Menghindari salah kaprah pemahaman teknologi KTP-el

Tulisan ini adalah salinan status facebook Dr. Mohammad Mustafa Sarinanto, perekayasa Pusat Teknologi Elektronika, BPPT, pada tanggal 30 November 2017, 14.50 WIB. Tulisan ini juga telah dimuat di https://www.bppt.go.id/teknologi-informasi-energi-dan-material/3033-bagaimana-memahami-teknologi-agar-tidak-salah-paham
Beberapa tulisan terdahulu mengenai teknologi KTP-el dapat dibaca antara lain dari https://asnugroho.wordpress.com/2013/05/10/membedah-teknologi-e-ktp/

 

Beberapa hari terakhir ini beberapa media mengangkat berita tentang persidangan KTP-el yang menghadirkan saksi ahli dari beberapa teknologi terkait, yaitu tentang chip, penunggalan data, dan material kartu.

Harian Kompas misalnya, pada edisi tanggal 24 November 2017 menuliskan berita dengan judul “Ketunggalan Data Tidak Tercapai – Cip KTP Elektronik Sudah Ketinggalan Zaman” yang mendasarkan informasinya dari persidangan kasus korupsi dengan terdakwa Andi Narogong di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.
http://nasional.kompas.com/read/2017/11/23/14534381/proyek-e-ktp-tahun-2010-gunakan-cip-teknologi-1996
Sementara itu, portal berita dan investigasi Law & Justice juga mengangkat berita serupa dengan judul “Teknologi Jadul di e-KTP” yang juga melaporkan liputan persidangan kasus korupsi KTP-el pada hari Kamis 23 November 2017.
https://law-justice.co/teknologi-jadul-di-e-ktp.html

Dari gaya bercerita yang berbeda, kedua media tersebut mengangkat sudut pandang yang sama, yaitu teknologi yang digunakan oleh chip KTP-el adalah teknologi yang ketinggalan zaman atau jadul (jaman dulu), dari munculnya fakta persidangan bahwa teknologi yang digunakan adalah teknologi tahun 1996, yang di saat pengadaan di tahun 2010 bukanlah merupakan teknologi terkini, meskipun dikatakan oleh saksi ahli bahwa chip yang digunakan tersebut sudah sesuai dengan spesifikasi, dan cost efficient.

Dengan sudut pandang tersebut, judul berita kedua media tersebut terasa bombastis, dan mampu menguras emosi pembaca serta masyarakat umum. Bahkan kalangan penggiat teknologi pun mampu terprovokasi oleh kesimpulan yang ditarik oleh para pewarta tersebut, sehingga tidak sedikit yang menanyakan hal tersebut kepada penulis, untuk memastikan kebenarannya.

Kalau kita teliti mengikuti dan mendengarkan, sejatinya tidak ada kesimpulan yang ditarik oleh para ahli secara langsung pada saat persidangan mengenai apakah teknologi itu ketinggalan zaman atau tidak. Mereka hanya memaparkan mengenai aspek teknologi yang mereeka ketahui, secara jujur dan terbuka.

Pertama kita coba melihat apa saja teknologi yang disoroti dalam persidangan, sehingga mendatangkan saksi ahli untuk menjelaskannya. Kemudian kita lihat apa poin yang menjadi area pemicu keraguan, dan apa yang perlu diketahui sebenarnya.

Tabel 1

24129989_10213081521265711_3283159635837689360_n

Terkait dengan hal-hal di atas, di bawah ini akan dijelaskan beberapa hal, khususnya yang terkait dengan cip KTP-el, untuk meluruskan persepsi masyarakat mengenai teknologi yang digunakan.

1. Apakah chip yg dipakai di proyek e ktp memang sdh ketinggalan zaman ?

Jawab :
Tampaknya ada kesalahpahaman dari pihak-pihak yang tidak paham tentang teknologi dalam memahami salah satu pernyataan pakar cip dalam persidangan kasus korupsi KTP-el.

