Catatan perjalanan ke Sumba

nttPada tanggal 13-17 September 2013 saya melakukan perjalanan ke NTT, tepatnya Kabupaten Sumba Barat Daya. Tujuan saya adalah untuk mengikuti kegiatan rekan-rekan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, sebagai observer, agar mendapatkan gambaran bagaimana penelitian lapangan terkait penyakit Malaria dilakukan. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman memiliki 2 kegiatan di Sumba, yaitu STOP MiP dan Sumba Spirit.  Dengan mengamati bagaimana mereka bekerja, saya berharap dapat menyempurnakan penelitian tim saya dalam mengembangkan Computer Aided Diagnosis system untuk mendeteksi status Malaria dari citra mikroskopis apusan tipis darah. Penelitian ini didanai oleh DIPA BPPT 2013 dan Kementrian Negara Riset dan Teknologi melalui Insentif Riset SINAS 2013.

1. Kunjungan ke kantor dan laboratorium lapangan Eijkman Institute

Pada tanggal 13 September 2013, saya, pak Eko dan pak Dendi (staff Eijkman Instittute) berangkat ke Tambolaka dengan pesawat Lion Air JT30, pk.06.20am dari bandara Soekarno Hatta. Sekitar pk.09.10 pesawat tiba di bandara Ngurah Rai, dan kami pindah pesawat Wings penerbangan IW 1832 berangkat pk.10.10, dan meneruskan perjalanan ke bandara Tambolaka. Sekitar pk.13.30 kami tiba di bandara Tambolaka. Selama di Tambolaka, kami menginap di hotel Sinar Tambolaka, sampai tanggal 17 September 2013.

Setelah meletakkan barang di hotel, kami berangkat ke kantor dan laboratorium lembaga Eijkman yg berada di pedalaman. Ada dua project penelitian lembaga Eijkman di sini:

  1. STOP-MiP (Screening and Treat or Prevent Malaria in Pregnancy) [1]

  2. Sumba Spirit (Spatial Repellent Intervention) : dengan tujuan mengetahui efektifitas pemakaian obat nyamuk dalam mengurangi wabah Malaria [2]

Yang kami kunjungi pertama kali adalah kantor STOP-MiP. Principal Investigator dari penelitian ini adalah Dr.Din Syafruddin dan Dr.Rukhsana Ahmed, yang membawahi Laboratory Manager Dr.Puji Asih, Field Coordinators Dr.Sheria Puspita Arum & Dr. Nenci Siagian, serta Data Manager Ismail Ekoprayitno Rozi.

Gambar 1 bergambar bersama staff STOP-MiP (Bu Atik, Bu Wahyu, Dr. Sheria) 

Data yang diperoleh di lapangan termasuk form yang diisi selama pengamatan selanjutnya diolah di ruang data dan dikirimkan ke Eijkman Institute di Jakarta.

Kunjungan berikutnya adalah kantor Sumba Spirit. Di kantor ini kami berkesempatan masuk ke ruang insektarium. Di ruang tersebut, kegiatan yang dilakukan antara lain klasifikasi spesies nyamuk Anopheles betina. Klasifikasi spesies ini adalah bagian dari penelitian untuk mempelajari perilaku nyamuk. Menurut ibu Lenny, dalam semalam kadang ribuan nyamuk yang harus diklasifikasikan spesiesnya. Klasifikasi dilakukan oleh 3 orang, dan kesimpulan akhir diambil dengan majority voting. Gambar 2 kanan menampilkan mikroskop yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Mikroskop sebelah kiri dipakai untuk parasitologi, sedangkan mikroskop kanan dipakai untuk melakukan disect/pembedahan nyamuk. Setelah dibedah, diamati ovariumnya. Nyamuk Anopheles betina yang memiliki sel telur, akan membutuhkan darah manusia agar dapat berkembang dan menetas. Nyamuk Anopheles jantan tidak memerlukan darah untuk hidup, melainkan mengisap madu.

