Teknologi Biometrics untuk layanan publik

p3Tulisan ini disiapkan sebagai executive summary materi pameran hasil R&D dari laboratorium Komputasi Cerdas pada Forum Inovasi Nasional di Puspiptek Serpong 13 April 2015

Biometrics adalah teknologi identifikasi individual dari ciri khas fisiologis maupun perilaku. Ciri fisiologis yang dapat dipakai antara lain sidik jari, iris, wajah. Sedangkan perilaku dapat memanfaatkan cara berjalan seseorang, dan suara untuk mengenali individu. Teknologi biometrics dewasa ini semakin luas dipakai sebagai alat otentikasi. Misalnya untuk absensi, mengenali pelaku kejahatan, korban kecelakaan, maupun proses deduplikasi identitas penduduk dalam program Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP-el). Sebagai alat otentikasi, biometrics memiliki beberapa kelebihan antara lain : tidak ada resiko lupa, hilang, maupun dipinjam orang lain. Hal ini berbeda dengan metode otentikasi non-biometrics yang lain seperti password, kartu identitas, kunci, yang dapat hilang sewaktu-waktu, lupa, dipinjam orang lain, karena teknologi otentikasi konvensional itu memanfaatkan apa yang diketahui (what you know), apa yang dimiliki (what you have). Sedangkan biometrics memanfaatkan bagian tubuh dari individu itu sendiri (who you are), yang tidak mungkin lupa, hilang atau dipinjam orang lain. Hal ini yang melatar belakangi pemanfaatan biometrics dalam proses deduplikasi identitas penduduk pada program KTP-el, sehingga dapat menghasilkan Nomer Induk Kependudukan (NIK) yang unik dan tunggal sebagai basis pembuatan database kependudukan nasional yang akurat.

Deduplikasi dalam program KTP elektronik dilakukan dengan membandingkan data sidik jari (10 jari), 2 iris dan wajah penduduk yang merekam biometrics, terhadap data yang telah terkumpul secara nasional. Nomer Induk Kependudukan (NIK) baru bisa dijamin ketunggalannya, apabila hasil pemadanan tersebut tidak mengindikasikan adanya duplikasi perekaman. Selanjutnya KTP elektronik diterbitkan bagi mereka yang telah terbukti tunggal identitasnya. Dalam chip KTP-el tersimpan data penduduk dan biometrics sidik jari (2 sidik jari: kiri dan kanan).

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah memformulasikan spesifikasi teknis Perangkat Pembaca KTP elektronik, yang memanfaatkan data tersimpan dalam chip KTP-el tersebut sebagai basis layanan publik. Spesifikasi teknis tersebut disampaikan sebagai rekomendasi kepada Menteri Dalam Negeri, dan setelah melewati proses pembahasan dan kajian bersama institusi/stakeholder terkait, rekomendasi tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No.34 tahun 2014, tentang Spesifikasi Teknis Perangkat Pembaca Kartu Tanda Penduduk Elektronik. Peraturan Menteri ini selanjutya menjadi acuan bagi kalangan industri untuk memproduksi Perangkat Pembaca KTP-el. BPPT juga turut membantu industri nasional untuk mengembangkan perangkat pembaca KTP-el dengan asistensi teknis. Selain itu, BPPT juga telah menyiapkan fasilitas pengujian perangkat pembaca KTP-el, yang telah dimanfaatkan oleh beberapa industri nasional. Asistensi teknis dan pengujian perangkat pembaca KTP-el juga meliputi teknologi biometrics yang digunakan dalam perangkat pembaca KTP-el. Pemakaian Perangkat Pembaca KTP-el dan KTP elektronik ini mampu menjawab 2 hal : (1) Apakah KTP-elektronik tersebut asli atau palsu (2) Apakah KTP-elektronik itu dibawa oleh orang yang identitasnya tertera pada kartu. Pertanyaan pertama dijawab lewat mekanisme mutual authentication antara Perangkat Pembaca KTP-el dan chip KTP-el, sedangkan pertanyaan kedua dijawab lewat proses verifikasi, pemadanan 1:1 antara sidik jari penduduk yang dipindai oleh Perangkat Pembaca KTP-el dan sidik jari penduduk yang telah tersimpan dalam chip KTP-el. Pemanfaatan Perangkat Pembaca KTP-el dan KTP-el ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan publik, misalnya meniadakan upaya pemalsuan identitas saat seorang nasabah membuat rekening, mengajukan kredit, menghindari adanya pemilih ganda dalam pemilihan umum, menjamin agar subsidi dan bantuan bagi rakyat miskin sampai pada yang berhak, dan menghindari penyalahgunaan identitas.

