Marilah sholat, marilah bersujud

Ketika baru sampai di Tokyo (1990) kami bertemu sempai (senior) di Kokusai Gakuyukai Nihonggo Gakko (sekolah bahasa Jepang di Shinjuku). Tiba saatnya sholat Dluhur, saya mencari tempat untuk sholat. Saya tanya ke mbak-nya, di mana saya bisa sholat. Beliau minta saya berani tanya langsung “sumimasen, oinori shitai no desu ga, aite iru heya wa arimasenka ?” (maaf, saya ingin berdoa/ibadah. Apakah ada ruangan kosong yang bisa saya pakai untuk sholat). Sambil agak grogi saya ketemu staf Jepang, dan menanyakannya. Alhamdulillah, diberitahu ruangan yang bisa dipakai. Pelajaran bahasa Jepang pertama bagi saya : mencari ruangan sholat. Setelah itu, kami biasa melakukan sholat di tempat kosong yang kebetulan bisa dipakai.

Pada saat kuliah, begitu juga. Saya tidak perlu tanya lagi, melainkan mencari sendiri tempat sholat. Di sela-sela istirahat sore (sekitar waktu Asar), saya segera wudlu dan naik ke lantai atas dan melakukan sholat di luar. Karena kena udara langsung, kalau musim dingin tentu saja sangat dingin, apalagi kalau udara bertiup.
Pernah juga saya melakukan sholat saat praktikum. Saya mendekati sensei yang menjadi pengawas, kemudian minta izin sholat di situ. Beliau mengizinkan sehingga saya bisa sholat dengan mudah. Sepertinya sambil melihat, apa yang saya lakukan. Karena budaya Islam belum terlalu dikenal oleh masyarakat Jepang pada umumnya.
Saya pernah juga melakukan sholat di rumah makan. Ketika itu dengan pacar saya, kami makan -kalau tidak salah- di MacD. Saya wudlu, kemudian kembali ke meja makan dan sholat. Saya minta pacar saya menutupi badan saya, agar tidak terlihat oleh orang lain. Alhamdulillah, belakangan hari pacar saya mau saya nikahi, jadi emaknya alya tika. Moral of the story : ajaklah pacar untuk makan di resto, kemudian uji keberanian anda dengan melakukan sholat di sebelahnya. Insya Allah bersedia diajak nikah =D

Oh ya, satu hal yang perlu dicatat, budaya di Jepang memakai toilet kering. Jadi kalau wudlu, jangan sampai mengotori lantai. Air pakailah sedikit saja. Nabi kalau wudlu juga dengan air yang sangat hemat, satu mud. Dalam hadits disebutkan : “Dan dari Anas bin Malik, ia berkata: biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan (air) satu mud, dan mandi dengan (air) satu sha’ sampai lima mud.” [Muttafaq ‘alaih] Saya berulang kali berfikir, bagaimana prakteknya bisa mencukupkan satu mud, ukuran 2 telapak tangan penuh. Sepertinya dengan memakai sedikit air, kemudian diusap dan diratakan. Yang jelas bukan dengan memboroskan air sampai kemana-mana, walaupun kita kaya akan air. Kemudian giliran membasuh kaki, biasanya saya ambil sedikit air dalam gelas kertas. Kemudian masuk ke dalam toilet dan membasuh air dan meratakannya. Jadi air masuk lubang toilet langsung, tidak memercik kemana-mana. Toilet tetap kering dan bersih. Cara yang ekstrim dan mengundang masalah : cuci kaki di wastafel ……. wah, bisa jadi masalah =D

Pernah juga saya sholat Subuh waktu akan ke Nagano. Ketika itu dengan mas Lukman Salim, kami naik kereta dengan tiket seisun juuhachi kippu. Sekitar waktu subuh, kami keluar kereta di suatu stasiun, di tengah udara yang dingin karena salju turun. Apalagi Nagano prefecture saljunya lebat, dekat gunung Fuji. Kami sholat di pinggir stasiun, di tengah dinginnya udara. Kemudian melanjutkan perjalanan kereta ke rumah teman.
Waktu kuliah, saya biasanya sholat di pojok yang sepi. Kalau ketemu teman, saya bilang : “Saya mau berdoa dulu. Saya lihat kamu flu. Saya doakan agar sehat ya” dan kami tertawa.

Setelah bekerja sebagai dosen, saya jadi agak sering dinas ke Tokyo. Sebenarnya bisa naik shinkansen, tetapi saya lebih suka naik kereta donko (kakueki teisha : 各駅停車) yang berhenti di setiap stasiun. Saya biasa berangkat tengah malam dari Kanayama station, dan sekitar pk 04.30 sampai di Tokyo station. Biasanya saya keluar, ambil wudlu dan mencari tempat sepi agar bisa sholat. Pernah suatu saat saya sholat di Tokyo station, tiba-tiba ada bapak-bapak yang tersenyum dan mengacungkan jempol kepada saya. Saya tidak ingat apa yang disampaikan, tapi saya segera bergegas pergi sambil menggerutu karena ketahuan sholat =D

Sholat adalah kewajiban yang harus kita jalankan, dalam kondisi apapun. Tidak perlu malu untuk minta izin menjalankan sholat, karena tidak mengganggu, dan tidak akan merugikan siapapun. Asal minta izinnya dilakukan dengan sopan, mencari tempat yang tidak mengganggu orang lain, terutama menjaga kebersihan saat wudlu. Kalau berada di negara yang menerima budaya Islam seperti negara kita, itu adalah nikmat yang luar biasa.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di japanology, living in Japan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s