Pentingnya memahami formulasi masalah penelitian: analogi kunci & lubangnya

Kemarin saya ngobrol dg seorg siswa yg mengembangkan hand gesture recognition system. Saya tertarik dan berdiskusi lebih lanjut dengan ybs. Saya tanya, ini akan dipakai untuk aplikasi apa ? Jawab ybs : ini bisa dipakai untuk interface bagi tuna rungu saat berkomunikasi, Pak. Misalnya dipasang di kantor pos, supermarket dsb.
Nah, saya skrg balik tanya : saya lupakan dulu daya tarik riset ini dari sisi akademis. Saya berfikir dari sisi bisnis. Kalau saya jadi owner supermarket, tentunya saya akan mencari alat yg sesuai dg tujuan, akurat dan low cost. Sistem yg anda kembangkan berbasis statistical process. Jualannya akurasi. Kalau tidak sangat tinggi akurasinya, saya nggak mau beli. Bukannya lebih baik saya memilih yg low cost & deterministik ? Kan lebih murah dan akurat kalau saya pasang keyboard dan pengunjung yg tuna rungu cukup ketikkan maksudnya. Selesai bukan ? Akurat dan murah. Mhsw saya terdiam. (Ssst… sebenarnya kami di lab saat masih di Jepang pwrnah mendapat pertsnyaan persis seperti itu, dan dalam posisi yg sama dg mhsw saya. Kita senasib Nak ) Dalam mengerjakan riset, adakalanya perlu hati-hati dg formulasi masalah. Ibaratnya membuat kunci, kita harus tahu dulu. Lobangnya seperti apa. Apakah kompleks atau sederhana. Baru kemudian kita buat kunci yg sesuai dengan lubang tsb. Tapi di sisi akademik, terutama Computer Science, yg mendapat apresiasi adalah bagaimana keunikan kunci yang dibuat (novelty). Karena itu lazimnya peneliti berlomba-lomba membuat kunci yg unik dan berbeda dg yg lain. Tapi kalau risetnya aplikatif, ada resiko terlalu asyik membuat kunci dg bentuk yg rumit dan indah. Padahal lubang kuncinya sederhana. Kalau dari sisi aplikasi, riset tsb bakal sulit diterima karena overkill. Permasalahan sederhana diselesaikan dg cara yg rumit, mengandung banyak unnecessary complexity. Kalau ternyata lubang kuncinya terlalu sederhana dan tidak memungkinkan kita menggali kreatifitas mendesain kunci yg unik, sebaiknya carilah lubang kunci yg sesuai, atau larikan ke dunia teoretik. Dengan kata lain, lubangnya dibuat sendiri. (Ini lain dg riset yg sifatnya eksperimental). Karena itu banyak professor yg tidak terlalu gembira dg tema2 aplikatif. Mereka lebih suka fokus ke teoretik, agar lapangan bermainnya lebih luas. Kalau masalah aplikasinya, suatu hari pasti ada deh. Nothing is more practical than a good theory (Vladimir Vapnik)

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s