fig2

Gambar 2 di ruang insektarium di kantor Sumba Spirit (a) Anto, Lenny, Dendi (b) mikroskop untuk parasitologi dan disect (c) tempat pembiakan larva Anopheles betina (d) kumpulan berbagai nyamuk yang bukan genus Anopheles

Dalam studi populasi nyamuk di Sumba, tim Eijkman juga memakai teknik sampling nyamuk Human Landing Catches (HLC). HLC adalah teknik melakukan pengambilan sampel nyamuk dengan memakai manusia sebagai umpan. HLC dilakukan dengan mengumpankan tubuh, misalnya tangan menunggu nyamuk Anopheles hinggap. Saat nyamuk Anopheles hinggap untuk menggigit, nyamuk tersebut dihisap dengan alat khusus. Selain HLC, teknik yang biasa dipakai adalah Light trap. [3]

Kunjungan berikutnya adalah ke laboratorium lapangan I Eijkman Institute. Di laboratorium ini dilakukan berbagai analisa terhadap sampel yang dikumpulkan. Di antaranya memisahkan serum dari darah yang nantinya akan dianalisa lebih lanjut di Jakarta. Pasokan listrik didukung oleh keberadaan generator, karena pekerjaan di lab. ini memerlukan suhu tertentu, terutama untuk penyimpanan object yang diteliti.

3

Gambar 3 Laboratorium lapangan I Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Weetabula


2. Observasi aktifitas STOP MiP (Screening & Treat or Prevent Malaria in Pregnancy)

STOP-MiP adalah program penelitian yang dilakukan Lembaga Eijkman untuk melakukan screening, perawatan dan pencegahan Malaria dalam kehamilan. Sekitar 10-14% wanita yang hamil terinfeksi oleh Malaria, terutama oleh spesies P.falciparum dan P.vivax. Infeksi ini dapat menyebabkan kelahiran dini, maupun kondisi bayi yang kurang berat badannya sehingga resiko kematian bayi meningkat.

Ada 3 jenis intervensi dalam kegiatan ini:

  1. Intermittent Screening and Treatment for preventiion of Malaria in pregnancy (ISTp). Pertama-tama dilakukan malaria testing kepada wanita yang hamil, baik memperlihatkan simptom Malaria atau tidak. Teknik diagnosa yang dipakai adalah Rapid Diagnostic Test (RDT). RDT mampu melakukan diagnosa dalam waktu cepat, sektiar 14 menit. Apabila hasil test positif Malaria, pasien akan diberikan penanganan dengan Dihydroartemisinin-piperaquine (DHP), yang diberikan pada trimester kedua atau ketiga kehamilan.

  2. Intermittent preventive treatment (IPTp), adalah pemberian obat kepada wanita hamil baik memperlihatkan simptom malaria atau tidak, tanpa harus melakukan pemeriksaan darah. Teknik ini sudah dipakai di Afrika, tapi belum pernah dipakai di Asia.

Dalam program STOP-MiP, sejalan dengan kebijakan pemerintah, seluruh wanita yang hamil hanya diperiksa pada periksa kehamilan pertama. Apabila positif Malaria, selanjutnya diberikan DHP pada trimester kedua dan ketiga, dan quinine pada trimester pertama.

Dalam aktifitas STOP-MiP, yang jadi target enrollment adalah mereka yang usia kehamilannya 16-30 minggu, dan memperlihatkan tanda-tanda kehidupan janin ( bunyi jantung terdeteksi, janin yang bergerak ). Mereka akan diminta kesediaannya untuk ikut program STOP-MiP dengan pernyataan tertulis. Mereka juga bersedia melahirkan di Puskesmas, Polindes atau Rumah Sakit.

