Selaput Pelangi (Iris)

Teknologi pengenalan selaput pelangi (iris) dikembangkan oleh John Daugman yang dipatenkan pada tahun 1991 dan telah dimanfaatkan sebagai salah satu modality biometrik untuk proses deduplikasi penduduk dalam skala besar. Misalnya proses deduplikasi pada program kependudukan di India yang disebut program Aadhaar dan Indonesia dalam program KTP-elektronik. Selaput pelangi (iris) terletak pada bagian mata, berbentuk gelang (mirip “donat”) yang melingkari pupil, terletak di antara pupil (bagian yang hitam dan di tengah mata) dan sclera (bagian mata berwarna putih). Selaput pelangi (iris) berfungsi sebagai diafragma, mengatur intensitas cahaya yang masuk ke mata.

Teknologi pengenalan selaput pelangi (iris) dimanfaatkan sebagai salah satu modality biometrik, di samping sidik jari dan wajah, untuk proses deduplikasi penduduk dalam program KTP elektronik. Dalam proses deduplikasi, data biometrik penduduk yang direkam di kecamatan terdiri dari 10 sidik jari, 2 selaput pelangi dan wajah, akan dibandingkan dengan seluruh data yang terekam di data center Dukcapil Kemendagri. Apabila tidak ada data yang serupa, berarti penduduk tersebut dikatakan “tunggal” (belum pernah merekam KTP-el) dan diterbitkan KTP elektronik.

Kelebihan selaput pelangi antara lain : distinctiveness (kemampuan membedakan individu yang diukur lewat discrimination entropy) [1], permanen (polanya relatif stabil) [2][3], dan dapat berfungsi sebagai komplementer dalam proses deduplikasi. Misalnya seseorang yang kualitas sidik jarinya tidak baik (lazim disebut Goat class dalam Doddington Zoo [4] ), proses deduplikasinya dapat dibantu lewat selaput pelangi, dan sebaliknya.

Pemanfaatan selaput pelangi antara lain untuk deduplikasi penduduk, dalam skala besar antara lain Aadhaar di India, dan KTP elektronik di Indonesia. Hingga saat ini teknologi biometrik di mana selaput pelangi diimplementasikan sebagai salah satu modality, telah dimanfaatkan untuk merekam 192.468.599 penduduk hinggal Juni 2020. Penduduk yang wajib memiliki KTP elektronik 194.332.413 orang, sehingga sekitar 99% telah melakukan perekaman [5]-[7]. Selain untuk deduplikasi penduduk, selaput pelangi (iris) juga telah dimanfaatkan dalam smart unlock pada telpon seluler, Iris on the Move (IOM) yang memungkinkan pengenalan seseorang yang sedang berjalan pada jarak 3 meter, dan berbagai aplikasi otentikasi yang lain.

Di antara berbagai aplikasi tersebut, diperlukan standar transmisi, pertukaran data, dan pemakaian data oleh vendor yang berbeda. Diharapkan standar yang akan disiapkan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, industri maupun pihak yang lain dalam proses pertukaran data biometrik selaput pelangi.

Referensi
[1] How recognition works, John Daugman, IEEE Transactions on Circuits and Systems for Video Technology, Volume: 14, Issue: 1, Jan. 2004 (https://www.cl.cam.ac.uk/~jgd1000/csvt.pdf)
[2] IREX VI Temporal Stability of Iris Recognition Accuracy NIST Interagency Report 7948 https://nvlpubs.nist.gov/nistpubs/ir/2013/NIST.IR.7948.pdf
[3] Iris Exchange (IREX) 10: Ongoing Evaluation of Iris Recognition
URL: https://www.nist.gov/programs-projects/iris-exchange-irex-10-ongoing-evaluation-iris-recognition
[4] Sheep, Goats, Lambs and Wolves: A Statistical Analysis of Speaker Performance in the NIST 1998 Speaker Recognition Evaluation, G. Doddington, W. Liggett, A. Martin, M. Przybocki and D. Reynolds, Proc. of International Conference on Spoken Language Processing (ICSLP), vol. 4, 1998, pp. 1351-1354.
[5] https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/07/02/99-penduduk-telah-melakukan-perekaman-ktp-elektronik
[6] https://nasional.kompas.com/read/2020/09/01/18033101/dirjen-dukcapil-masyarakat-yang-sudah-rekam-data-e-ktp-tak-boleh-diberi
[7] https://nasional.kompas.com/read/2020/08/12/15261351/data-kependudukan-2020-penduduk-indonesia-268583016-jiwa

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s