Ritual

Ini catatan lima tahun yang lalu (2015).

Beberapa waktu yll. Tika diberi soal oleh Ibu, untuk menterjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Jawa krama (Jawa halus). Tika mengeluh karena merasa sulit. Sehari-hari memang di rumah kami memakai bahasa Indonesia dan campur bahasa Jawa ngoko. Terfikir untuk memaksakan bahasa Jawa setidaknya sehari dalam seminggu dengan anak-anak. Kebayang nantinya kalau saya pulang, akan disambut Tika & Alya “sugeng rawuh romo”, “Dhaharan siang sampun siap. Monggo dhahar romo”, dan saya sering ngomong “Yo Nduk, pangestuku tampanana”. Dan kalau saya pulang ke rumah, membuka pintu, anak-anak duduk di lantai timpuh. ….wkwkwkwkwk. Membayangkan suasana rumah mirip panggung ketoprak, jadi aneh. Kesan saya, dengan memakai bahasa Jawa halus, hubungan orang tua-anak menjadi “formal” dan penuh unggah-ungguh, etika sopan santun. Padahal selama ini saya dengan anak-anak sering menempatkan diri sebagai teman, misalnya teman menari, main kejar-kejaran, petak umpet, dsb. Saya jadi berfikir, apakah jaman dulu, dalam hubungan keluarga di masyarakat Jawa, antara ayah dan anak jarang bercanda ? Karena, saya pernah ngobrol dengan seorang pejabat di kementrian yang sudah sepuh (tua), bahwa kalau beliau pulang ke rumah, anak-anaknya sudah terbiasa duduk di lantai bercakap-cakap dengan ayahnya yang duduk di kursi. Budaya Jawa jaman dulu mungkin seperti itu. Nilai-nilai itu bisa saja berbeda. Lain budaya, lain tata cara, dalam satu budaya yang sama sekalipun, lain generasi, mungkin akan lain pula tata caranya. Namun demikian, setidaknya untuk anak-anak saya, masih saya ajarkan sopan santun yang dulu pernah saya terima dari orang tua : kalau anak-anak mau makan duluan, harap piring ayah dan ibu diisi nasi barang sedikit, bilang “Pak, Bu…saya makan dulu yaa..”, baru mereka makan. Jangan sampai seolah-olah anak-anak makan duluan, dan sisanya untuk orang tua. Tuanglah ke piring walau barang dua tiga sendok nasi. Selain itu, kalau diantar ke sekolah, ritualnya cium tangan, cium pipi kiri, pipi kanan, dan melambaikan tangan. Itu dengan anak-anak. Kalau dengan emaknya beda sih….khusus deh.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di edukasi anak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s