Terlalu banyak berita buruk yang dikonsumsi masyarakat

“Banyak yang tidak tahu Indonesia sekarang luarbiasa, karena yg dikonsumsi hanya berita2 buruk“ (Panji Pragiwaksono@Menata 15 th Reformasi Indonesia Jilid 2, Univ.Paramadina). Begitu tulis seorang teman di status FB-nya. Kalau dalam satu populasi, ada beberapa sampel yang punya karakter sepintas berbeda, yang lebih menarik untuk diberitakan adalah sampel yang jumlahnya sedikit tersebut. Kadang karena hal tsb. terlalu intens diberitakan, capaian besar yang sudah diperoleh, atau sisi baik dari sebagian besar populasi tsb. tidak tersampaikan ke masyarakat. Sayang sekali. Aura pemberitaan di media dewasa ini sudah demikian negatif. Sempat ngobrol dengan sahabat saya yang jadi wartawan & koordinator acara di salah satu media. Dia ceritakan kalau wartawan biasanya sudah punya materi/skenario yang ditulis sebelum melakukan wawancara. Karena itu dalam melakukan wawancara, dia sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang memang mendukung artikel yang akan dia tulis. Kadangkala di TV, dia dan teman-temannya mengarahkan sampai posisi duduk narasumber agar agak miring sedikit ke kiri atau kanan, tujuannya agar nanti saat ditampilkan di TV, bisa tepat posisinya saat digabungkan dengan pihak yang berseberangan. “Dalam jurnalisme itu wajar dan biasa dilakukan, To”. Pendapat yg saya sampaikan ke dia, sebagai upaya berhati-hati, saat diwawancara saya selalu menyiapkan materi yang tertulis untuk disampaikan, dan yang disampaikan tidak keluar dari materi tsb. berhati-hati dengan pancingan pertanyaan dari wartawan. Saya tidak mau wawancara apabila tujuannya tidak menjadikan manfaat, apalagi berpotensi jadi fitnah bagi pihak lain. Karena itu dulu saya menolak permintaan saat salah satu koordinator acara berita siang, minta izin untuk stop ke kantor Thamrin, dan mau meminta pendapat saya tentang kasus video Ariel & Luna Maya dari sisi ICT. Tidak sepantasnya waktu dibuang untuk hal-hal seperti itu. Klarifikasi terhadap satu kasus pun harus disampaikan dengan bahasa yang santun. Saat menyampaikan koreksi terhadap pendapat politisi DPR yang dinas dengan saya, sebenarnya bahasa saya wajar dan datar. Tetapi muncul di berita dengan judul “X dinilai ngawur”, dan di dalam artikel tsb. kalimatnya berbunyi “Menanggapi itu, peneliti BPPT yang saat itu ikut kunker Komisi II ke India, Anto Satriyo Nugroho, membantah pernyataan X. Menurutnya apa yang disampaikan X ngawur dan salah persepsi.” ….aduuuh……pemakaian kata “ngawur”, itu kesannya seperti orang berantem di pasar. Padahal penjelasan sudah saya sampaikan dengan hati-hati. Akhirnya sekarang kalau ada pertanyaan dari wartawan, kami arahkan ke satu pintu saja. Semua penjelasan disampaikan dengan hati-hati dan teratur, agar tidak jadi fitnah.

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s