4

Gambar 4 (a) interview dengan pasien (b) pemeriksaan dengan RDT, pembuatan slide dan sampel untuk analisa PCR  (c) RDT yang digunakan untuk memeriksa pasien (d) apusan tipis dan tebal darah

Gambar 4 menampilkan aktifitas tim dalam melakukan pemeriksaan kepada pasien. Tiap pasien yang  datang diperiksa kandungannya dan diambil sedikit darahnya untuk dites dengan RDT (Rapid Diagnostic Test) untuk mengetahui ada/tidaknya plasmodia. Gambar 4(c) adalah RDT yang dipakai. Alat RDT mirip tes kehamilan, bisa mendeteksi dalam waktu singkat. Untuk pengecekan lebih akurat, dokter langsung membuat smears/apusan tebal dan tipis untuk pemeriksaan mikroskopis di lab. (Gambar 4(d) ). Selain itu disiapkan juga olesan darah untuk pemeriksaan yang lebih teliti lagi dengan memakai teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) di Jakarta.

Salah satu tantangan terberat dalam kegiatan ini adalah memperoleh sampel yang bersedia dipantau hingga melahirkan. Dalam kegiatan kemarin diketahui ada salah seorang pasien yang sudah dipantau sejak awal,  saat melahirkan ternyata memilih melahirkan dengan dukun bayi, bukan di klinik atau puskesmas. Padahal tim Eijkman sudah bersedia untuk menjemput dan mengantar ke puskesmas, jika terasa saat mau bersalin tiba. Akhirnya hilanglah kesempatan memperoleh sampel untuk dianalisa, padahal pasien tersebut sudah berbulan-bulan dimonitor. Yang diperlukan diantaranya adalah plasenta bayi untuk dianalisa. Sejak berlangsungnya STOP-MiP pada bulan Mei yang lalu, sudah sekitar 300 data yang diperoleh tapi sejauh ini status Malarianya masih negatif. Negatifnya status ini baru sebatas hasil analisa RDT, tapi belum dianalisa lebih teliti dengan mikroskop maupun PCR. Sangat sulit untuk mendapatkan ahli yang mampu membaca microphotograph darah dan melakukan identifikasi pasien. Sempat didiskusikan oleh tim untuk mempertimbangkan mengubah strategi pengambilan sample agar data mudah diperoleh, tapi hal ini akan mengakibatkan hasil yang secara statistics sulit dipertanggungjawabkan.

Dari kegiatan di atas, sepertinya pendekatan sosiokultural merupakan tantangan terbesarnya. Tim harus mampu berinteraksi dengan penduduk yang berlainan budaya, pola fikir dan pendidikan. Untuk itu, tim Eijkman telah memakai staf lokal yang mampu berkomunikasi dengan penduduk setempat dengan bahasa daerah. Inform consent juga sebaiknya dibuat dalam berbagai bahasa, terutama bahasa daerah setempat, karena tidak semua penduduk mampu berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.


Gambar 5 Bergambar bersama tim Eijkman dan penduduk setempat di Polindes Noha

3. Observasi aktifitas Sumba Spirit (Spatial Repellent Intervention)

Sumba Spirit (Spatial Repellent Intervention) adalah salah satu riset yang dilakukkan oleh tim Eijkman Institute dengan tujuan mengetahui efektifitas pemakaian obat nyamuk dalam mengurangi wabah Malaria [2]. Pada tanggal 16 September 2013, kami mengikuti teman-teman tim Sumba Spirit Eijkman untuk melakukan survey ke desa Karang Indah, di Kabupaten Sumba Barat Daya. Survey penduduk merupakan langkah awal dari kegiatan MBS (Mass Blood Survey). Dari kantor Sumba Spirit Eijkman, kami naik mobil ke tempat tujuan. Rekan-rekan Eijkman yang terjun ke lapangan naik sepeda motor karena lebih sesuai dengan medannya. Ternyata lokasi tersebut letaknya cukup jauh, sekitar 45 km, ditempuh dalam 2 jam. Medannya cukup sulit, karena harus naik turun tanjakan yang kadang sangat curam. Di tanjakan tersebut jalannya berbatu-batu, dan kalau tidak hati-hati mobil bisa terguling dan terperosok ke kiri/kanan yang cukup dalam. Sekitar separuh perjalanan terakhir signal HP sudah tidak ada.

