Mengikuti ICPR 2018 di Beijing

International Conference on Pattern Recognition (ICPR 2018) adalah salah satu top conference di bidang Pattern Recognition, yang diselenggarakan tiap 2 tahun sekali. Tahun ini diselenggarakan di Beijing, sedangkan 2020 akan diselenggarakan di Milano Italy, 2022 di Montreal Canada. Pada penyelenggaraan tahun ini, ada hal yang spesial bagi Indonesia. Yaitu keputusan Governing Board untuk menerima Indonesia yang diwakili oleh Indonesian Association for Pattern Recognition (INAPR) sebagai anggota resmi International Association of Pattern Recognition (IAPR). Satu hal yang sangat saya syukuri, karena saya mendapat izin  dan pendanaan untuk hadir di Beijing 20-24 Agustus 2018. Yaitu dengan dana Pusat Unggulan Iptek (PUI), dari Kemenristekdikti.

Saya tulis beberapa pengalaman saya selama konferensi tersebut, tentunya dengan bahasa informal 🙂

PS: secara bertahap tulisan ini akan dilengkapi dengan catatan yang saya buat selama konferensi berlangsung

1. Berangkat ke Beijing ( Sunday, August 19, 2018 )

Pagi ini saya berangkat ke Beijing dengan pesawat Sriwijaya Air SJ-211 pk.07.00 dari bandara Adi Soemarmo menuju Jakarta. Selanjutnya berganti pesawat Singapore Airlines dengan jadwal sbb.
SQ-961 Jakarta-Singapore 17:00-19:50
SQ-800 Singapore-Beijing 01:10-07:15

Tetapi di Jakarta, pesawat saya dipindahkan ke yang lebih cepat agar bisa lebih leluasa di Singapore-nya. Saya beralih dari SQ-961 menjadi SQ-959 yang berangkat pk. 14.10.

Screen Shot 2018-08-25 at 17.20.59

Bismillah, semoga saja misi kali ini berhasil : INAPR diterima sebagai anggota IAPR. Jadwal selengkapnya adalah sebagai berikut:

Image 25-08-18 at 17.02.jpg

2. Suasana Konferensi 

39625185_10156529125089477_7699356093629071360_n

 

3. Berfoto di depan gedung penyelenggaraan INAPR ( Tuesday, August 21, 2018)

39786324_10156532357544477_8428288008846835712_n

Foto dibuat pada hari Rabu, 22 Agustus 2018

4. Indonesia diterima di IAPR !  ( 06.16 pm, Wednesday, August 22, 2018)

39913641_10156532246509477_7585528091506638848_n

Rekan-rekan yth.
Mohon izin untuk berbagi berita bahagia. Baru saja saya mendapat kabar dari Prof. Jean Marc Ogier (salah satu Governing Board dari “IAPR”, International Association of Pattern Recognition http://iapr.org ). Beliau mengabarkan bahwa aplikasi Indonesia untuk bergabung di IAPR yang diwakili oleh Indonesian Association for Pattern Recognition (INAPR) alhamdulillah baru saja diputuskan diterima, di rapat Governing Board. Rapat berlangsung di tengah-tengah penyelenggaraan International Conference on Pattern Recognition (ICPR) di Beijing. Keanggotaan di IAPR berdasarkan perwakilan negara, dan Indonesia diwakili oleh INAPR. INAPR dibentuk 2017 yll dengan saya sebagai ketua, dan sampai saat ini anggotanya terus bertambah sekitar 300 orang. Kebetulan saya juga hadir di konferensi ini sejak Senin yll. sampai Jumat yad.  Aplikasi kita dibantu oleh Prof. Jean Marc Ogier, Prof. Luc Brun, dan Prof. Nicolas Gascoin dari Kedutaan Besar Perancis. Terima kasih kepada Kemenristekdikti dan BPPT yang telah mendukung, mengizinkan dan membiayai saya mewakili INAPR untuk hadir di konferensi ini. Semoga dapat bermanfaat bagi rekan-rekan di Indonesia.

5. Foto Bersama (August 23, 2018)

39891775_10156533865724477_998952549157437440_nBerfoto bersama profesor2 Perancis / pejabat IAPR yang selama ini mendukung pendaftaran Indonesia ke IAPR.  Left to right : Prof. Jean Marc Ogier, Prof. Antoine Docet, me, Prof.Luc Brun and Prof.Jean Christophe Burie

Mereka menyampaikan keterkejutannya, mengapa anggota dari INAPR bisa 300an ? Padahal negara yg lain cuma 30-60 an. Hehehe 🙂

6. Menuju ke Bandara untuk kembali ke tanah air

Berangkat dari Olympic Green, naik jalur hijau (Line 8), turun di stasiun kedua (Beitucheng). Kemudian ganti jalur biru muda (Line 10), menyusuri stasiun Anzhenmen, dan berhenti di stasiun ke-5 : Sanyuanqiao. Dari stasiun tersebut naik Airport Express menuju terminal 3.

petapulang

7. Mencari tempat sholat di bandara Beijing (August 24, 2018)

Beijing Airport, Terminal 3.
Saya mencari tempat sholat multiple religion yang menurut internet berada di lantai 1. Setelah muter2 nggak ketemu, akhirnya mendekati mas polisi, dan memperlihatkan hasil translasi google. Dia senyum dan menjawab dg isyarat kalau ruang sholat itu tidak ada di lantai 1. Tapi kemudian saya dibawa ke “ruang sholat” yang lain, yaitu Nursery Room. Alhamdulillah….sholat saya ditemani gambar gajah2 lucu dan berwarna-warni.