Kunci penting dalam keberhasilan pemakaian biometrics terletak pada akurasi pemadanan biometrics. Akurasi ini sangat tergantung kepada keunikan karakteristik individu yang terdapat pada data biometrics yang diambil, dan kestabilannya. Pemadanan memakai sidik jari dilakukan dengan memanfaatkan karakteristik individu yang disebut titik minutiae. Titik minutiae adalah titik dimana garis pada jari berhenti atau bercabang. Jumlah titik minutiae pada sebuah sidik jari bervariasi, adakalanya berkisar 50 titik, adakalanya sekitar 100 titik. Koordinat spasial titik minutiae dan orientasi (sudut)-nya direkam dalam chip KTP-el, dan berfungsi sebagai karakteristik yang mewakili identitas penduduk. Pola sidik jari penduduk bersifat random, unique dan relatif stabil. Kembar identik sekalipun akan memiliki sidik jari yang berbeda. Bahkan pada orang yang sama sekalipun, ke-10 sidik jari yang dimiliki memiliki pola yang berbeda satu dengan yang lain. Hal ini merupakan kelebihan keunikan sidik jari dibandingkan dengan biometrics trait yang lain seperti wajah dan DNA.

Selain tergantung pada data biometrics itu sendiri, keberhasilan sistem biometrics juga tergantung pada kinerja aplikasi pemadanan biometrics. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh laboratorium pada Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT (PTIK-BPPT) adalah melakukan pengujian perangkat pembaca KTP-el, untuk memastikan perangkat tersebut memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan dalam Permen 34/2014. Khususnya akurasi pemadanan harus memenuhi standard ketat yang ditetapkan, agar dapat menghindari false match dan false non match dalam pemakaian di lapangan. False match adalah error yang terjadi karena sistem mengenali sidik jari seseorang dengan identitas yang salah. Sedangkan False non match adalah error yang terjadi karena sistem menolak pemadanan sidik jari yang keduanya berasal dari orang yang sama. False match yang tinggi akan menyebabkan orang mudah untuk memalsukan identitas sebagai orang yang lain untuk memperoleh fasilitas layanan publik secara ilegal. Sedangkan False non match yang tinggi akan menyebabkan seseorang selalu tertolak saat otentikasi, sehingga kehilangan kesempatan memperoleh layanan publik yang menjadi haknya.

Dalam kegiatan litbangyasa di PTIK-BPPT, laboratorium Intelligent Computing melakukan kajian dan upaya penguasaan teknologi biometrics: sidik jari, iris, wajah, pembuluh vena pada telapak tangan dalam mendukung kemandirian bangsa. Salah satu hasil litbang yang dicapai adalah prototipe sistem informasi kesehatan dengan memanfaatkan teknologi biometrics sidik jari sebagai basis otentikasi. Aplikasi ini bersifat komplementer terhadap teknologi Perangkat Pembaca KTP-elektronik, yaitu diperuntukkan bagi masyarakat yang belum melakukan perekaman KTP elektronik, misalnya karena usia belum mencapai 17 tahun. Aplikasi tersebut dapat mengenali identitas seseorang lewat informasi biometrics sidik jari. Misalnya seorang penduduk yang belum memiliki KTP-elektronik ingin mendapatkan perawatan medis, cukup memakai sidik jari untuk melakukan proses otentikasi, sehingga identitasnya dapat ditampilkan di layar komputer. Hal ini bermanfaat terutama apabila ada kasus pasien yang pingsan, atau dalam kondisi yang tidak mampu berkomunikasi, selama penduduk tersebut pernah melakukan perekaman biometrics, maka identitasnya dapat diperoleh dengan melakukan pemadanan biometrics sidik jari. Proses pencarian dapat dilakukan lebih cepat, apabila saat melakukan pencarian, ditambahkan beberapa informasi seperti jenis kelamin, nama, maupun identitas yang lain. Seandainya tidak ada data-data tersebut sekalipun, maka sidik jarinya cukup sebagai alat identifikasi. Aplikasi ini direncanakan akan diujicoba dalam populasi berskala besar, dan terus disempurnakan sebagai basis dalam memberikan layanan publik yang prima kepada masyarakat.

Foto-foto:
[Kiri atas] sedang mendemonstrasikan kepada Plt.Kapolri, bagaimana Perangkat Pembaca KTP elektronik (e-KTP reader) membaca identitas beliau dari KTP-el lewat pemadanan sidik jari. Sedangkan untuk penduduk yang belum menerima KTP-el, sebagai komplemen, dapat memanfaatkan aplikasi yang kami kembangkan : identifikasi individu memakai sidik jari (tanpa KTP-el )
[Kanan atas] materi demonstrasi lab. Komputasi Cerdas & lab. Kartu Cerdas
[Kiri bawah & Kanan bawah] leaflet penjelasan kegiatan di laboratorium Komputasi Cerdas

11081160_10206116814058798_5305812911518861568_n  demop1p2

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di catatan kerja. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s