Cloning sidik jari lewat foto ?

Seorang teman minta pendapat saya tentang berita di http://thehackernews.com/2014/12/hacker-clone-fingerprint-scanner.html

Dalam berita dan presentasi tersebut, dilaporkan bahwa sidik jari menteri pertahanan Jerman dapat dicloning dengan berbekal informasi dari jepretan foto pada jarak 3 meter, memakai standard camera. Benarkah hal tersebut bisa dilakukan ? Saya masih ragu dengan akurasi hasil cloning tersebut.

  1. Pola sidik jari manusia terbentuk oleh garis-garis yang cukup detil, membentuk pola global seperti loop, whorl, arch dsb.  pada tingkat kerapatan 20.7 garis/cm (pria) dan 23.4 garis/cm (wanita) [1]
  2. Dengan tingkat informasi detail seperti itu, fingerprint scanner umumnya mensyaratkan resolusi 500 dpi agar detail fitur level 1 dan 2 bisa terambil dengan baik. Teknik sensing sidik jari cukup beragam. Ada yang memakai sensor optik, sensor solid-state, maupun ultrasound.
  3. Garis-garis di sidik jari  memiliki warna kulit yang sama dg valley (lembah)nya. Pola  sidik jari yang terbentuk oleh ridge dan tampil sebagai warna hitam pada citra sidik jari disebabkan oleh perbedaan tinggi dan rendahnya permukaan kulit tsb. Prinsip kerja optical sensing seperti  frustrated total internal reflection (FTIR) fingerprint scanner adalah berdasarkan perbedaan refleksi cahaya. Pada daerah ridge akan ter scatter secara random sehingga tampak gelap, sedangkan pada valley terefleksi di internalnya, sehingga terlihat terang (putih). Untuk mendapatkan pola seperti itu, cahaya harus diarahkan tepat pada permukaan sidik jari, sehingga perbedaan refleksinya bisa dicapture dengan baik.
  4. Saya coba lakukan eksperimen memakai kamera pada Samsung S4. Dua garis berjarak 1 inch saya foto dari jarak 3 meter. Kalau dengan photo size terbesar 4128×3096 tanpa perbesaran, kedua garis akan terpisah pada jarak 30 pixel. 1 pixel berarti setara dengan jarak 0.84 mm. Jarak 2 buah ridge sidik jari adalah 0.5mm. Sangat sulit untuk melihat 2 ridge line terpisah dengan baik dengan setting di atas. Apalagi sampai ekstraksi minutiaenya. Sebagai referensi, pada umumnya pemindaian sidik jari dilakukan dengan resolusi 500 dpi, sehingga dua ridge line akan terpisah dengan jarak lebih kurang 10 pixel.
  5. Selanjutnya saya coba dekatkan jari saya ke smartphone sekitar 10 cm, dan difoto dengan flash. Hasilnya cukup bagus sebagaimana foto dibawah. Asal refeleksinya cukup kuat, garis-garis ridge bisa terdeteksi sidik jari dengan baik. Tapi ini dilakukan jarak dekat, 10 cm. Apakah mungkin dari 3m bisa diperoleh efek serupa ?
    10906385_10152916546709477_8207009882503234646_n
  6. Teknik akuisisi tanpa menyentuh sensor sebenarnya juga sudah lama diteliti.  Misalnya dilakukan dalam studi oleh Parziale [2], Hiew, Teoh & Pang [3], dan memakai mobile device [4]
  7. Yang jadi pertanyaan saya : (i) standard camera bagaimana yang dapat dipakai dalam eksperimen di atas ? (ii) Bagaimana kondisi pengambilan tiap sampel dilakukan ? (iii) Apakah hasil rekonstruksinya akurat dan sampai pada level operational quality ?  Dalam berita di situs di atas, saya juga tidak membaca bahwa percobaan pemadanan dengan fake thumbprint berhasil dilakukan.
  8. Saya belum selesai melihat video di atas. Saya akan update catatan ini berdasarkan informasi yang saya baca/lihat dari video maupun referensi terkait.

Referensi

  1. Introduction to Biometrics, A.K.Jain, A.Ross, K.Nandakumar, Springer, 2011
  2. “Touch-less fingerprint technology”, G.Parziale, Advances in Biometrics: Sensors, Algorithms and Systems, N.K. Ratha and V. Govindaraju (Eds), Springer, Heidelberg, pp.25-48, 2007
  3. “Touch-less fingerprint reognition system”, B.Y. Hiew, A.B.J Teoh, Y.H. Pang, Proc. Workshop on Automatic Identification Advanced Technologies, pp.24-29, 2007
  4. “Preprocessing of a fingerprint image captured with a mobile camera”, C.Lee, S.Lee, J.Kim, S.J. Kim, Proc. Int. Conf. on Biometrics, LNCS 3832, pp.348-355, 2006
Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di catatan kerja. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s