Screen Shot 2018-08-25 at 16.43.21

8. Perjalanan pulang (August 24, 2018)

senja

Foto : Senja di Beijing capital International Airport 20180824

Jadwal:
KA903 Beijing-Hongkong : 19:40 – 23:15
CX753 Hongkong-Jakarta : 00:20 – 03:55

Demikian jadwal penerbangan semalam yang sebenarnya paling tidak cocok skenario-nya bagi saya. Dari Beijing ke Hongkong, ganti pesawat, lanjut dari Hongkong ke Jakarta. Masalahnya, selisih di Hongkong cuma 1 jam. Di bandara Beijing saya tanya ke petugasnya,
“Mas, apakah selisih 1 jam cukup ?”
“Oh, asal punya waktu 15 menit sudah cukup koq mas”, jawabnya. Baiklah, walaupun saya masih belum puas.

Ternyata benar dugaan saya. Sampai Hongkong, perlu waktu lama untuk turun dari pesawat. Karena yang didahulukan turun adalah kelas bisnis dulu, sedangkan saya yang di kelas ekonomi belakangan turunnya. Begitu turun pesawat, ternyata kami masih harus naik bis. Baiklah, sambil deg-degan saya naik bis. Sampai di bandara, saya segera buru-buru lari mencari E2, karena pesawat Cathay Pacific Jakarta berangkat dari gate 70, dan untuk ke terminal tersebut harus masuk dari E2. Begitu sampai di sana, aduuh…ternyata antrian pemeriksaan barang kabin memakai X-ray. Saya sudah antrian ke 30-an kira-kira. Waktu yang tersisa untuk naik pesawat tinggal sedikit. Sempat jengkel juga, kenapa yang dibuka untuk pemeriksaan X-ray cuma 2 tempat. Tapi ya sudahlah, peraturannya seperti itu mungkin. Akhirnya tibalah giliran saya. Laptop, iPad sudah di luar. Lepas sabuk, dsb. Selesai pemeriksaan tersebut, saya lari lagi naik ke atas. Saya fikir gate 70 di atas. Ternyata bukan gate 70 melainkan kereta yang membawa kami ke terminal yg berisi gate …entah sampai 800 an sepertinya. Singkat cerita saya akhirnya masuk ke pesawat Cathay Pacific sekitar 10 menit sebelum pesawat dijadwalkan berangkat, dengan ngos-ngosan, keringetan dan badan sangat bau tentunya. Semua penumpang sudah duduk di dalam, dan petugasnya jaga-jaga di depan menunggu beberapa penumpang yang join seperti saya. Untung juga saya cuma bawa ransel 1 dan tas kecil 1, sehingga semua masuk cabin. Saya tidak perlu mengurus bagasi. Pesawat ternyata diterbangkan agak terlambat, karena yang seperti saya ada beberapa orang. Sebelah saya pun kosong. Mungkin kasusnya sama seperti saya, harus join dengan waktu yg sangat terbatas, dan tidak bisa mengejar selisih waktu tersebut. Pesawat saya pun take off. Tak berapa lama, sebelah saya..mbak yang…ah sudahlah…tanya ke saya “Sebelahnya kosong ya mas ? Boleh saya duduk sebelah anda ? Soalnya mbak yang di belakang mau pindah ke sini”. Ya saya persilakan saja, walaupun sebenarnya agak nggak enak. Badan saya pasti bau keringat, karena lari-lari tengah malam demikian jauh.

Sampai di Jakarta, kemudian saya pindah ke terminal 3 dan dapat gate 28. Gate yang pojok. Tapi kali ini nyaman. Karena saya punya waktu 4 jam untuk sholat Subuh, untuk gosok gigi, ganti baju, sarapan dan jalan-jalan di terminal 3. Sengaja saya hanya jalan kaki, tidak naik mobil -apa namanya itu ya- untuk ke gate 28. Menikmati indahnya terminal 3 sambil membayangkan perjalanan semalam. Pelajaran yg saya ambil: jangan lagi ambil perjalanan seperti tadi malam, selisih cuma 1 jam untuk pindah pesawat. Setidaknya kalau bagi saya, waktu transit 3 jam lah. Lebih baik menunggu daripada ditunggu.

 

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research, trip report. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s