Suka duka kuliah di Jepang

Kuliah di luar negeri yang memakai bahasa asing merupakan tantangan yang menarik. Apalagi yang asing bukan hanya bahasanya, melainkan juga aksaranya, budayanya dan berbagai hal yang lain. Kuliah ke Jepang, mungkin tidak pernah terbayangkan bagi saya waktu SMA dulu. Hingga akhirnya mendengar kalau Pak Habibie selalu membuka peluang bagi anak-anak SMA berprestasi untuk disekolahkan ke luar negeri. Bagi saya, itu kesempatan yang menarik. Informasi mengenai hal tersebut kurang kami ketahui, karena Solo merupakan kota kecil dibandingkan Bandung, Surabaya, apalagi Jakarta. Ketika itu, tahun 1989, ada kesempatan untuk mendapatkan penjelasan dari BATAN di SMA 3. Saya tidak ingat, apakah di SMA 3 nya yang di Warung Miri atau di Kerkoff. Saya dan beberapa teman yang tertarik, kemudian ke SMA 3. Bagi saya itu pertama kali ke SMA 3 Surakarta. Di SMA 3 kami mendapatkan penjelasan, seperti apa program Pak Habibie yang disebut Science and Technology Man Power Development Program. Kami mendapatkan juga penjelasan, kalau bekerja di BATAN itu bagaimana, apa saja tantangannya. Bagi anak SMA, penjelasan ttg tenaga atom, nuklir dan hal-hal lain tentu saja menarik. Tapi karena minat saya bukan ke arah fisika/kimia, saya memilih lembaga lain, dari sekitar 6 pilihan lembaga, yaitu BPPT.

Selanjutnya kami mengikuti seleksi 6 (atau 7 tahap ya) dg sistem gugur. Hingga akhirnya tiba di sesi wawancara : “Anda ingin sekolah di negara mana ?”. Saya jawab mantab : “Jerman”, karena mengidolakan Pak Habibie. Saya ditanya lagi : “Tahun ini tidak ada ke Jerman. Tapi ke AS, Jepang, Kanada, Australia. Anda pilih mana ?” Saya jawab “Jepang”, karena bagi saya Jepang adalah negara menarik. Asalnya kalah perang, tapi teknologinya cepat maju, dan sejajar dengan Amerika maupun negara maju yang lain.

Singkat cerita, akhirnya saya kuliah di Jepang juga. Di Nagoya Institute of Technology. Saya gagal lulus level 1 bahasa Jepang (level 1 itu level paling sulit sebagai syarat untuk kuliah di Jepang, minimal menguasai baca/tulis 2000 huruf Kanji). Yang lulus level 1 hanya beberapa saja di antara kami, walaupun sudah mengikuti kursus 1 tahun di Tokyo. Tentu saja kuliah saya, serba kesulitan dan tidak faham maupun tidak bisa membaca tulisan sensei. Jangan dibayangkan ada internet, translasi google, dan berbagai fasilitas elektronik yang lain, karena masih tahun 1991 😃 Yang bisa saya lakukan adalah meniru coretan sensei di kelas, tanya ke teman sebelah “itu bacanya bagaimana”, dan mencari artinya di kamus, kata demi kata.

Saya ceritakan ke Alya dan Tika, pengalaman kuliah bapak. Suatu hari, bapak dinasehati senpai (kakak kelas) agar maju menghadap sensei. “Ceritakan bahwa kamu masih belajar bahasa Jepang. Mohon keringanan beliau, agar diberikan tugas pengganti agar tetap lulus”. Akhirnya saya beranikan menghadap ke sensei untuk minta keringanan.

Dua sensei saya temui : bahasa Inggris dan biologi. Bahasa Inggris-nya mengajarkan kami menterjemahkan buku lama, tulisan Charles Dickens di abad 19. Siswa harus membaca satu kalimat demi kalimat bahasa Inggris, dan menterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Saya sampaikan ke beliau “Pak, mohon maaf. Saya mahasiswa asing yang masih belajar bahasa Jepang. Sehingga saya kesulitan waktu mengikuti kuliah yg bapak sampaikan. Apakah bisa diberikan tugas pengganti, agar saya tetap bisa mengikuti kuliah bhs Inggris ?” Sebenarnya sih, yang sulit bukan bahasa Jepangnya saja, tapi juga bahasa Inggrisnya 😅 Beliau menjawab “Tidak mengapa. Kamu ikuti saja sebisanya. Berusaha sebaik-baiknya, ya”. Kata beliau ramah tapi tegas. Saya menggerutu di dalam hati “Mas Farid, nih. Kasih saran untuk menghadap sensei, tapi gagal dan ditolak”.

Sensei kedua yang saya temui adalah dosen biologi. Saya kesulitan, terutama huruf Kanji untuk istilah biologi sangat sulit, dan tidak lazim dipakai dalam keseharian. Sehingga saya kesulitan memahami huruf yang dipakai, maupun cara bacanya. Yang saya ingat betul, sensei banyak bercerita tentang ikan ayu (Plecoglossus altivelis) atau ubur-ubur. Saya beli tape kecil dan mencoba merekam kuliah beliau, untuk saya dengarkan di rumah. Karena merekam itu tidak lazim, tentu saja saya malu menaruh tape di atas meja. Saya taruh di laci. Setelah sampai di rumah, saya dengarkan lagi dan …..tertawa. Karena suara sensei tidak terdengar dengan jelas sama sekali. Tape berada di dalam laci, sehingga tidak menangkap apa yang disampaikan sensei. Gagal deh. Akhirnya saya menghadap ke sensei “Pak. Saya mahasiswa asing yang masih belajar bahasa Jepang. Sehingga saya kesulitan waktu mengikuti kuliah bapak. Apakah bisa diberikan tugas pengganti, agar saya tetap bisa mengikuti kuliah Bapak ?” Sensei melihat saya sebentar, kemudian dengan ramah memberi saran “Begini Nak. Saya berikan kamu tugas deh. Coba cari informasi tentang jantung (kalau tidak salah) berbagai jenis hewan vertebrata/invertebrata. Kamu rangkum dan susun laporan ke saya ya”. Alhamdulillaaah…wah saya lega. Akhirnya usaha saya ada yang berhasil. Saya kemudian ke perpustakaan Tsurumai, mencari buku yang memuat informasi tentang jantung, kemudian mulai membuat rangkuman struktur dan fungsi jantung, satu per satu. Akhirnya saya susun laporan (tentu saja dalam bhs Jepang) tersebut ke sensei. Saya lega, satu mata kuliah akhirnya terbantu. Tiba saat ujian, saya menghadap lagi ke sensei. “Pak, saya kan sudah menyusun laporan yang ditugaskan. Apakah saya masih tetap harus ikut ujian ?” Sensei menjawab “Lhoh. Iya, dong. Besok ikut ujian seperti mahasiswa yang lain”. Saya akhirnya pulang dengan perasaan gondok “Gara-gara Mas Farid ini. Memberi saran untuk menghadap sensei, tapi tetap saja harus mengikuti ujian”.

Akhirnya tibalah saat ujian dan setelah itu nilai dibagikan. Sambil berdebar saya lihat nilai. Alhamdulillah, untung saya bisa lulus. Terima kasih sensei. Nasehat, pelajaran, pendidikan, yang engkau berikan adalah salah satu kenangan indah yang saya ingat.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di kuliah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s