Take AI to the New Era

Hari ini saya mengisi seminar yang diselenggarakan oleh Huawei dan Binus. Pembicaranya ada beberapa orang : Pak Hammam Riza (Kepala BPPT), Randal Wang Feng (Huawei), saya dan pak Teguh Prasetya (IoT). Yang saya sampaikan adalah kegiatan litbangjirap di bidang biometrik dan machine learning. Agar lebih fokus, saya beri judul “Biometrics : Research, National Standards and Technical Services”. Ada tiga hal yang saya sampaikan : kegiatan riset di laboratorium biometrik PTIK-BPPT, keterlibatan saya dalam penyusunan standar untuk produk biometrik dengan skema adopsi identik, dan layanan teknologi untuk industri dalam negeri. Skema ketiga paparan tersebut terlihat pada Gambar 1 berikut

Gambar 1 KTP elektronik : dari hulu ke hilir, dari kegiatan litbang hingga layanan bagi masyarakat

Dalam kegiatan penelitian, kami mulai dari memahami cara kerja pengenalan sidik jari, pemanfaatannya untuk proses penunggalan (deduplikasi). Sehingga kami mulai dapat memahami teknologi biometrik yang dipakai oleh para prinsipal. Sedangkan pengembangan standar ini ditujukan untuk pengaturan format penyimpanan titik minutiae sidik jari (titik percabangan dan titik perhentian), yang jumlahnya sekitar 64 titik di sidik jari kita. Kami bekerjasama dengan BSN melakukan adopsi identik terhadap ISO/IEC 19794-2, sehingga akhirnya diterbitkan sebagai SNI ISO/IEC 19794-2. Kebetulan juga dimuat dalam Permendagri No.76 tahun 2020 yang dipakai sebagai dasar pengujian kesesuaian reader KTP elektronik. Sejak tahun 2020, kegiatan litbangjirap kami beralih fokus ke pengenalan wajah.

Gambar 2 Pengaturan format penyimpanan data minutiae sidik jari pada chip KTP elektronik

Saya memberikan paparan sekitar 30 menit. Kemudian di akhir presentasi, saya diminta menyampaikan pertanyaan. Semacam quiz sederhana. Pertanyaan saya : “Apakah ada kemungkinan seseorang kesulitan absensi dengan sidik jari ? Apa sebabnya ? Bagaimana solusinya ?”

Pernyaan ini sederhana, tapi banyak yang menjawab ada juga yang menyambung dengan pertanyaan lanjutan. Jawabannya : bisa saja, seseorang tidak dapat absen dengan sidik jari. Penyebabnya macam2, antara lain jari kotor, luka, dan berbagai kasus yang lain yang menyebabkan jari tidak bisa dikenali. Komentar rekan-rekan antara lain (nama saya hapus):

  • ada kalo jarinya sedang terluka mungkin pak
  • ada luka dijari tangan pak
  • ada kemungkinan karena perubahan struktur kulit dan penuaan ..atau ada luka di tangannya , maka perlu solusi beberapa alternative
  • ada, jari mengalami luka atau basah keringat
  • ada, penyebabnya bias dikarenakan oleh perubahan bentuk sidik jari atau dalam beberapa kasus ada orang yang tidak memiliki sidik jari. dan untuk solusinya bisa menggunakan deteksi wajah, mata, atau suara
  • Bisa tdk terdeteksi, krn jarinya lecet
  • kecelakaan pak pada tangan
  • kulitnya terkelupas
  • mungkin pak, karena sidik jari bisa hilang, atau tidak terdeteksi.. solusinya absensi second pk code
  • solusinya bisa menggunakan wajah atau memasukkan pin
  • ibu hamil
  • cara alternatif dengan jari alternatif yg sebelumnya sudah discan
  • karena biasanya ada bbrp tipe orang (bs dari bbrp profesi) memiliki tipe goat figer ( sidik jari rusak akibat pemakaian sehari2)

Beberapa pertanyaan juga saya terima. Antara lain:

  • Apakah fungsi dari biometric dapat dimanfaatkan untuk masyarakat dari segi lain, misalnya pada saat pemilu, validasi dokumen, validasi pembayaran, dsb?
  • Pak Anto apakah ada dataset standard yang dipublish ? shg bias digunakan utk research lanjutan

Banyak pendapat yang muncul ini membuat saya merasa senang. Artinya audience sudah memahami pentingnya biometrik dan masalah yang mungkin mereka hadapi. Saya juga mendapat masukan dari Pak Teddy Sukardi : pentingnya 1) multi factor authentication dan 2) “exception handling procedures”. Jawaban beliau merangkum hal-hal penting. Yang pertama perlunya pemakaian multi factor untuk otentikasi (bisa berbasis what you have dan what you know), serta pentingnya prosedur untuk menangani kasus-kasus khusus. Jangan sampai biometrik (dalam contoh ini : sidik jari) dianggap sebagai solusi yang sempurna, tanpa memperhitungkan berbagai error yang mungkin terjadi.

Video dapat dilihat di https://www.facebook.com/609231600/videos/10157519444136601/

Related postings

  1. https://asnugroho.wordpress.com/2021/02/14/adermatoglyphia-tidak-memiliki-sidik-jari/
  2. https://asnugroho.wordpress.com/2016/03/17/analisis-jari-karyawan-bppt-yang-kesulitan-absen/
  3. https://asnugroho.wordpress.com/2018/03/29/memahami-kurva-receiver-operating-characteristics-roc-dan-pengujian-biometrik-ktp-elektronik-di-ptik-bppt/

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research, talk & seminars. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s