6

Gambar 6 Peta kegiatan Sumba Spirit di Sumba Barat Daya. Desa Karang Indah berada di ujung kiri bawah, dan belum terpetakan.

7

Gambar 7 suasana saat diskusi dengan kepala desa dan pelaksanaan survey lapangan

8Gambar 8 Rute perjalanan dari office Eijkman di Weetabula ke Posyandu Noha dan Desa karang indah.

Setelah sampai di desa, kami pertama-tama bersilaturahmi dengan bapak Kepala Desa. Beliau kemudian mengerahkan Kepala Dusun dan Kaur untuk membantu rekan-rekan Eijkman melakukan survey, mendata tiap kepala keluarga dan posisi rumah dimana keluarga tersebut berada. Rumah penduduk tidak berkumpul di satu tempat yang teratur, melainkan tersebar dengan jarak kadang ratusan meter. Posisi rumah ditandai dengan GPS dan diberikan label. Dengan demikian, akan diperoleh peta tempat tinggal penduduk, bukan hanya data penduduk saja. Total ada sekitar 226 KK, di desa Karang Indah, dengan jumlah penduduk lebih dari 1000. Ada dua gereja di daerah tsb. masing-masing gereja Katolik dan Protestan.

Penduduk tinggal di rumah adat yang atapnya terbuat dari alang. Di sana-sini anak-anak balita bermain-main. Mereka tidak berbaju, dan kadang bertelanjang saja. Kulit mereka kotor, mungkin karena sulitnya air. Pak Kades menjelaskan kalau sebenarnya daerah itu airnya cukup bagus (air merupakan masalah utama di Sumba). Rencana pak Kades akan dibuat penampungan air untuk seluruh penduduk. Desa Karang Indah merupakan desa baru yang hasil pemekaran, dan baru resmi berdiri sejak tahun yang lalu. Sayang, beberapa saat yang lalu, rumah penduduk di hampir 3 desa dibakar oleh oknum tak bertanggung jawab. Di sana-sini anjing dan babi berkeliaran. Listrik belum masuk ke desa ini, sehingga saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka mereka melewatkan malam hari. Bagaimana penerangannya, dan dalam kondisi demikian tentunya anak-anak tidak sempat belajar atau membaca buku di malam hari.

Salah satu hal yang ditanyakan dalam survey adalah apakah mereka tidur memakai kelambu atau tidak ? Sambil tertawa, mereka menjawab, tentu saja tidak. Apalagi setelah rumah mereka habis dibakar. Wajar kalau di daerah tsb. masih rawan Malaria. Proses pendataan masih berlangsung hingga sore itu diharapkan selesai satu dari total 4 dusun di Desa Karang Indah. Setelah dilakukan pendataan, dan dipetakan, baru kemudian akan dipertimbangkan daerah mana yang akan diikutsertakan dalam target program Sumba Spirit.

Referensi

  1. STOPMiP: Intermittent Screening and Treatment Or intermittent Preventive therapy for the control of Malaria in Pregnancy in Indonesia URL: http://www.controlled-trials.com/ISRCTN34010937/ (akses terakhir 15 September 2013 )

  2. http://apps.who.int/trialsearch/trial.aspx?trialid=ACTRN12612001102864 (akses terakhir 15 September 2013)

  3. “Comparative performance of the Mbita trap, CDC light trap and the human landing catch in the sampling of Anopheles arabiensis, An. funestus and culicine species in a rice irrigation in western Kenya”, Mathenge et al., Malaria Journal 4:7, 2005 http://www.malariajournal.com/content/4/1/7 (akses terakhir 15 September 2013)

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research, trip report. Tandai permalink.

2 Balasan ke Catatan perjalanan ke Sumba

  1. Wah, risetnya menarik pak. Semoga tim diberi senantiasa diberi kesehatan dan semangat untuk dapat memberi manfaat bagi sesama.
    Amin

  2. Wahyu berkata:

    halo pak Anto, setelah meninggalkan Sumba baru saya mendapatkan artikel ini… terima kasih atas kunjungannya ke Sumba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s