Tiketku sayang tiketku malang

Senin sore, 18 Juli 2016, ba’da Asar siap-siap untuk berangkat ke Jakarta. Memeriksa tiket sekali lagi, untuk memastikan jadwal. Berangkat dari Solo : 17 Juli 2016…bentar .. t u j u h b e l a s ??? Saya baru ingat kalau Senin sudah tanggal 18. Astaghfirullah…. Berarti mestinya hari Minggu sore brangkatnya ke Jakarta. Segera saya ke stasiun untuk mencari tiket Go-Show, dengan rasa was-was. Karena minggu ini masih dalam suasana mudik lebaran, sehingga tiket “onobori san” ke Jakarta akan sangat sangat sulit.

Dalam perjalanan mas ojek tanya : “bapak akan ke mana ?”, saya jawab ke Jakarta. “Keretanya pukul berapa pak ?”, saya jawab kalau saya belum punya tiket. “Pak, tiket sekarang mudah lho….bapak bisa koq, pesan lewat internet”. Aduuh …..saya sedang panik, dan males diskusi, males menjelaskan kalau sudah 9 tahun bolak-balik Jakarta Solo, jadi udah ngerti kalau pesan bisa lewat internet. Kali ini gara-gara nggak teliti, tiket hangus. Saya jawab pendek “Lagi ada masalah, mas.” dan mas ojeknya terdiam. Hujan mulai turun rintik-rintik. Mas ojeknya jalan pelan banget motornya. “Mas, bisa jalan lebih cepat lagi nggak ?”. Wis, jan. Cocok buat drama deh. Sedang dirundung malang, kehujanan pula di jalan  (^^;

Sampai di stasiun saya segera antri di penjualan tiket Go-Show. Sampai ujung terdepan, seperti diduga jawabannya “tiket ke Jakarta habis mas. Besok juga habis”. Lemas deh. Saya kontak ke emak altik, minta tolong dicarikan tiket pesawat harga berapa saja, pesawat apa saja, asal bisa kembali ke Jakarta. Sementara itu, saya naik becak ke terminal. Kalau naik taksi, mintanya 30 ribu. Akhirnya naik becak saja, 20 ribu, dan pak becaknya minta tambah, berapa saja. Walaupun tadi jalannya pelaaan. Maklum pak becaknya sudah sepuh, sudah uzur. Saya kasih tambah 10 ribu. Totalnya sama sih dengan taxi, tapi rasanya lebih baik naik becak saja. Kasihan becak yg makin lama makin termarginalkan di Solo.
Sampai terminal, ada kabar dari emak altik, kalau masih ada seat Garuda, dengan harga sekitar 1.2 juta. “Ambil saja deh”. Sampai rumah Alya dan Tika justru senang sekali. “Asyiiik…bapak malam ini di rumah lagi dengan kita” (Sayangku, kalian tidak tahu betapa lemes hati bapak harus bayar 1 juta lebih untuk sebuah kelalaian). Selasa ini terpaksa ambil izin 1 hari. Hikmahnya saya bisa mengantar lagi anak-anak ke sekolah.
Selasa pagi, selesai mengantar Tika dan Alya ke sekolah, sampai di rumah jadi parno. Teringat untuk memastikan benar nggak tiket pesawatnya tanggal s e m b i l a n b e l a s ? Rute-nya dari Solo ke Jakarta, …semoga tidak salah, terbalik rutenya…..amit-amit.

Kesalahan saya adalah pengecekan jadwal keberangkatannya dilakukan pada hari H menjelang berangkat ke stasiun. Padahal saya sudah biasa begitu datang ke Solo, ambil tiket minggu berikutnya, dan masukkan ke tas. Mulai minggu ini, SOP diubah. Jumat begitu sampai Solo :

1. Ambil tiket keberangkatan ke Jakarta dan pulang ke Solo untuk minggu depan
2. Jangan menunda ke hari Senin. Saat itu juga baca keras-keras isi tiket kereta, apakah berangkat minggu, atau senin, sore atau malam. Routenya benar Solo-Jakarta, bukan kebalikannya. Dibaca di depan seisi rumah (emak + alya + tika), agar kalau semua turut mengingatkan di hari H.
Meremehkan hal kecil membuat kita berpeluang mengalami kegagalan yang menyakitkan. Mungkin itu sebabnya di Jepang, petugas di platform stasiun kereta memakai kode tangan untuk memastikan kereta siap untuk dijalankan. Check and recheck sangat penting untuk setiap pekerjaan. Kalau diabaikan, kegagalan itu akan datang pada timing yang seburuk-buruknya.
“Everything that can possibly go wrong will go wrong” (Murphy’s law)

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di apki, keluarga. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s