Berkunjung ke Museum Sangiran

Pada hari Minggu, 10 Juli 2016 yang lalu, kami sekeluarga diajak teman lama (keluarga pak Wempi dan keluarga pak Risa) untuk berwisata ke Sangiran. Situs Sangiran terkenal akan peninggalan arkeologi, yang sudah saya pelajari sejak SMP, namun baru kemarin berkunjung ke sana. Sangiran terletak di Kabupaten Sragen, sekitar 15 km di utara kota Solo.

Sampai di Sangiran kami membayar tiket masuk, sebesar Rp 5000. Nilai  yang rasanya terlalu murah dibandingkan biaya untuk perawatan fosil dan artefak yang berada di museum tersebut. Saat itu, pengunjung cukup padat, tapi tidak terlalu lama untuk antre masuk ke dalam museum.

Sangiran awalnya sebuah kubah (dome), yang terbentuk jutaan yang lalu lewat tectonic uplift. Kubah tersebut kemudian mengalami proses erosi sehingga terbentuk depresi. Pada depresi ditemukan lapisan tanah yang menyimpan artefak yang menceritakan jejak kehidupan di masa lampau.

Dua nama peneliti  Belanda yang tak dapat ditinggalkan dari situs tersebut adalah Eugene Dubois dan Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald. Dubois di akhir abad 19 melakukan penelitian di situs Sangiran, tapi karena tidak menemukan fosil yang diinginkan akhirnya pindah ke daerah Trinil. Di daerah Trinil dia berhasil menemukan beberapa fosil yang dinamakan sebagai Pithecanthropus erectus (manusia kera yang berjalan tegak). Eugene Dubois menjelaskan spesies ini sebagai missing-link, rantai yang hilang dalam teori evolusi Charles Darwin, menyambungkan antara kera dan manusia. Pithecanthropus Erectus selanjutnya diklasifikasikan sebagai bagian dari spesies Homo erectus. Spesies ini hidup sekitar 1.9 juta sampai sekitar 70 ribu tahun yang lalu. Dari berbagai penelitian arkeologi, diperkirakan spesies Homo erectus ini berasal dari migrasi Australopithecina yang tinggal di Afrika, kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia sekitar 2.58 juta tahun yll. Penyebaran tersebut diperkirakan ke Indonesia, China, Vietnam dsb. Sekitar tahun 1934 Von Konigswald melakukan penelitian di Sangiran. Salah satu penemuan terpenting Konigswald berupa fragmen rahang bawah (mandibula) yang hidup 1.5 juta-1 juta tahun yang lalu, yang disebut Homo Erectus, disamping penemuan alat-alat serpih di zaman purba.

Di dalam museum cukup banyak fosil-fosil yang ditampilkan. Urut dari yang paling tua adalah Meganthropus Palaeojavanicus (1-2 juta tahun yll), Pithecanthropus erectus, dan yang paling muda adalah Homo soloensis, homo sapiens. Selain rahang manusia purba, dipamerkan juga tengkorak, peralatan rumah tangga, gading gajah purba dan berbagai artefak yang lain.

Dua hal menarik yang ingin saya ketahui adalah : (1) bagaimana umur fosil diukur (2) Bagaimana merekonstruksi tampilan fisik manusia purba dari serpihan rahang, dan berbagai fosil yang ditemukan ?  Untuk hal pertama, dengan sedikit surfing di internet, ternyata tekniknya cukup beragam. Penanggalan mutlak dilakukan memakai  radiocarbon, argon, misalnya. Sedangkan penanggalan relatif dilakukan dengan mengukur usia lapisan tanah untuk memperkirakan usia fosil yang ditemukan pada lapisan tanah tersebut.  Sedangkan untuk pertanyaan kedua, melibatkan banyak pemodelan dan pendekatan yang menarik, tapi saya belum sempat mengeksplorasi lebih jauh. Saya pernah melihat video rekaman acara TV di internet, upaya merekonstruksi wajah penduduk Pompei dari tengkorak yang tertinggal. Tentunya upaya tsb. lebih mudah, karena usianya hanya terpaut sekitar 2 ribu tahun dengan wajah orang saat ini. Rekonstruksi wajah manusia purba tentunya jauh lebih sulit dan lebih menarik.

Ilmu arkeologi, palaentologi berangkat dari kegairahan manusia untuk memahami kisah di masa lampau dari serpihan informasi yang tertinggal. Zaman sekarang, dokumentasi jauh lebih kaya dibanding masa lampau. Digitalisasi informasi sudah berkembang demikian pesat. Proses penyimpanan dan distribusi informasi jadi sangat mudah. Sehingga kita tidak perlu meraba-raba lagi, seperti apa wajah dan suara pelaku sejarah puluhan tahun yang lalu misalnya. Tentunya generasi pada ribuan tahun mendatang, akan lebih mudah memahami kehidupan generasi kita saat ini, dan lebih akurat dibandingkan upaya kita memahami kehidupan nenek moyang ribuan tahun yang lalu.

Sayang di Sangiran kemarin tidak ada pemandu wisata yang menjelaskan peninggalan yang tersimpan, juga saya belum sempat belajar sebagai persiapan. Untuk kunjungan ke tempat bersejarah, museum seperti ini sebaiknya mempersiapkan diri terlebih dahulu agar bisa menikmati cerita  di balik artefak dan fosil yang terlihat.

IMG_4469 IMG_4457IMG_4463 IMG_4465

 

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, research, trip report. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s