  • Perlu difahami terlebih dahulu, bahwa ada beberapa teknologi yang terkait dengan cip KTP-el. Yaitu teknologi fabrikasi semikonduktor, dan teknologi kartu pintar nirkontak (contactless smart card) untuk kartu identitas elektronik (electronic ID : e-ID). Perbedaan (definisi) antara kedua teknologi tersebut adalah sebagai berikut. Teknologi fabrikasi semikonduktor tidak memandang tujuan penerapan melainkan bagaimana secara fisik benda chip itu dibuat. Dan ini terkait dengan peningkatan jumlah transistor atau komponen rangkaian elektronik lainnya dalam sebuah chip. Lebih lanjutnya, ada yang dinamakan Hukum Moore yang menceritakan tren peningkatan kepadatan gate semikonduktor dua kali lipat setiap 18 bulan. (pengetahuan sangat teknis tentang semikonduktor). Sedangkan teknologi contactless smart card mengacu kepada fitur yang membuat sebuah chip merupakan chip komputer, atau chip HP ataukah chip smart card, yang mana chip smart card tidak serumit chip komputer.
  • Yang mungkin dimaksudkan sebagai teknologi tahun 1996 (yang kemudian dikonotasikan oleh pewarta sebagai teknologi yang ketinggalan zaman), ternyata menurut saksi ahlinya adalah teknologi fabrikasi-nya. Sedangkan teknologi contactless smartcard mengacu paa standar ISO 14443 yang keluar tahun 2000-an, dan sampai sekarang tetap digunakan sampai dengan edisi terbaru tahun 2016. Masalah detil teknologi atau teknik fabrikasi ini sendiri sama sekali tidak dibicarakan dalam spesifikasi teknis pengadaan KTP-el, maupun di dalam standar yang diacu saat menyusun spesifikasi teknis tersebut. Dan ini merupakan aspek teknologi yang sangat teknis yang selazimnya hanya dimengerti oleh mereka yang berkecimpung di dunia semikonduktor. Sehingga memunculkan terminologi dan penjelasan mengenai hal ini dalam pembahasan cip KTP-el mudah menimbulkan salah persepsi dan penangkapan yang keliru terhadap teknologi yang dimaksud.
  • KTP-el didisain dengan spesifikasi mengacu ke standar yang keluarnya di awal tahun 2000-an dan mengacu pada perkembangan teknologi terkini. Teknologi yang misalnya belum terlalu siap digunakan saat Malaysia membuat e-ID mereka yaitu MyKad. Sehingga pelaku teknologi mereka malah berkata bahwa apabila saat itu (Malaysia memulai membuat MyKad di awal 2000-an) teknologi contactless smart card sudah matang, maka mereka juga akan menggunakan yg serupa dengan Indonesia, yaitu berbasis kartu pintar nirkontak (contactless smart card).
  • Yang perlu dipahami juga, tidak ada korelasi langsung antara tahun generasi teknik fabrikasi dengan apakah teknologi itu baru atau tidak, karena yang dicari dari sebuah chip KTP-el adalah fitur atau fungsi apa yang memenuhi kebutuhan untuk menjadi sebuah kartu pintar, yang tidak kurang fungsinya dan juga tidak berlebihan fiturnya. Dan sudah disebutkan bahwa teknologi yang dipilih adalah yang cost efficient. Sehingga menjadi missleading kalau kemudian ditarik kesimpulan bahwa teknologi fabrikasi tahun 1996 sebagai teknologi yang ketinggalan zaman, yang bahkan semestinya kata-kata “ketinggalan zaman” itu pun tidak disebutkan oleh saksi ahli tersebut.
  • Sebagai analogi, bila sebuah cip diibaratkan sebagai sebuah kota cerdas (smart city), maka teknik pembuatan jalan dan bangunan diibaratkan sebagai teknik fabrikasi. Sebuah kota cerdas yang dilengkapi dengan berbagai fitur modern dan kelengkapan yang canggih tidak semestinya dapat dianggap usang atau ketinggalan zaman, hanya karena teknik pembuatan jalan atau teknis pengacian gedungnya menggunakan teknik yang sama seperti puluhan atau ratusan tahun yang lalu. Dan cara memandang sebuah aspek teknologi tidak dapat dilakukan dengan menarik kesimpulan sederhana antar komponen teknologi, hanya karena ingin mencocokkan kesimpulan dengan hipotesa awal.

2.Apakah ketunggalan data tidak tercapai ?

Jawab :
Penjelasan mengenai ketunggalan data ini dikupas secara khusus oleh Dr. Anto Satriyo Nugroho dari BPPT sebagai berikut.
https://www.bppt.go.id/teknologi-informasi-energi-dan-material/3028-ktp-elektronik-ktp-el-dtinjau-dari-aspek-teknologi

Sedikit menambahkan, saat ini sistem penunggalan data sebagai bagian dari program KTP-el telah dirancang secara berhati-hati untuk mendapatkan ketunggalan data yang sahih. Dalam pelaksanaannya, sistem yang sudah dirancang dengan prosedur baku untuk menjamin keberhasilan menyeluruh tersebut, juga bergantung kepada bagaimana SDM di lapangan menjalankannya dengan baik sesuai prosedur baku atau tidak. Sehingga bisa saja timbul permasalahan yang disebabkan oleh tidak dijalankannya prosedur baku tersebut, misalnya validasi 1:1 saat pengambilan KTP-el oleh penduduk yang mengakibatkan tidak tercatatnya kondisi KTP-el saat kartu tersebut diterima, apakah berfungsi baik atau tidak dan apakah memang sesuai dengan orang yang berhak menerima atau tidak. Tapi hal ini lebih ke masalah operasional dan SDM, dan bukan merupakan masalah teknis atau teknologi KTP-el.

