Mengapa sidik jari tidak berhasil dibaca ?

Hari ini saya jaga stand di BPPT dalam rangka penganugerahan gelar perekayasa utama kehormatan kepada Bp. Hatta Rajasa. Ada seorang pengunjung, seorang bapak yang berusia kira-kira 60 tahun, yang mencoba e-KTP reader. Sayang ektp beliau walaupun sudah berhasil dibaca, tetapi gagal dalam tahap verifikasi sidik jari. Beliau kami minta berulangkali mencoba tapi gagal juga. Akhirnya saya coba analisa dg aplikasi AFIS yg didevelop di BPPT yang diinstall di laptop lain. Dari hasil analisa memang terlihat memang kualitas sidik jarinya tidak baik. Pola ridgenya tak beraturan dan minutiae nya pun sulit di temukan walau scr visual. Saat diekstrak ternyata hanya di temukan sekitar 5 titik. Hal ini penyebabnya bisa bermacam-macam. Dengan asumsi bahwa proses enrollment hingga penerbitan e-KTP berjalan normal, penyebabnya sbb.

    1. Faktor modul Fingerprint Verification System yang diimplementasikan pada e-KT reader
      1. perbedaan scanner menyebabkan kualitas hasil akuisisi citra berbeda. Pada saat enrollment e-KTP yang dipakai adalah L1 scanner, sedangkan di e-KTP reader lain, dengan FAP yang lebih rendah
      2. Perbedaan kualitas program AFIS yang diimplementasikan di e-KTP reader vs yang dipakai untuk enrollment, menyebabkan perbedaan kualitas hasil ekstraksi minutiae.
    2. Faktor kondisi lingkungan saat verifikasi dilakukan. Misalnya udara yang terlalu lembab, kering menyebabkan hasil akuisisi citra tidak bagus
    3. Faktor object identifikasi (orang)
      1. Ada sebagian kecil populasi yang memang sidik jarinya sulit untuk direcognize. Bisa saja karena pekerjaan yang menyebabkan pola ridge menjadi rusak (petani, tukang batu, dsb), atau jarinya selalu lembab, dsb
      2. Cara meletakkan jari yang kurang tepat, sehingga area yang terpindai sangat kecil overlappingnya dengan area terpindai saat perekaman e-KTP

Tentu saja saya tidak berani menanyakan pekerjaan beliau. Yang jelas beliau lanjut usia. Kebanyakan orang yang lanjut kurang bagus kualitas sidik jarinya.  Pemadanan sidik jari memang statistical process, tidak ada jaminan selalu 100% bisa berhasil.  Karena itu saat  e-KTP reader diimplementasikan industri, harus dipastikan bahwa kinerja modul biometrics yang diimplementasikan memenuhi spesifikasi yang disyaratkan. Hal ini memerlukan berbagai pengukuran, antara lain kinerja AFIS yg diukur dari False Acceptance Rate (FAR) dan False Rejection Rate (FRR) pada dataset tertentu.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di catatan kerja, research. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s