bisa sekolah bareng, sambil membina rumah tangga. Suka duka dijalani berdua. Pernikahan tidak akan mengganggu semangat belajar, maupun karir. Selama niat tolabul ilmi itu ada, Insya Allah akan selalu ada jalan. Memang sih, kalau sudah berkeluarga, cobaan itu selalu ada, perjuangan juga tidak mudah. Adakalanya sambil memegang anak yang masih bayi, mata harus melototi jurnal-jurnal penelitian yang demikian mendalam dan sulit dicerna. Adakalanya anak demam, sedangkan esok harinya harus menghadap professor dan dituntut memberikan laporan terbaik. Jangan menyerah, jangan menyerah dan jangan menyerah. Perjuangan jatuh bangun dalam meraih ilmu, memang kadangkala tidak lepas dari air mata. Ada contoh yang agak ekstrim. Saya pernah punya seorang teman, single parent. Malamnya masih menyusui anaknya, besok paginya sudah harus berangkat sendiri ke Jepang untuk menempuh S2-nya selama 2-3 tahun. Menyapih bayi itu adalah perjuangan berat, yang “menyakiti” dua-duanya, baik si anak maupun sang ibu. Anak merasa kehilangan kasih sayang dari ibunya, sedangkan sang ibu harus kehilangan kesempatan mencurahkan kasih sayang dengan menyusui anaknya. Apalagi kasus teman saya tsb., dia harus berangkat berpisah bertahun-tahun dengan anaknya. Alhamdulilllah, studinya yang penuh air mata tsb. akhirnya selesai dengan baik, dan dia telah berkumpul kembali dengan buah hatinya. Hidup ini kadangkala keras dan penuh pengorbanan demi mencapai kebahagiaan dan kesuksesan.
Kalau mengikuti perjalanan murid saya tersebut, saya ikut bahagia dan bersyukur. Semoga kalian berdua sukses di negeri seberang, meraih ilmu dan karir, sekaligus menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rohmah

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di kuliah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s