3. Apa masalah kalau material plastik yang sama dengan galon air minum dan air kemasan ?

Jawab :
Terkait material kartu, berdasarkan buku Smart Card Handbook itu umumnya digunakan PVC, PET/G, atau PC (urutan dari murah ke mahal). Jadi kalau saksi ahli sudah mendapatkan hasil pengujian bahwa material yang digunakan adalah PET, maka itu sesuai dengan spesifikasi teknis yang lazim diacu oleh kartu pintar, dan sesuai dengan persyaratan teknis pada saat pengadaan KTP-el. Bukan material yang paling murah yaitu PVC. Karenanya tidak ada masalah apapun terkait material kartu, apalagi pada saat dimulainya program KTP-el ini masa berlaku KTP masih dibatasi selama 5 tahun saja. Jadi kalaupun ada anggapan bahwaw material yang digunakan tidak tahan lama, justru tampaknya sudah sesuai dengan kebutuhan pada saat itu. Kalau kemudian ternyata masa berlaku KTP-el diubah dengan amandmen UU menjadi seumur hidup, maka itu diluar kemampuan untuk memprediksinya.

Penggunaan analogi menyamakan material plastik KTP-el dengan material lain seperti galon air atau air kemasan juga mudah mengundang missleading bagi yang mendengar atau membacanya. Tidak jelas mengapa saksi ahli sampai mengutarakan contoh seperti itu, karena kalau sebuah cip semikonduktor mau dianalogikan materialnya, maka nanti akan muncul persepsi bahwa cip prosesor server yang digunakan oleh data center Amazon yang notabene pemiliknya adalah orang terkaya sedunia ternyata terbuat dari material yang sama seperti gelas di warteg, dan panci di dapur kita 😀.

Sebetulnya kalau kita perhatikan lebih lanjut, berbagai salah paham ini bermula (atau bisa juga berakhir ?) pada anggapan yang mengarah pada kesan bahwa teknologi KTP-el itu : murahan, ketinggalan zaman, dan berkualitas buruk. Sesuatu yang sama sekali tidak kuat relevansinya dari kenyataan yang sesungguhnya. Bahkan dari keterangan saksi ahli di persidangan pun sebetulnya sebagian besar tidak menyatakan secara langsung tentang baik buruknya, maupun baru atau lamanya teknologi yang digunakan.
Bahkan tinjauan harga yang diminta ditampilkan oleh saksi ahli pun sebetulnya merupakan sebuah hal yang aneh dan tidak sewajarnya dikeluarkan oleh saksi ahli. Karena, saya sebagai orang BPPT pun sering diingatkan oleh internal BPPT untuk tidak masuk (berbicara) di domain yang bukan urusan kita, yaitu teknologi. Harga itu jelas-jelas dianggap bukan termasuk yang layak dikomentari oleh para penggiat teknologi, karena memang bukan kompetensi kami. Makanya begitu para saksi ahli diminta memberikan harga bahan terkait, itu menjadi sebuah anomali, karena seyogyanya yang mampu memberikan harga adalah perusahaan penyedia dan vendor, bukanlah saksi ahli teknologi. Sehingga tentu saja kesahihan informasi mereka tidak dapat menjadi pegangan, bukan merupakan bukti dukung sama sekali. Apalagi untuk digunakan sebagai acuan untuk menghitung kerugian negara. Ini sebuah logika yang keliru, sekaligus menyusahkan para penggiat teknologi yang sudah membantu jalannya persidangan dengan melakukan hal diluar kompetensi dan tanggungjawab mereka.

MMS – 30112017

NB:
Berikut adalah link video saat saya meluruskan berita yang salah kaprah tersebut.
Sapa Indonesia Malam, Senin 27 November 2017

Segmen 1
E-KTP Dikorupsi, Rekam Data Tunggal Penduduk Gagal?
https://www.kompas.tv/content/article/16574/video/sapa-indonesia/e-ktp-dikorupsi-rekam-data-tunggal-penduduk-gagal
Segmen 2
Akibat Korupsi, E-KTP Hanya Sebatas KTP Plastik?
https://www.kompas.tv/content/article/16575/video/sapa-indonesia/akibat-korupsi-e-ktp-hanya-sebatas-ktp-plastik

Segmen 3
Obudsman: Pemerintah Wajib Penuhi Kebutuhan E-KTP Warga
https://www.kompas.tv/content/article/16576/video/sapa-indonesia/obudsman-pemerintah-wajib-penuhi-kebutuhan-e-ktp-warga

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s