Memahami h-index

“h-index” adalah salah satu metrik yang sering dipakai untuk mengukur kualitas seorang peneliti. Metode ini  diusulkan oleh Jorge E. Hirsch, seorang ahli fisika di Universitas California San Diego untuk mengukur kualitas peneliti. Huruf “h” pada “h-index” berasal dari nama Hirsch. Lazimnya seorang peneliti mengklaim produktifitas dan kontribusinya dalam hal publikasi lewat 2 hal : banyaknya tulisan yang dihasilkan, dan berapa banyak tulisan itu dijadikan acuan/referensi oleh peneliti lain. Semakin banyak tulisan seseorang, berarti dia semakin tinggi produktifitasnya. Semakin banyak tulisan seseorang dirujuk oleh peneliti lain, berarti semakin besar impact/pengaruh penelitian tersebut bagi peneliti lain. H-index menggabungkan kedua informasi tersebut dalam 1 angka, yang menunjukkan jumlah publikasi seseorang, dimana frekuensi sitasinya sama atau lebih dari angka tersebut. Berikut adalah 3 contoh kasus.

  1. Misalnya, seorang peneliti/perekayasa memiliki 5 paper, yang dijadikan rujukan (citation) oleh peneliti lain sebagai berikut:
    paper I : disitasi 50 kali
    paper II : disitasi 5 kali
    paper III : disitasi 3 kali
    paper IV : disitasi 2 kali
    paper V: tidak pernah disitasi peneliti lain.
    Dengan demikian, peneliti tersebut memiliki 3 paper yang dijadikan sitasi peneliti lain, setidaknya 3x. Yaitu paper I, II dan III. Maka h-indeks peneliti tersebut : 3.
  2. Contoh kedua : seorang peneliti memiliki tulisan 100 paper, tapi tidak ada satupun yang dijadikan acuan peneliti yang lain. h-index nya berarti 0.
  3. Peneliti terkenal seperti Anil K. Jain (bidang biometrics, pattern recognition), h-indeksnya 115 dari total 619 paper. Berarti, dari 619 paper beliau, ada 115 paper yang memiliki frekuensi sitasi (dijadikan rujukan peneliti lain) sebanyak minimal 115 kali.

Untuk mengetahui h-index seseorang, bisa lewat https://www.scopus.com/ untuk paper yang terindeks scopus, atau https://scholar.google.com/citations untuk yang diindeks di google scholar. Ristek Dikti memakai h-index untuk pengajuan research grant. Peneliti diperbolehkan menjadi ketua di dua skema penelitian apabila sudah memiliki h-index google scholar minimal 2. Jika kurang dari 2, hanya diperbolehkan menjadi ketua satu skema penelitian saja. Walaupun demikian, h-index memiliki beberapa kelemahan. Misalnya rentan terhadap self-citation (penulis memasukkan papernya sendiri ke salah satu referensi, dengan tujuan mendongkrak frekuensi sitasi terhadap tulisan lamanya). Untuk memahami lebih lanjut, dapat mengacu ke tulisan antara lain : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2613214/

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s