Data yang bersih bisa diperoleh dari hasil program KTP-el

Di detik.com hari ini saya baca bahwa pemerintah mentargetkan 15.5 juta warga miskin memperoleh bantuan dari pemerintah lewat Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Kartu Simpanan Keluarga Sejahtera (KSKS). http://news.detik.com/read/2015/01/16/040616/2804968/10/pemerintah-targetkan-155-juta-warga-miskin-peroleh-kartu-sakti-jokowi?9922022

Ibu Menteri Sosial menyatakan : “Data valid menjadi sangat penting dalam upaya pengentasan kemiskinan. Tanpa adanya data yang sahih penanganan kemiskinan hanyalah mimpi”.

Dalam salah satu FGD yang pernah saya ikuti di BPPT, dijelaskan (kalau tidak salah oleh tim TNP2K) bahwa bantuan pemerintah ke rakyat miskin hanya 30% yang tersalurkan ke yang berhak. Bantuan yang tidak efektif tersalurkan ini menjadi kendala yang harus dipecahkan, saat pemerintah akan menyalurkan bantuan kepada penduduk miskin. Data rakyat miskin harus dibersihkan terlebih dahulu, sebagai basis pemberian layanan prima ke masyarakat.

Hal ini sebenarnya dapat dilakukan dengan memanfaatkan data kependudukan yang telah dibersihkan oleh biometrics deduplication, dalam program KTP elektronik.  Proses deduplikasi data penduduk dalam program KTP-el, memanfaatkan data biometrics sidik jari, iris dan wajah. Saat seorang penduduk melakukan perekaman KTP-el, maka sidik jari, iris dan wajahnya akan dibandingkan dengan data biometrics yang telah direkam terlebih dahulu. Seseorang yang selama ini memiliki beberapa KTP, akan mendapatkan panggilan perekaman untuk tiap KTP yang dimilikinya. Misalnya dia memiliki KTP di Jakarta dan Bogor, maka penduduk tersebut akan dipanggil untuk melakukan perekaman di dua tempat tersebut. Seandainya penduduk itu belum pernah merekam data biometrics, proses pencarian tersebut menghasilkan output : “identitas anda unik”, dan data biometrics nya akan ditambahkan ke database. Tetapi jika penduduk tersebut sebelumnya pernah melakukan perekaman biometrics di tempat lain, maka hasil proses pencarian tersebut akan memberitahukan bahwa yang bersangkutan pernah melakukan perekaman, dan tidak akan diterbitkan kartu identitas kedua baginya.  Yang diterbitkan hanyalah yang kartu dengan identitas yang lebih dahulu dinyatakan tunggal. Dengan data biometrics ini, tidak ada lagi (tentunya statistically) data ganda di database kependudukan.

Dengan mencocokkan data rakyat miskin dengan  data hasil program KTP-el yang telah bersih, maka data rakyat miskin yang tidak tunggal dapat dihapus, sehingga dapat diperoleh data yang valid.

Data valid sudah diperoleh. Tapi apakah masalah itu sudah selesai ? Masih ada masalah lagi, yaitu bagaimana caranya agar bantuan pemerintah bisa diberikan kepada yang bersangkutan ? Seandainya penduduk telah menerima KTP-el, proses otentikasi bisa dilakukan dengan memakai Perangkat Pembaca KTP-elektronik. Karena Perangkat Pembaca KTP elektronik tersebut mampu menjawab :

  1. apakah kartu identitas yang dibawa oleh penduduk tersebut valid ? bukan kartu bodong
  2. kalau kartu tersebut valid, apakah benar kartu itu sedang dibawa oleh yang bersangkutan ataukah sedang dibawa orang lain (bisa diwakilkan, atau dicuri orang)

Pertanyaan pertama terjawab dengan fitur mutual authentication pada Perangkat Pembaca KTP-el, sedangkan pertanyaan kedua terjawab dengan biometrics verification : penduduk meletakkan KTP-el dan jarinya pada pemindai perangkat, dan alat akan mencocokkan apakah data sidik jari pada chip KTP-el match dengan sidik jari penduduk tersebut. Pemadanan ini berlangsung 1:1, yaitu antara data sidik jari pada chip KTP-el vs sidik jari penduduk. Walaupun pemadanannya 1:1, tetapi proses ini akurat karena data sidik jari yagn tersimpan pada chip adalah hasil yang diturunkan dari proses identifikasi ketunggalan (deduplikasi)  dengan pemadanan 1:N di atas.  Melihat pentingnya manfaat “data penduduk yang bersih” sebagai hasil program KTP-el ini diharapkan dapat terus berjalan dan menjadi dasar layanan publik di Indonesia.

flow

Gambar di atas  memperlihatkan alur proses terhadap data biometrics penduduk, mulai dari deduplikasi memakai data biometrics lengkap (2 iris + 10 sidik jari + wajah), hingga hanya 2 sidik jari saja yang ditanamkan di chip KTP-el. Bagian berikutnya menunjukkan bagaimana data pada chip KTP-el dimanfaatkan untuk verifikasi identitas penduduk lewat Perangkat Pembaca KTP-el, dalam layanan publik.

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s